Puisi: Setiap Kali (Karya Arifin C. Noer)

Puisi “Setiap Kali” karya Arifin C. Noer bercerita tentang pengalaman batin manusia setiap kali berada pada “puncak”—baik puncak fisik maupun ...
Setiap Kali

Setiap kali kuangkat diriku pada puncak perbukitan yang paling tinggi
atau pada suatu puncak gedung yang paling tinggi
kita selalu berfikir dengan fikiran yang tenang
dan tahu hakekat dari segala hakekat yang telah menipu kita
setelah selama beberapa saat bergelimang dan bergumul
bersama barang-barang yang fana itu

Puncak dari segala soal: Diakah atau Akukah?

Mimpi-mimpi kita sendiri telah bisa menerobos tembok yang paling tebal sekalipun
sehingga seringkali apa yang kita pandang adalah apa yang sukar dapat dipegang
kadang daripadanya kita beroleh kesombongan dan perasaan bangga sebagai insan
atau terperanjat jatuh tatkala satu soal kecil sukar terpecahkan

Kita pun lalu bertanya: Diakah atau Akukah?

Dari sini aku bisa melihat lampu-lampu kecil warna-warni
Balon-balon yang bergantungan dalam ruang terasa seperti tengah kupermainkan lagi
Bunyi-bunyi dan cahaya mengisi dan memadatkan
Musik dan naluri, bertebaran bersama angin malam
Ah, kehidupan selamanya pesta
yang selalu ditakutkan segala akhirnya
Dimana balon-balon akan mengempis dan
bergoyang-goyang dengan lagu sepi tanpa suara

Di sini, di puncak ini, kita bertanya: Siapakah penipunya?

Sumber: Horison (Desember, 1966)

Analisis Puisi:

Puisi “Setiap Kali” karya Arifin C. Noer menghadirkan perenungan eksistensial yang khas: kegelisahan manusia ketika berhadapan dengan kesadaran diri, kebenaran, dan tipu daya kehidupan. Melalui simbol ketinggian—puncak bukit dan gedung—penyair mengajak pembaca melihat dunia dari jarak tertentu, tempat pertanyaan-pertanyaan paling mendasar justru muncul dengan lebih jernih.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian jati diri dan kesadaran eksistensial manusia. Arifin C. Noer menyoroti pertanyaan mendasar tentang siapa yang sesungguhnya mengendalikan hidup: diri sendiri atau sesuatu di luar diri. Tema ini berkaitan erat dengan kritik terhadap ilusi, kesombongan, serta keterikatan manusia pada hal-hal yang fana.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin manusia setiap kali berada pada “puncak”—baik puncak fisik maupun puncak kesadaran. Dari ketinggian itu, manusia merasa lebih tenang, mampu melihat hakekat hidup, dan menyadari bahwa selama ini ia terjebak dalam tipu daya benda-benda duniawi. Namun, kesadaran itu tidak selalu membawa kepastian. Justru di sanalah muncul pertanyaan berulang: “Diakah atau Akukah?”—sebuah keraguan antara kehendak diri dan kekuatan lain yang mempengaruhi kehidupan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa kesadaran manusia bersifat rapuh. Ketika berhasil menembus “tembok paling tebal” melalui mimpi dan imajinasi, manusia bisa terjebak dalam kesombongan. Sebaliknya, ia juga dapat jatuh dan terperanjat hanya karena persoalan kecil. Puisi ini menyiratkan bahwa kehidupan sering kali menipu bukan karena kebohongan eksternal semata, melainkan karena manusia sendiri mudah terbuai oleh ilusi dan rasa bangga semu.

Pertanyaan “Siapakah penipunya?” di bagian akhir puisi menegaskan bahwa penipu itu bisa jadi bukan dunia, melainkan manusia itu sendiri.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung kontemplatif dan reflektif, dengan nuansa kegelisahan filosofis. Ada ketenangan ketika berada di puncak, tetapi ketenangan itu segera berubah menjadi kecemasan eksistensial saat pertanyaan-pertanyaan besar muncul tanpa jawaban pasti.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk bersikap rendah hati dan sadar diri. Manusia diingatkan agar tidak mudah larut dalam kesombongan intelektual maupun ilusi kehidupan yang tampak seperti pesta. Kesadaran sejati bukan terletak pada merasa “paling tahu”, melainkan pada keberanian mempertanyakan diri sendiri secara jujur.

Puisi “Setiap Kali” karya Arifin C. Noer merupakan refleksi mendalam tentang kesadaran, ilusi, dan pertanyaan eksistensial manusia. Dengan bahasa yang sederhana namun sarat simbol, puisi ini mengajak pembaca untuk menengok ke dalam diri, mempertanyakan sumber tipu daya hidup, dan menyadari bahwa jawaban paling jujur sering kali terletak pada keberanian mengakui keterbatasan diri sendiri.

Puisi Arifin C. Noer
Puisi: Setiap Kali
Karya: Arifin C. Noer

Biodata Arifin C. Noer:
  • Arifin C. Noer (nama lengkapnya adalah Arifin Chairin Noer) lahir pada tanggal 10 Maret 1941 di kota Cirebon, Jawa Barat.
  • Arifin C. Noer meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 1995 di Jakarta.
  • Arifin C. Noer adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.