Puisi: Siang di Pekarangan (Karya Frans Nadjira)

Puisi "Siang di Pekarangan" bercerita tentang suasana siang di sebuah pekarangan yang sunyi. Lengang menyelinap di sela bayang daun, seekor kumbang ..
Siang di Pekarangan

Lengang menyelinap
    di antara bayang-bayang
        ketiak daun

seekor kumbang kelapa
    menyeret dirinya
        di atas pasir

desir tiba-tiba

sesuatu yang asing
        mengintai
di antara kuning pepohonan

        Saatnya!

siapa terisak

        aku angin kering
        yang bertiup dari arah matahari.

Sumber: Horison (Februari, 1973)

Analisis Puisi:

Puisi "Siang di Pekarangan" menghadirkan potret alam yang sangat minimalis namun sarat getaran batin. Frans Nadjira menggunakan larik-larik pendek, jeda, dan ruang kosong untuk menciptakan pengalaman membaca yang hening, seolah pembaca diajak berdiri diam di sebuah pekarangan pada siang hari yang lengang. Dalam kesederhanaannya, puisi ini menyimpan ketegangan halus antara keheningan, gerak kecil, dan kesadaran akan sesuatu yang tak kasatmata.

Tema

Tema puisi ini berkisar pada kesunyian, keterasingan, dan kesadaran diri di tengah alam. Siang hari yang biasanya identik dengan aktivitas justru digambarkan sebagai ruang lengang, tempat makhluk hidup dan elemen alam bergerak perlahan dalam kesepian.

Puisi ini bercerita tentang suasana siang di sebuah pekarangan yang sunyi. Lengang menyelinap di sela bayang daun, seekor kumbang kelapa bergerak tertatih di atas pasir, lalu muncul desir dan rasa asing yang mengintai di antara warna kuning pepohonan. Di penghujung puisi, suara “aku” hadir sebagai angin kering yang bertiup dari arah matahari, menegaskan kehadiran subjek lirik yang menyatu dengan alam.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini dapat dibaca sebagai refleksi tentang keberadaan dan kesadaran. Gerak kumbang yang menyeret diri, lengang yang “menyelinap”, serta sesuatu yang asing yang mengintai, menyiratkan rapuhnya kehidupan dan perasaan terasing yang muncul bahkan di ruang yang akrab seperti pekarangan. Pernyataan “aku angin kering” menandakan identitas yang cair: manusia atau kesadaran yang melebur menjadi bagian dari alam itu sendiri.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa sunyi, kering, dan agak mencekam secara halus. Tidak ada ledakan emosi, melainkan ketegangan yang tumbuh dari diam, dari gerak kecil, dan dari kehadiran sesuatu yang tidak sepenuhnya terjelaskan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi dapat dipahami sebagai ajakan untuk peka terhadap hal-hal kecil di sekitar dan di dalam diri. Kesunyian bukan kekosongan, melainkan ruang di mana kesadaran, kegelisahan, dan keberadaan diri bisa muncul dan dikenali.

Puisi "Siang di Pekarangan" adalah puisi yang tidak ramai kata, tetapi kaya makna. Frans Nadjira memperlihatkan bahwa dari kesunyian dan gerak yang nyaris tak terlihat, puisi dapat menghadirkan perenungan mendalam tentang hidup, keterasingan, dan hubungan manusia dengan alam.

Frans Nadjira
Puisi: Siang di Pekarangan
Karya: Frans Nadjira

Biodata Frans Nadjira:
  1. Frans Nadjira lahir pada tanggal 3 September 1942 di Makassar, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.