Sua
Demi penghargaan rasa batin, ajak aku ketika tatapan beradu untuk saling berbincang
Demi perayaan suka cita, ajak aku ketika sunyi tak terasa jika berdua
Demi waktu yang terus bergulir, tolong jangan ajak aku berjumpa ketika smartphone menerima atensi lebih darimu
Banjarmasin, 24 Februari 2026
Analisis Puisi:
Puisi “Sua” karya Kamilia Salsabila menghadirkan refleksi tentang hubungan manusia di era digital, kesadaran emosional, dan pentingnya perhatian batin. Penyair memadukan unsur modern (smartphone, atensi digital) dengan kebutuhan klasik manusia akan komunikasi, kehadiran, dan keintiman, sehingga puisi ini terasa relevan bagi kehidupan sehari-hari.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehadiran batin dan kualitas interaksi dalam hubungan interpersonal. Puisi juga menyinggung tema konflik antara perhatian digital dan perhatian emosional.
Puisi ini bercerita tentang permintaan seseorang kepada lawan bicara agar interaksi mereka tidak hanya terjadi secara fisik atau formal, tetapi melalui perhatian batin dan kesadaran emosional. Penyair menekankan pentingnya momen tatap muka yang tulus, suka cita saat berdua, dan komitmen terhadap hubungan yang tidak terganggu oleh perhatian pada smartphone atau dunia digital.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini antara lain:
- Kritik terhadap distraksi digital: perhatian yang terbagi antara manusia dan perangkat mengurangi kualitas hubungan.
- Kesadaran emosional: hadir secara penuh dalam interaksi, bukan hanya secara fisik atau rutinitas.
- Perayaan kebersamaan: sukacita dan sunyi terasa berbeda jika hadir bersama secara tulus.
- Komunikasi yang bermakna: tatapan dan percakapan batin lebih penting daripada interaksi dangkal.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi intim, reflektif, dan hangat, tetapi juga diselingi peringatan halus agar perhatian dan kasih sayang tidak tergantikan oleh perangkat digital. Ada rasa kehangatan ketika komunikasi batin terjadi, serta ketegasan saat menekankan batas perhatian.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan pesan bahwa:
- Kehadiran batin lebih berharga daripada sekadar hadir secara fisik.
- Interaksi harus bebas dari gangguan dunia digital untuk menghasilkan kualitas hubungan yang sesungguhnya.
- Kesadaran akan momen bersama penting untuk mempertahankan keintiman dan perayaan suka cita dalam hubungan.
Puisi “Sua” menekankan pentingnya kehadiran batin dalam setiap interaksi, terutama di era modern yang penuh distraksi digital. Kamilia Salsabila mengingatkan bahwa tatap muka, percakapan emosional, dan perhatian penuh lebih bernilai daripada sekadar hadir secara fisik atau terikat pada perangkat. Puisi ini mengajak pembaca menghargai kualitas kebersamaan dan memprioritaskan interaksi manusiawi di tengah arus teknologi yang semakin dominan.
Karya: Kamilia Salsabila
Biodata Kamilia Salsabila:
- Kamilia Salsabila, lahir pada tahun 2002, mulai tertarik menulis puisi semenjak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.