Sesaji di Bawah Pohon Manilkara Kauki
Semalam seorang perempuan muda
meletakkan kembang telon, sebongkah kemenyan
rokok, susur, dan sekeping limaratusan
dengan sembunyi-sembunyi
di bawah pohon Manilkara kauki
di simpang jalan arah masa depan yang sunyi
"Aku lahir dari pohon ini." Bisiknya
lebih tolol dari boneka
dan memang sangat bisa
karena ia bukan siapa-siapa
"Kalian percaya, aku manusia?"
Tiba-tiba ia bertanya
sapu tangannya mengucak mata
orang-orang tak bergumam
suntuk menyaksikan pergelaran sandiwara
Sebelum pergi kubuat namanya dalam hati
Si Wengi, karena hidupnya lengkap terbenam
sama dengan bulan bintang di malam hari
tak pernah menemukan pagi
di kampung halaman yang bukan miliknya lagi
2008
Sumber: Ziarah Tanah Jawa (2013)
Catatan:
- Manilkara kauki adalah nama latin pohon sawo kecik.
- Kembang telon adalah tiga jenis bunga: mawar, kantil, dan kenanga, yang menjadi syarat sesaji upacara ritual tertentu.
Analisis Puisi:
Puisi "Sesaji di Bawah Pohon Manilkara Kauki" menghadirkan potret getir tentang manusia yang terpinggirkan, dibingkai melalui simbol-simbol ritual Jawa yang sarat makna. Kehadiran pohon sawo kecik (Manilkara kauki) dan kembang telon—unsur penting dalam laku sesaji—menjadi pintu masuk untuk membaca persoalan identitas, kepercayaan, dan keterasingan di persimpangan hidup modern.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keterasingan identitas dan marginalisasi manusia dalam bingkai tradisi dan kepercayaan. Tema lain yang menyertainya ialah ritual sebagai bahasa batin, serta konflik antara keberadaan diri dan penyangkalan sosial.
Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan muda yang diam-diam meletakkan sesaji—kembang telon, kemenyan, rokok, susur, dan uang—di bawah pohon Manilkara kauki, tepat di simpang jalan “arah masa depan yang sunyi”. Tindakannya disertai bisikan tentang asal-usul diri (“Aku lahir dari pohon ini”) dan pertanyaan getir kepada khalayak: apakah ia masih dianggap manusia. Orang-orang hadir sebagai penonton pasif, menyaksikan “pergelaran sandiwara” tanpa empati.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa ritual menjadi tempat terakhir bagi mereka yang tak diakui oleh struktur sosial. Klaim kelahiran dari pohon bukanlah kebodohan literal, melainkan metafora tentang tercerabutnya identitas manusia—ketika silsilah, rumah, dan masa depan dirampas atau diingkari. Sosok “Si Wengi” menegaskan nasib yang “terbenam”, hidup dalam malam panjang tanpa tampak pagi.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa muram, getir, dan ironis. Kesunyian, sembunyi-sembunyi, dan sikap orang-orang yang “tak bergumam” membangun atmosfer keterasingan yang dingin dan menekan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan pesan agar masyarakat tidak abai terhadap manusia yang tersisih, serta mengingatkan bahwa menghakimi kepercayaan dan laku ritual tanpa empati hanya memperdalam luka sosial. Di sisi lain, puisi ini juga mengajak pembaca memahami ritual sebagai bahasa terakhir martabat manusia ketika saluran lain tertutup.
Puisi "Sesaji di Bawah Pohon Manilkara Kauki" karya Iman Budhi Santosa adalah cermin tajam tentang nasib manusia yang kehilangan pijakan di tanahnya sendiri. Melalui simbol-simbol ritual Jawa—sawo kecik dan kembang telon—penyair merangkai kritik sosial yang sunyi namun menghunjam. Puisi ini mengingatkan bahwa di balik laku yang kerap dicap aneh atau irasional, sering bersemayam jeritan identitas yang tak lagi punya rumah.
Biodata Iman Budhi Santosa:
- Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
- Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
