Puisi: Talqin (Karya Abrar Yusra)

Puisi “Talqin” karya Abrar Yusra bercerita tentang seseorang yang berada dalam kondisi batin sekarat di sebuah “gurun” metaforis. Ia merasakan ...
Talqin

        Makhluk ganjil masa depan itu terkapar sekarat
mengerami samar kilau fatamorgana ruang batinku yang hangus
di gurun, disesah panas berabad-abad: aku mengerang
bahang gurun itu mengisap darah di daging-dagingku!
        Tak ada dokter bagi yang hangus sekarat karena hujan
hanya abu-abu kering berapi hanya angin membe-
rondongkan debu di batu-batu!
        Tapi ada dua orang kumal mencakar-cakar atau
membelai-belai kulit daging waktu, bagian dalam
dadaku, kukira majenun
tapi tidak; dalam debu menghibur atau menangis belaka
        sepanjang waktu! Menghibur atau menangis saja!
        Yang seorang di kiri menggaruk-garukkan kuku sedihnya
pada dagingku yang disangkanya sitar tua, alangkah pedih
sedih yang melampias jadi nyanyian:
        ia bahagia menusuk-nusuk hatiku dengan jarum-jarum sedih!

        Yang seorang di kanan untuk khusyuk tak menyakiti apa-apa
bisik-bisiknya lembut di ruang batinku sebuah lobang
kubur baginya:
        Ia membacakan talqin bagi dunia!
        Mati aku! entah mau tertawa atau menangis
di dunia yang amat tua tapi masih amat menggoda

Jakarta, 21 April 1987

Sumber: Horison (Juli, 1989)

Analisis Puisi:

Puisi “Talqin” menghadirkan lanskap batin yang gersang, panas, dan hampir mati—sebuah dunia eksistensial yang kehilangan harapan. Melalui citraan gurun, luka, dan ritual kematian, penyair menggambarkan manusia modern yang terjebak dalam kehampaan spiritual, namun masih merasakan sisa-sisa emosi dan kesadaran akan kefanaan.

Puisi ini sarat simbol dan metafora religius-eksistensial, terutama melalui kata talqin, yaitu bacaan yang biasanya dibisikkan kepada orang yang menjelang atau setelah kematian. Dalam puisi, talqin menjadi simbol kematian dunia batin manusia atau bahkan kematian dunia itu sendiri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kematian spiritual dan penderitaan batin manusia dalam dunia yang gersang makna. Puisi menyoroti kondisi eksistensial: manusia yang hidup di dunia tua, panas, dan tandus secara rohani, namun masih digoda oleh kehidupan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada dalam kondisi batin sekarat di sebuah “gurun” metaforis. Ia merasakan penderitaan mendalam, seolah darahnya tersedot panas zaman.

Di tengah keadaan itu, muncul dua sosok kumal yang berinteraksi dengan batinnya:
  • Sosok kiri melukai dengan “nyanyian sedih”
  • Sosok kanan membacakan talqin bagi dunia.
Penyair akhirnya berada di ambang: antara hidup dan mati, tertawa dan menangis, di dunia yang sudah tua namun masih menggoda.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyiratkan beberapa pesan:
  • Kehidupan tanpa makna spiritual akan terasa seperti gurun yang menghanguskan.
  • Seni dan religiusitas muncul dari penderitaan manusia.
  • Dunia modern bisa kehilangan jiwa bila hanya mengejar fatamorgana.
  • Kesadaran akan kematian seharusnya menggugah refleksi hidup.
Puisi “Talqin” menggambarkan kondisi manusia yang berada di ambang kematian spiritual dalam dunia yang gersang makna. Melalui simbol gurun, luka, dan ritual talqin, Abrar Yusra menampilkan potret peradaban yang menua sekaligus manusia yang masih terikat godaan hidup. Puisi ini tidak sekadar tentang kematian, tetapi tentang kesadaran tragis manusia: hidup di dunia yang sekarat namun tetap sulit melepaskannya.

Abrar Yusra
Puisi: Talqin
Karya: Abrar Yusra

Biodata Abrar Yusra:
  • Abrar Yusra lahir pada tanggal 28 Maret 1943 di Lawang Matur, Agam, Sumatra Barat.
  • Abrar Yusra meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 2015 di Bogor, Jawa Barat (pada umur 72 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.