Simfoni
"Inilah hari terakhir kenangan muram dan dendam".
dari jalan raya terdengar seru menembus tiap jendela
(Waktu itu
baru saja kudengar gagak penghabisan tertembak mati
sayapnya patah, kepalanya pecah, terbanting ketika
ia jatuh dekat sarangnya. Dan sehabis jeritan terakhir
dentuman senjata terhenti. Berganti dengan desau
sayap malam yang terkatup. Kemudian fajar datang
memulihkan warna rumputan, embun bangun
menyongsong cahaya Matahari:
Pagi di Timur bangkit begitu cerah)
"Inilah awal masa gemilang yang sudah lama dinantikan",
dari jalan raya terdengar seta menembus tiap jendela
Khalayak bergegas
Merasa sudah jauh tertinggal. Sampai ....
di antara orang banyak mulai tersebar desas-desus
Ada yang berbisik sambil menyusuri gang-gang
Berkabar dari pintu lewat jalan-jalan berlumpur
"Gelas nasib tempat minum bersama sudah dipecahkan",
dari kegelapan terdengar seru bersahutan
sepanjang senja langit kuning, topan menderu dari Utara
Malam menggigil, subuh berkabut menutupi fajar
Dan ketika kata-kata perpisahan mereka ucapkan
terdengar ada dahan yang patah. Dalam gemuruh angin
antara senja dan pagi, terasa, bahasa mereka sudah berubah
"Kata bukan sabda
bila setia tak lestari
cinta lepas dari puisi".
1982
Sumber: Horison (Oktober, 1982)
Analisis Puisi:
Puisi “Simfoni” karya Leon Agusta merupakan sajak yang memadukan suasana politis, simbolik, dan reflektif dalam satu rangkaian peristiwa yang bergerak dari harapan menuju kegelisahan. Sebagaimana judulnya, puisi ini seperti komposisi musik: ada pembukaan yang heroik, bagian tengah yang dramatis, dan penutup yang kontemplatif.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perubahan zaman dan rapuhnya janji-janji kolektif. Puisi ini berbicara tentang peralihan dari masa kelam menuju harapan baru, namun harapan itu ternyata dibayangi keretakan, kabar burung, dan perubahan nilai.
Selain itu, puisi ini juga menyentuh tema kekuasaan, propaganda, serta kekecewaan sosial terhadap realitas yang tak sesuai dengan janji awal.
Puisi ini bercerita tentang sebuah momentum perubahan besar yang diumumkan dengan penuh semangat: “Inilah hari terakhir kenangan muram dan dendam” dan “Inilah awal masa gemilang yang sudah lama dinantikan.” Seruan-seruan itu terdengar dari jalan raya, menembus jendela-jendela rumah, seolah menjadi pengumuman resmi tentang datangnya era baru.
Di sela-sela itu, penyair menyisipkan adegan simbolik: gagak terakhir tertembak mati, dentuman senjata berhenti, malam berganti fajar yang cerah. Gambaran ini memberi kesan bahwa kekerasan atau masa kelam telah berakhir.
Namun suasana berubah ketika desas-desus mulai tersebar. Bisikan menjalar dari gang ke gang, dari pintu ke pintu. “Gelas nasib tempat minum bersama sudah dipecahkan” menjadi metafora perpecahan. Alam pun ikut berubah: topan menderu, malam menggigil, bahasa mereka berubah.
Puisi berakhir dengan renungan: “Kata bukan sabda / bila setia tak lestari / cinta lepas dari puisi.” Ini menjadi simpulan filosofis tentang makna kata, kesetiaan, dan cinta.
Makna Tersirat
Puisi ini sangat kuat dalam ranah sosial-politik. Seruan tentang “masa gemilang” dapat dibaca sebagai simbol propaganda atau janji perubahan yang diumumkan kepada rakyat. Kematian gagak dan berhentinya tembakan melambangkan akhir rezim lama atau kekerasan.
Namun desas-desus dan pecahnya “gelas nasib” menunjukkan bahwa persatuan yang dijanjikan ternyata retak. Perubahan tidak serta-merta menghadirkan harmoni; justru muncul kecurigaan, perpecahan, dan perubahan bahasa—simbol berubahnya nilai dan makna.
Bagian akhir menegaskan bahwa kata-kata besar (janji, slogan, seruan) tidak akan bermakna jika tidak disertai kesetiaan dan ketulusan. Puisi ini seolah menyindir bahwa perubahan tanpa integritas hanya akan melahirkan kekosongan makna.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi bergerak dinamis.
- Awalnya penuh harapan dan optimisme.
- Lalu berubah menjadi dramatis dan tegang.
- Kemudian menghadirkan kegelisahan dan kecurigaan.
- Di akhir, suasana menjadi reflektif dan filosofis.
Perubahan suasana ini menyerupai gerakan dalam sebuah simfoni musik: dari nada mayor yang cerah ke nada minor yang muram.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa perubahan sejati tidak cukup diumumkan lewat kata-kata besar. Harapan akan masa gemilang harus disertai kesetiaan, integritas, dan cinta yang lestari.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa masyarakat perlu waspada terhadap janji-janji yang terdengar indah tetapi rapuh dalam praktiknya. Kata-kata akan kehilangan makna jika tidak dihidupi.
Puisi “Simfoni” karya Leon Agusta adalah puisi yang kompleks dan reflektif. Dengan alur yang bergerak dari optimisme menuju kegelisahan, penyair menyusun semacam komposisi emosional yang mengajak pembaca merenungkan arti perubahan, kesetiaan, dan makna kata.
Sebagaimana sebuah simfoni, puisi ini tidak hanya menghadirkan satu nada, melainkan perpaduan bunyi harapan, dentuman konflik, dan bisikan kekecewaan—hingga akhirnya menyisakan renungan mendalam tentang makna kesetiaan dan cinta dalam kehidupan bersama.
Puisi: Simfoni
Karya: Leon Agusta
Biodata Leon Agusta:
- Leon Agusta (Ridwan Ilyas Sutan Badaro) lahir pada tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatra Barat.
- Leon Agusta meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2015 (pada umur 77) di Padang, Sumatra Barat.
- Leon Agusta adalah salah satu Sastrawan Angkatan 70-an.