Puisi: Sepotong Paha Tikus (Karya F. Rahardi)

Puisi “Sepotong Paha Tikus” karya F. Rahardi menyoroti perilaku serakah, licik, dan egois manusia dengan cara yang menggelitik sekaligus mendorong ...
Sepotong Paha Tikus

sepotong paha tikus
kuupetikan ke hadiratmu
        ya tubuh
semoga kau tangkap
        dengan lapang leher
lompatnya yang coklat
cicitnya yang runcing
        maukah kau
    moncongkan mertua
mengendus-endus tetangga

        ya tumit
    kupaketkan salamku
        padamu
    selamat maling

1983

Sumber: Horison (Maret, 1984)

Analisis Puisi:

Puisi “Sepotong Paha Tikus” karya F. Rahardi adalah puisi liris yang bernuansa satir dan sindiran sosial. Dengan penggunaan simbol tikus, penyair menyampaikan kritik yang tajam terhadap perilaku manusia, namun dibungkus dengan bahasa yang unik, imajinatif, dan permainan kata yang cerdas. Meskipun pendek, puisi ini mampu menimbulkan efek humor sekaligus refleksi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik sosial melalui satir dan metafora. Penyair menyoroti perilaku serakah, kepentingan pribadi, dan sifat buruk manusia dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Puisi ini bercerita tentang interaksi simbolis antara manusia dan tikus. Tikus di sini bukan sekadar hewan, tetapi menjadi lambang sifat buruk manusia—mencuri, mengendus, dan mengambil hak orang lain.

Larik-larik puisi menggambarkan bagaimana penyair “menawarkan” paha tikus kepada tubuh dan tumit, seolah-olah menjadi persembahan atau sindiran yang terselubung. Perilaku tikus—lompat, mencicit, mengendus tetangga—diibaratkan sebagai perilaku manusia yang egois atau manipulatif. Larik penutup, “selamat maling,” menegaskan nada satir dan kritik sosial puisi ini.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia sering bertindak serakah dan oportunis, mengincar keuntungan orang lain tanpa rasa malu. Tikus menjadi metafora yang menyindir sifat manusia yang licik dan egois.

Selain itu, puisi ini menunjukkan kecerdikan penyair dalam menyampaikan kritik secara implisit: meski bernuansa humor, pesan moral tetap tersampaikan dengan kuat.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi ini terasa jenaka, sarkastik, dan sinis. Ada humor dalam deskripsi tikus, tetapi juga ada ketegangan sosial karena sindiran diarahkan pada perilaku manusia. Gabungan antara lucu dan satir menciptakan nuansa unik yang menjadi ciri khas F. Rahardi.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa manusia perlu introspeksi terhadap sifat serakah dan egoisnya. Sindiran yang dibalut humor mengajak pembaca menyadari tingkah laku sosial yang merugikan orang lain, sekaligus mengingatkan akan pentingnya kejujuran dan etika.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji visual, pendengaran, dan taktil, antara lain:
  • “lompatnya yang coklat” → imaji visual gerakan tikus,
  • “cicitnya yang runcing” → imaji pendengaran suara tikus,
  • “moncongkan mertua, mengendus-endus tetangga” → imaji gerak dan indera penciuman, yang menegaskan sifat tikus sebagai simbol manusia licik.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, pada tikus yang menjadi lambang sifat manusia egois dan licik.
  • Personifikasi, pada tikus yang melakukan tindakan manusiawi: “mengendus-endus tetangga.”
  • Ironi / satire, terlihat pada larik penutup “selamat maling,” yang menyindir perilaku tercela manusia dengan nada humor.
Puisi “Sepotong Paha Tikus” karya F. Rahardi adalah contoh cerdas puisi liris yang menggabungkan humor, satire, dan kritik sosial. Melalui tikus sebagai simbol, penyair menyoroti perilaku serakah, licik, dan egois manusia dengan cara yang menggelitik sekaligus mendorong refleksi. Puisi ini menunjukkan bahwa kritik sosial dapat disampaikan secara ringan namun tetap tajam, memanfaatkan imaji, metafora, dan permainan kata untuk meninggalkan kesan mendalam pada pembaca.

Floribertus Rahardi
Puisi: Sepotong Paha Tikus
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.