Puisi: Sore (Karya Ook Nugroho)

Puisi “Sore” karya Ook Nugroho mengajak pembaca merenungkan kesementaraan hidup dan keterbatasan manusia dalam menghadapi waktu yang terus berjalan.
Sore

Sore telah jadi redup
Di luar tahu kita. Ada mendung
Menggantung pada sisa barisnya
Ada angin dan murung
Berkabar lewat pohon-pohon
Dan cericit burung gereja
Pada atap yang jauh seakan sepakat
Tentang akhir yang mendekat
Yang luput tercatat dalam sajak ini
Hari telah jadi surut. Sebuah bab
Diam-diam bersiap menutup kisahnya
Di luar tahu kita

Analisis Puisi:

Puisi “Sore” karya Ook Nugroho adalah puisi yang pendek namun sarat dengan atmosfer melankolis dan reflektif. Melalui bahasa yang puitis dan citraan alam yang kuat, penyair berhasil menghadirkan suasana senja yang penuh makna, sekaligus menyiratkan perjalanan waktu dan akhir dari sebuah kisah.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesementaraan waktu, perpisahan, dan melankolia kehidupan. Puisi ini menekankan bagaimana waktu berjalan tanpa henti, menyisakan kesan muram sekaligus refleksi tentang hal-hal yang tidak selalu tercatat atau terlihat oleh manusia.

Puisi ini bercerita tentang perubahan suasana di sore hari sebagai refleksi kehidupan dan perjalanan waktu. Penyair mengamati:
  • Mendung yang menggantung, angin yang bersenandung, dan cericit burung gereja sebagai simbol alam yang ikut “menyampaikan berita” tentang berlalunya waktu.
  • Peralihan hari yang redup dan surut sebagai metafora dari akhir atau penutupan suatu babak dalam kehidupan.
Secara sederhana, puisi ini menggambarkan momen reflektif ketika sore hari menandai akhir dari sesuatu, baik itu waktu, kisah, atau pengalaman manusia.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah ketidakabadian segala sesuatu dan keterbatasan manusia dalam mencatat atau mengendalikan waktu. Frasa “Yang luput tercatat dalam sajak ini” menekankan bahwa ada banyak hal dalam hidup yang terjadi tanpa tercatat, di luar kesadaran kita, atau hilang begitu saja.

Puisi ini juga menyiratkan keterhubungan antara manusia dengan alam, di mana alam seperti pohon, angin, dan burung menjadi saksi dan pemberi kabar tentang pergeseran waktu.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini muram, tenang, dan reflektif. Redupnya sore, mendung yang menggantung, angin yang murung, dan cericit burung gereja menimbulkan atmosfer yang melankolis, menekankan kesunyian, introspeksi, dan rasa waktu yang terus berjalan. Nada puisi cenderung kontemplatif, memberi ruang bagi pembaca untuk merenung.

Majas

Puisi ini menggunakan beberapa majas, antara lain:
  • Personifikasi, alam diberikan sifat manusiawi, seperti angin dan pohon yang “berkabar” serta burung yang seakan “sepakat tentang akhir yang mendekat.”
  • Metafora, sore hari, mendung, dan surutnya hari menjadi simbol dari berlalunya waktu dan penutupan babak kehidupan.
  • Hiperbola, dalam penggambaran “di luar tahu kita” yang menekankan adanya dunia atau peristiwa yang berlangsung di luar kesadaran manusia.
Puisi “Sore” karya Ook Nugroho adalah puisi yang padat dengan atmosfer reflektif dan melankolis, menghadirkan pengalaman kontemplatif tentang waktu, alam, dan akhir dari setiap kisah. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh citraan, puisi ini mengajak pembaca merenungkan kesementaraan hidup dan keterbatasan manusia dalam menghadapi waktu yang terus berjalan.

Ook Nugroho
Puisi: Sore
Karya: Ook Nugroho

Biodata Ook Nugroho:
  • Ook Nugroho lahir pada tanggal 7 April 1960 di Jakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.