Puisi: Suatu Malam di Honolulu (Karya Mochtar Pabottingi)

Puisi “Suatu Malam di Honolulu” karya Mochtar Pabottingi adalah refleksi tajam tentang wajah pariwisata global dan luka sejarah kolonialisme.
Suatu Malam di Honolulu

Seorang setengah baya
Melantunkan lagu-lagu Hawaii
Dengan gitar. Di sidewalk Waikiki

"Untuk tuan-tuan. Untuk nyonya-nyonya
Untuk tuan-tuan dan nyonya-nyonya!" serunya
Ke segenap turis yang lalu lalang
"Kunyanyikan sendiri
Beberapa lagu hasil piringan hitamku
Dari dua puluh lima tahun lalu."

Di sepanjang deretan stalls penjual accessories
        dan perhiasan-perhiasan emas palsu
        para turis berkulit udang matang mengalir tiada henti
        dengan pakaian-pakaian santai
        dengan bikini atau sekedar handuk terlilit

Mereka menengok sejenak kepada sang penyanyi
Ada yang mengangguk-angguk tersenyum. Ada yang tercenung
Satu-dua melemparkan kepingan-kepingan dimes dan quarters
        yang jatuh di dekat topi tampung

Seorang dengan seragam penjaga Istana Eropa
Melangkah tegap dalam upacara bendera. Di King’s Village
Dengan ayunan-ayunan lincah senapan kuno
Mungkin mengimbau Captain Cook. Yang tewas di sini
Yang ruhnya bangkit kembali. Bersama Hawaii Five-O


Adapun tiga lengkung pelangi
Siang tadi. Di atas Magic Island dan Hanauma Bay
Telah direguk sekali teguk oleh para turis
Bersama Budweiser dan bergelas-gelas anggur
Di selonjoran lidah-lidah pantai. Di balik hotel-hotel mewah
Yang aman dan teduh

Adapun orang-orang Hawaii
Sudah lama tak kuasa membunuh ruh itu
Merekalah yang justru terus terdesak gusur
Pada hari-hari ini
Dari pantai ke pantai. Dari gigir ke gigir
Di tanah sendiri

Astaga!
Pastilah imajinasi gila
Yang meloncatkan ingatanku pada orang-orang Filipina
Dan orang-orang Betawi
Dan tak terhitung mereka. Di seluruh tanahairku

Sudah begitu kelu lidah kita untuk menyebut diri
Dengan nama sendiri.

Honolulu, 1978

Sumber: Dalam Rimba Bayang-Bayang (2003)

Analisis Puisi:

Puisi “Suatu Malam di Honolulu” karya Mochtar Pabottingi adalah potret puitis yang memadukan suasana wisata tropis dengan kritik sosial yang tajam. Melalui latar Waikiki di Honolulu, penyair tidak sekadar menggambarkan keramaian turis dan hiburan jalanan, tetapi juga menyelipkan refleksi tentang kolonialisme, penggusuran identitas, dan keterasingan di tanah sendiri.

Puisi ini bergerak dari adegan sederhana—seorang penyanyi setengah baya di tepi jalan—menuju perenungan historis dan politis yang lebih luas.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterasingan dan penggusuran identitas di tengah pariwisata dan kapitalisme global. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kolonialisme, komersialisasi budaya, dan krisis jati diri bangsa.

Honolulu menjadi simbol ruang wisata eksotis yang tampak indah di permukaan, tetapi menyimpan luka sejarah dan ketidakadilan sosial.

Secara naratif, puisi ini bercerita tentang seorang penyanyi setengah baya yang melantunkan lagu-lagu Hawaii dengan gitar di sidewalk Waikiki. Ia menawarkan lagu-lagunya kepada turis yang lalu-lalang, menyebut bahwa lagu itu pernah direkam dalam piringan hitam dua puluh lima tahun silam.

Di sekelilingnya, para turis berkulit “udang matang” berjalan santai di antara kios aksesori dan perhiasan emas palsu. Beberapa melemparkan koin ke topi sang penyanyi.

Penyair juga menggambarkan sosok penjaga berseragam ala istana Eropa di King’s Village, yang mungkin mengimbau figur historis seperti Captain Cook—penjelajah yang tewas di Hawaii. Bahkan disebut pula serial populer Hawaii Five-O, yang menjadi simbol komodifikasi citra Hawaii dalam budaya populer.

Pada bagian berikutnya, penyair menyinggung pelangi di atas Magic Island dan Hanauma Bay yang “direguk” turis bersama bir dan anggur. Namun di balik hotel-hotel mewah, orang-orang Hawaii justru terusir dari tanah mereka sendiri.

Puisi lalu melompat pada ingatan tentang orang Filipina dan Betawi—sebuah refleksi tentang nasib serupa di tanah air penyair.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap pariwisata global yang menguntungkan pengunjung, tetapi sering merugikan penduduk asli. Penyanyi jalanan menjadi simbol nostalgia dan marginalisasi—ia pernah berjaya, tetapi kini hanya menjadi hiburan bagi turis.

Rujukan pada Captain Cook menyiratkan sejarah kolonialisme yang membuka jalan bagi dominasi budaya asing. Penyebutan Hawaii Five-O memperlihatkan bagaimana budaya lokal direduksi menjadi komoditas hiburan.

Larik tentang orang Hawaii yang “terus terdesak gusur” mengungkap realitas pengusiran dan hilangnya ruang hidup. Ketika penyair mengaitkan dengan Filipina dan Betawi, maknanya meluas: ini bukan hanya tentang Hawaii, melainkan tentang bangsa-bangsa yang kehilangan identitas dan tanahnya sendiri.

Kalimat penutup—“Sudah begitu kelu lidah kita untuk menyebut diri / Dengan nama sendiri”—menjadi refleksi paling tajam tentang krisis identitas dan keberanian menyatakan jati diri.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini bercampur antara riang dan getir. Di satu sisi ada nuansa santai, tropis, dan meriah khas tempat wisata. Namun di sisi lain, terasa getir, ironis, bahkan marah ketika penyair menyadari nasib penduduk asli yang terusir.

Nada kritiknya halus tetapi kuat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya menjaga identitas dan hak atas tanah sendiri. Puisi ini mengingatkan bahwa kemewahan dan hiburan sering kali berdiri di atas sejarah penindasan.

Penyair juga mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap nasib masyarakat lokal di tengah arus globalisasi dan komersialisasi budaya.

Puisi “Suatu Malam di Honolulu” karya Mochtar Pabottingi adalah refleksi tajam tentang wajah pariwisata global dan luka sejarah kolonialisme. Di balik gemerlap Waikiki dan hotel-hotel mewah, tersimpan kisah penggusuran dan krisis identitas.

Melalui potret sederhana seorang penyanyi jalanan, penyair memperluas pandangan kita pada persoalan yang lebih dalam: bagaimana bangsa-bangsa bisa kehilangan ruang hidup dan bahkan kehilangan keberanian untuk menyebut diri dengan nama sendiri.

Mochtar Pabottingi
Puisi: Suatu Malam di Honolulu
Karya: Mochtar Pabottingi

Biodata Mochtar Pabottingi:
  • Mochtar Pabottingi lahir pada tanggal 17 Juli 1945 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.