Puisi: Sri Gunting (Karya Piek Ardijanto Soeprijadi)

Puisi “Sri Gunting” karya Piek Ardijanto Soeprijadi bercerita tentang seekor burung srigunting yang berwarna hitam mulus dan manis, tampak gembira ...
Sri Gunting


hitam mulus hitam manis
di pagi cerah di senja gerimis
srigunting gembira
mencari serangga

bila berlompatan di reranting
ekor bergerak serupa gunting
ah betapa liar
hinggap di pagar cuma sebentar

di pagar desa arah utara
ketuklah pintu senja
biar terbuka malam
sekelam bulumu hitam

Sumber: Horison (November, 1971)

Analisis Puisi:

Puisi “Sri Gunting” karya Piek Ardijanto Soeprijadi menghadirkan potret sederhana tentang seekor burung srigunting yang digambarkan dengan penuh kepekaan visual dan rasa. Melalui bahasa yang ringan dan musikal, penyair merekam gerak, warna, dan suasana alam pedesaan, sekaligus menghadirkan lapisan makna simbolik tentang kebebasan dan kedekatan makhluk hidup dengan siklus waktu.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keindahan dan kebebasan alam yang hadir dalam keseharian. Burung srigunting menjadi representasi makhluk liar yang hidup selaras dengan waktu—pagi, senja, dan malam—tanpa beban, bergerak mengikuti naluri alaminya.

Puisi ini bercerita tentang seekor burung srigunting yang berwarna hitam mulus dan manis, tampak gembira mencari serangga. Burung itu melompat-lompat di reranting, menggerakkan ekornya yang menyerupai gunting, lalu hinggap sebentar di pagar desa arah utara. Di titik itu, suasana senja perlahan berubah menuju malam, seolah kehadiran burung tersebut menjadi penanda pergantian waktu.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa alam memiliki ritme dan keindahannya sendiri yang sering luput dari perhatian manusia. Kebebasan burung srigunting mencerminkan kehidupan yang apa adanya, tidak terikat oleh kepentingan atau ambisi. Peralihan dari senja ke malam menyiratkan siklus hidup yang terus berjalan, di mana setiap makhluk memiliki perannya masing-masing dalam harmoni alam.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa tenang, cerah, dan puitik, dengan sentuhan keceriaan di awal dan nuansa hening menjelang malam. Perpaduan pagi cerah, senja gerimis, dan malam gelap menciptakan atmosfer yang lembut dan alami.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk kembali menyadari keindahan sederhana di sekitar kita. Dengan memperhatikan gerak burung, perubahan cahaya, dan suasana desa, manusia diajak untuk lebih peka, tidak tergesa, dan menghargai kehidupan yang bergerak secara alami.

Puisi “Sri Gunting” karya Piek Ardijanto Soeprijadi adalah perayaan kecil atas keindahan alam yang sederhana. Dengan bahasa yang jernih dan imaji yang kuat, puisi ini menegaskan bahwa kebebasan, keceriaan, dan harmoni alam dapat ditemukan dalam peristiwa sehari-hari—bahkan dalam kepakan kecil seekor burung srigunting di pagar desa.

Puisi: Sri Gunting
Puisi: Sri Gunting
Karya: Piek Ardijanto Soeprijadi

Biodata Piek Ardijanto Soeprijadi:
  • Piek Ardijanto Soeprijadi (EyD Piek Ardiyanto Supriyadi) lahir pada tanggal 12 Agustus 1929 di Magetan, Jawa Timur.
  • Piek Ardijanto Soeprijadi meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2001 (pada umur 71 tahun) di Tegal, Jawa Tengah.
  • Piek Ardijanto Soeprijadi adalah salah satu sastrawan angkatan 1966.
© Sepenuhnya. All rights reserved.