Puisi: Siang di MA (Karya P. Sengodjo)

Puisi “Siang di MA” karya P. Sengodjo menggambarkan ruang kelas bukan sebagai tempat logika murni, melainkan arena pertemuan antara geometri dan ...
Siang di MA

Atur garis potong ini —
transversal namanya, kau tahu!?
dan lekas beri nama!
titik berbau sedap malam
lalat sopan di bidang datar
nyanyi tabu
dan kilauan harapan

lihat mata itu?
lho, menanti dan melambai
kemarin malam berjumpa lagi
lingkaran penuh gaya
di sini titik pusat: P
dan ini apothema: a

busur: b
ya, ya, kita tarik garis tolong
(ingat, nasinya tidak enak!)
(mana kenangan yang lalu?)
(ada kenalan lain — Boleh?)

mana lis dan bung karto?
lupa lagi sedang di jalan?
o, ya, maaf kawan
soal ini belum selesai
dan uraiannya tidak ada.

Sumber: Zenith (April, 1952)

Analisis Puisi:

Puisi “Siang di MA” menghadirkan pengalaman ruang kelas yang unik: antara pelajaran geometri dan dunia batin remaja yang mengembara. P. Sengodjo memadukan istilah matematika dengan fragmen percakapan, kenangan, dan asosiasi bebas yang terasa spontan. Hasilnya adalah potret siang hari di Madrasah Aliyah (MA) yang tidak hanya literal, tetapi juga psikologis—tentang pikiran yang mengembara saat pelajaran berlangsung.

tema

Tema utama puisi ini adalah keterbelahan perhatian remaja di ruang kelas, khususnya saat pelajaran berlangsung. Di satu sisi ada tuntutan rasional (geometri: garis, titik, busur, apotema), di sisi lain ada dorongan emosional dan sosial (kenangan, teman, percakapan, rasa bosan). Puisi ini mengangkat tema pendidikan sebagai pengalaman batin, bukan sekadar kegiatan akademik.

Tema lain yang menyertai:
  • Pengalaman belajar yang kering dan formal.
  • Kegelisahan atau kebosanan siswa.
  • Pertemuan dunia logika dan imajinasi.
Puisi ini bercerita tentang suasana siang hari di kelas Madrasah Aliyah saat pelajaran geometri berlangsung. Guru atau situasi pembelajaran tampak melalui istilah matematika seperti “transversal”, “titik pusat”, “apotema”, dan “busur”. Namun, di sela-sela itu muncul percakapan acak, ingatan, dan pikiran yang melompat:
  • Siswa memikirkan bau bunga sedap malam.
  • Mengingat pertemuan semalam.
  • Memikirkan makanan (“nasinya tidak enak”).
  • Memikirkan kenalan lain.
  • Menyebut nama teman (“lis dan bung karto”).
Alur kesadaran ini menunjukkan pikiran siswa yang tidak fokus pada pelajaran. Pada akhir puisi, pelajaran “belum selesai” dan “uraiannya tidak ada”, menegaskan bahwa pemahaman tidak tercapai—baik secara akademik maupun batin.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik halus terhadap pengalaman belajar yang tidak menyentuh kehidupan batin siswa. Geometri tampil sebagai bahasa kaku dan abstrak, sementara pikiran siswa bergerak pada pengalaman konkret: bau, kenangan, relasi sosial, dan rasa lapar.

Puisi ini juga menyiratkan:
  • Pendidikan formal sering terputus dari realitas siswa.
  • Perhatian manusia sulit dikontrol oleh struktur rasional.
  • Masa remaja dipenuhi distraksi emosional.
Baris akhir “soal ini belum selesai / dan uraiannya tidak ada” dapat dimaknai sebagai simbol bahwa proses memahami kehidupan remaja juga belum selesai dan tidak punya rumus pasti.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dalam puisi adalah riuh batin yang setengah bosan, setengah melamun. Tidak ada ketegangan dramatis; yang ada justru suasana kelas yang biasa tetapi penuh lintasan pikiran acak. Nuansanya ringan, sedikit jenaka, namun juga getir—karena menunjukkan kegagalan fokus.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa pembelajaran yang bermakna harus menyentuh pengalaman hidup peserta didik. Jika tidak, pelajaran hanya menjadi simbol kosong yang tidak benar-benar dipahami. Puisi ini mengingatkan bahwa manusia—terutama remaja—tidak bisa dipaksa sepenuhnya berada dalam kerangka rasional tanpa ruang bagi emosi dan pengalaman pribadi.

Puisi “Siang di MA” menggambarkan ruang kelas bukan sebagai tempat logika murni, melainkan arena pertemuan antara geometri dan gejolak batin remaja. P. Sengodjo menunjukkan bahwa perhatian manusia tidak linear seperti garis, tidak teratur seperti busur, dan tidak stabil seperti titik pusat. Karena itu, puisi ini menjadi potret pengalaman belajar yang sangat manusiawi: pelajaran berjalan, tetapi pikiran berkelana—dan soal kehidupan tetap belum selesai.

Puisi: Siang di MA
Puisi: Siang di MA
Karya: P. Sengodjo

Biodata P. Sengodjo:
  • P. Sengodjo (nama sebenarnya adalah Suripman) lahir di Desa Gatak, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, pada tanggal 25 November 1926.
  • Dalam dunia sastra, Suripman suka menggunakan nama samaran. Kalau menulis puisi atau sajak, ia menggunakan nama kakeknya, yaitu Prawiro Sengodjo (kemudian disingkat menjadi P. Sengodjo). Kalau menulis esai atau prosa, ia menggunakan nama aslinya, yaitu Suripman. Kalau menulis cerpen, ia juga sering menggunakan nama aslinya Suripman, tapi kadang-kadang menggunakan nama samaran Sengkuni (nama tokoh pewayangan).
© Sepenuhnya. All rights reserved.