Puisi: Tafakur Waktu (Karya Nenden Lilis Aisyah)

Puisi “Tafakur Waktu” karya Nenden Lilis Aisyah bercerita tentang seseorang yang merenungkan penggunaan waktunya. Ia merasa terus berlari dikejar ...
Tafakur Waktu

    - Demi waktu
      Sesungguhnya manusia
      Benar-benar berada dalam kerugian
      …*).

Bagaimanakah kupertanggungjawabkan waktu
Yang pada tiap detiknya aku tak henti berlari
Diburu dunia yang menuntutku

Maka hubungan rakaat shalatku
Adalah hubungan tiang-tiang stasiun sibuk,
Gedung-gedung sepanjang jalan padat,
Dan langkah cepat yang telah letih

Shalatku pun tergesa dan singkat,
Meski hatiku panjang merindu-Mu, Tuhanku

Shalatku pun kering
Tapi bisakah aku
Menjadi daun yang tetap segar
Ketika gugur

2008

Sumber: Maskumambang buat Ibu (Rumput Merah, 2016)
Catatan:
*) Al-Quran Surat Al-Ashr ayat 1 dan 2.

Analisis Puisi:

Puisi “Tafakur Waktu” merupakan puisi religius-reflektif yang berangkat dari kesadaran spiritual atas waktu sebagai amanah Ilahi. Catatan yang merujuk pada Al-Qur'an Surah Al-‘Ashr ayat 1–2 (“Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian”) menjadi landasan teologis puisi ini. Penyair mengaitkan ajaran tersebut dengan pengalaman manusia modern yang sibuk, tergesa, dan sering kehilangan kedalaman ibadah.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pertanggungjawaban manusia terhadap waktu dalam perspektif spiritual. Puisi menyoroti konflik antara tuntutan dunia modern dan kerinduan batin kepada Tuhan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merenungkan penggunaan waktunya. Ia merasa terus berlari dikejar tuntutan dunia, hingga ibadahnya—khususnya shalat—menjadi tergesa, kering, dan kurang khusyuk. Meski demikian, hatinya tetap merindu kepada Tuhan dan mempertanyakan apakah ia masih bisa menjaga kesegaran iman seperti daun yang tetap hijau meski gugur.

Makna Tersirat

Makna tersirat yang muncul antara lain:
  • Kritik terhadap kehidupan modern yang serba cepat: kesibukan membuat manusia lalai pada spiritualitas.
  • Ibadah formal vs kedalaman batin: shalat dilakukan, tetapi terasa kering karena tergesa.
  • Kesadaran eskatologis: waktu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
  • Kerinduan spiritual yang tersisa: hati tetap merindu meski praktik ibadah melemah.
  • Harapan pemurnian diri: simbol daun segar menandakan keinginan menjaga iman.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa kontemplatif, gelisah, dan penuh rindu spiritual. Ada rasa bersalah sekaligus harapan akan kedekatan dengan Tuhan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini memberi kesan pesan bahwa:
  • Waktu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara spiritual.
  • Kesibukan dunia tidak boleh mengeringkan kualitas ibadah.
  • Kedekatan dengan Tuhan memerlukan kehadiran hati, bukan sekadar ritual.
  • Manusia perlu menjaga kesegaran iman di tengah kehidupan yang sibuk.
Puisi “Tafakur Waktu” mengaktualkan pesan Surah Al-‘Ashr dalam konteks kehidupan modern: manusia sibuk berlari hingga ibadah kehilangan kedalaman. Nenden Lilis Aisyah menunjukkan bahwa krisis spiritual bukan karena ketiadaan iman, melainkan karena waktu yang tersita dunia. Puisi ini mengajak pembaca menata kembali hubungan dengan waktu dan Tuhan, agar iman tetap segar meski kehidupan terus berlari.

Nenden Lilis Aisyah
Puisi: Tafakur Waktu
Karya: Nenden Lilis Aisyah

Biodata Nenden Lilis Aisyah:
  • Nenden Lilis Aisyah lahir di Malangbong, Garut, Jawa Barat, pada tanggal 26 September 1971.
© Sepenuhnya. All rights reserved.