Sudahlah Kita Lupakan Saja Semua
Sudahlah, kita lupakan saja semua
bajing-bajing yang meloncat-meloncat di pagi hari
bajing-bajing yang berkejaran
bajing-bajing yang berayun di ranting-ranting dan pelepah daun
bajing-bajing yang mengoyak-oyak buah randu
bajing-bajing yang melobangi buah-buah kelapa
bajing-bajing yang kadang berani mengintip-intip rumah kita
bajing-bajing yang berekor indah
bajing-bajing yang menghuni desa kita
Sudahlah, kita lupakan saja semua
dengan diam diri atau membisu
kita berlupa, berlupa saja
jangan mengingat bedil pemburu. Sudahlah ....
Ambarawa, 1976
Sumber: Horison (September, 1979)
Analisis Puisi:
Puisi "Sudahlah Kita Lupakan Saja Semua" karya Bambang Sarwono menghadirkan gambaran alam pedesaan yang sederhana, tetapi menyimpan lapisan makna yang lebih dalam. Melalui pengulangan frasa dan citraan tentang bajing-bajing, penyair seolah mengajak pembaca berhenti sejenak, merenung, dan menimbang kembali sikap manusia terhadap kehidupan di sekitarnya.
Puisi ini tidak hanya bercerita tentang hewan atau suasana pagi di desa, tetapi juga menyiratkan relasi antara manusia, ingatan, dan kekerasan yang kerap hadir secara diam-diam dalam keseharian.
Tema
Tema utama puisi ini dapat dilihat sebagai ajakan untuk melupakan kekerasan dan memilih sikap diam, pasrah, atau berdamai dengan keadaan. Di balik gambaran bajing-bajing yang hidup bebas di alam, terdapat tema tentang kehilangan kepolosan, ancaman terhadap kehidupan, serta keinginan untuk menghindari konflik atau luka yang lebih besar.
Selain itu, tema kemanusiaan dan empati terhadap makhluk hidup juga terasa kuat, terutama ketika puisi diakhiri dengan rujukan pada “bedil pemburu” sebagai simbol ancaman.
Puisi ini bercerita tentang aktivitas bajing-bajing yang hidup di lingkungan desa: meloncat di pagi hari, berkejaran, berayun di ranting, mengoyak buah randu, hingga mengintip rumah manusia. Semua gambaran itu disusun secara repetitif, seolah menegaskan kehadiran mereka sebagai bagian alami dari kehidupan desa.
Namun, cerita itu kemudian berbelok pada sikap manusia yang diajak untuk “melupakan saja semua”, bahkan melupakan ancaman berupa senjata pemburu. Di sinilah puisi tidak lagi sekadar narasi alam, melainkan refleksi tentang sikap batin manusia.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini dapat ditafsirkan sebagai kritik halus terhadap kekerasan yang dilakukan manusia atas nama kebiasaan, kekuasaan, atau kepentingan tertentu. Bajing-bajing bisa dimaknai sebagai simbol kehidupan yang polos, bebas, dan tidak berdaya di hadapan senjata manusia.
Ajakan untuk “melupakan” bukan semata-mata berarti benar-benar lupa, tetapi bisa dibaca sebagai bentuk kelelahan batin, keputusasaan, atau sikap pasif karena ketidakmampuan melawan ancaman. Diam dan membisu menjadi cara bertahan, meski menyimpan rasa takut yang tak terucap.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi cenderung tenang di awal, dengan nuansa pagi dan aktivitas alam yang hidup. Namun, ketenangan itu perlahan berubah menjadi muram dan getir ketika muncul bayangan ancaman “bedil pemburu”. Perpaduan antara keindahan alam dan rasa cemas menciptakan suasana reflektif, seolah pembaca diajak menyadari bahwa ketenangan itu rapuh.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat atau pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya kesadaran manusia terhadap dampak tindakannya, terutama terhadap makhluk lain dan lingkungan. Puisi ini juga dapat dibaca sebagai peringatan bahwa kekerasan, meskipun sering dinormalisasi, selalu meninggalkan jejak ketakutan dan kehilangan.
Selain itu, puisi ini menyampaikan pesan tentang pilihan moral: antara mengingat dan melawan, atau melupakan dan membisu.
Puisi "Sudahlah Kita Lupakan Saja Semua" adalah puisi yang tampak sederhana di permukaan, tetapi menyimpan renungan mendalam tentang hubungan manusia dengan alam, ingatan, dan kekerasan. Bambang Sarwono menyampaikan kritik dan keprihatinan itu dengan bahasa yang tenang, nyaris pasrah, namun justru meninggalkan kesan yang kuat bagi pembaca.
