Sumber: Horison (Maret, 1967)
Analisis Puisi:
Puisi “Sumber” karya Wing Kardjo menampilkan ungkapan duka yang lirih sekaligus reflektif. Melalui citraan alam dan gestur keseharian (matahari, daun, bel, pintu, angin), penyair menghadirkan pengalaman kehilangan yang terasa personal namun tetap terbuka untuk pembacaan universal.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehilangan dan kenangan terhadap sosok yang pernah menjadi sumber keyakinan dan kehidupan batin. Sosok “kau” dalam puisi tampil sebagai pusat energi (sinar, matahari), sehingga kepergiannya memunculkan kehampaan dan perubahan lanskap batin penyair.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terbiasa “mereguk sinar” dari mata orang yang dicintainya—sebuah metafora kedekatan emosional dan ketergantungan batin. Namun sosok itu telah tiada, digambarkan melalui citra daun yang “turun mengubur tubuhmu dengan kelam”.
Pada bagian berikutnya, alam ikut berubah: matahari terbaring, rumput terbakar, langit sunyi. Semua menjadi cermin suasana kehilangan.
Di bagian akhir, muncul adegan domestik: bel berdering, harapan akan kepulangan, pintu dibuka—tetapi hanya angin yang datang. Ini menegaskan bahwa yang ditunggu tidak akan kembali.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini dapat dibaca sebagai berikut:
- Sumber kehidupan batin telah hilang. “Sinar dari matamu” dan “matahari” menunjukkan bahwa sosok “kau” adalah pusat terang bagi penyair.
- Kematian atau perpisahan permanen. Frasa “daun turun mengubur tubuhmu” mengisyaratkan kematian secara simbolik (pemakaman alamiah).
- Kehampaan pascakehilangan. Alam yang sunyi dan angin yang “melengos bisu” menggambarkan dunia yang tetap berjalan tetapi tanpa makna emosional bagi penyair.
- Penolakan realitas. Adegan bel dan pintu memperlihatkan harapan semu—sebuah refleks psikologis orang berduka yang masih menunggu kepulangan.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang terasa kuat adalah muram, sunyi, dan hampa, dengan nuansa elegi (ratapan kehilangan). Perpaduan citraan alam yang redup dan tindakan menunggu tanpa hasil mempertebal kesan sepi.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyiratkan bahwa:
- Manusia sering menggantungkan kekuatan hidupnya pada orang lain.
- Kehilangan membuat dunia terasa berubah, meski secara fisik tetap sama.
- Kenangan dan harapan yang tak terpenuhi adalah bagian alami dari proses duka.
Puisi “Sumber” menghadirkan pengalaman duka melalui simbol-simbol alam yang sederhana namun padat makna. Sosok “kau” sebagai sumber cahaya batin telah hilang, meninggalkan penyair dalam dunia yang sunyi dan tanpa kepastian. Melalui citraan bel, pintu, dan angin di bagian akhir, penyair menegaskan tragedi batin: harapan akan kepulangan hanya berujung kehampaan. Puisi ini menjadi elegi lembut tentang kehilangan sumber kehidupan emosional manusia.
