Puisi: Surat untuk Tegal (Karya Joshua Igho)

Puisi “Surat untuk Tegal” karya Joshua Igho mengingatkan bahwa mencintai kota berarti berani mengingat, mengkritik, dan berharap; serta percaya ...
Surat untuk Tegal

Kutulis surat ini, ketika suaramu
sudah tak dapat kudengar, ketika
langkahku menjauh. Sedangkan suara
paraumu hanya memantul
di dinding-dinding gedung
yang gigil oleh angin malam.
Tapi sungguh, kelak entah kapan,
aku akan datang lagi ke
pantaimu yang (meski muram)
masih menyimpan berlaksa
kenangan yang kusimpan
di ruang ingatan paling dalam.

Lampu-lampu kota yang terpasang
di setiap sudutnya sungguh
menyilaukan mata, seolah-olah
ingin berceloteh tentang
ambisi para penguasa. Aku hanya
terpaku mendengar ceracaunya
sembari menyeruput teh
di lesehan Yanti, depan Pasar Pagi.
Semua sudah mafhum adanya,
rakyat kotamu, di setiap pemilu
kenyang dijejali janji-janji
yang entah seperti apa nanti.

Di Perpustakaan Mr. Besar
kita pernah merancang sebuah
perampokan atas angka-angka
yang mereka susun, sejak di tangan
badan perencanaan pembangunan daerah
sampai badan anggaran.
Kita akan tanggalkan semua
agenda tahunan yang cuma
menghamburkan uang rakyat.
Kita akan bius para pembahas
rancangan peraturan daerah,
dan kita sembunyikan palu sidang.

Di Pendapa Ki Gede Sebayu,
simbol kota paling agung,
sembari menikmati gending
mahakarya dan tarian endel
kita pernah memilin harapan
tentang kota yang praja
yang sejahtera dalam segala.
Sepakat melupakan dosa-dosa
para pejabat yang pernah
berurusan dengan KPK.
Merintis lagi langkah dari awal
demi rakyat bahari.

Sebentar lagi kotamu akan berpesta
memilih sesiapa yang hendak menerima
amanah seluruh warga. Pandangilah
lekat wajah-wajah mereka. Pilih salah
satu yang paling puisi. Niscaya dia akan
memimpin dengan hati.

Magelang, 2018

Analisis Puisi:

Puisi “Surat untuk Tegal” karya Joshua Igho merupakan puisi liris-naratif yang memadukan kerinduan personal dengan kritik sosial-politik. Melalui bentuk surat, penyair berbicara kepada sebuah kota—Tegal—sebagai ruang ingatan, ruang perjuangan, sekaligus ruang harapan. Puisi ini bergerak dari nostalgia menuju kesadaran politik, tanpa kehilangan keintiman emosionalnya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan terhadap kota asal yang berpadu dengan kritik terhadap kekuasaan dan proses politik. Tegal tidak hanya hadir sebagai latar geografis, tetapi juga sebagai simbol relasi batin antara individu, sejarah, dan kehidupan sosial-politik. Tema lain yang menyertai adalah harapan akan kepemimpinan yang berintegritas serta kekecewaan terhadap janji-janji penguasa.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menulis surat kepada kota Tegal dari kejauhan. Ia mengingat pantai, suara perahu, lampu-lampu kota, hingga kebiasaan sederhana seperti menyeruput teh di lesehan depan Pasar Pagi.

Cerita berkembang menjadi kenangan diskusi kritis tentang anggaran, kebijakan daerah, dan mimpi membongkar praktik birokrasi yang koruptif. Kenangan itu berpuncak pada harapan kolektif tentang masa depan kota, terutama menjelang pesta demokrasi pemilihan pemimpin baru.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kerinduan yang bercampur kegelisahan terhadap arah kota dan kepemimpinannya. Penyair menyiratkan bahwa cinta pada kota tidak berhenti pada nostalgia, tetapi juga pada keberanian mengkritik dan membayangkan perubahan.

Gagasan “perampokan atas angka-angka” dan menyembunyikan palu sidang bukanlah ajakan literal, melainkan simbol perlawanan terhadap manipulasi anggaran dan formalitas politik yang melupakan kepentingan rakyat.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung melankolis, reflektif, sekaligus kritis. Ada kerinduan yang lembut pada masa lalu, namun juga kegelisahan yang tajam terhadap realitas politik dan sosial yang dihadapi kota tersebut.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk memilih pemimpin dengan hati nurani dan kesadaran moral. Penyair menegaskan bahwa politik seharusnya tidak sekadar soal ambisi dan janji, melainkan tentang keberpihakan pada rakyat.

Pesan lain yang tersirat adalah bahwa kota dan masa depannya adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya milik para penguasa.

Majas

Beberapa majas yang tampak menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, pada “perampokan angka-angka” sebagai kritik kebijakan anggaran.
  • Ironi, pada janji-janji politik yang “kenyang” dikonsumsi rakyat namun kosong makna.
Puisi “Surat untuk Tegal” karya Joshua Igho adalah puisi yang memadukan cinta dan kritik secara seimbang. Dengan gaya bertutur yang intim namun politis, penyair menempatkan kota sebagai sahabat dialog—tempat menyimpan kenangan sekaligus medan harapan. Puisi ini mengingatkan bahwa mencintai kota berarti berani mengingat, mengkritik, dan berharap; serta percaya bahwa kepemimpinan yang “paling puisi” adalah kepemimpinan yang lahir dari kejujuran dan empati terhadap rakyat.

"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Surat untuk Tegal
Karya: Joshua Igho
© Sepenuhnya. All rights reserved.