Telah Sampai Kita dan Bergegas
Sudah sampaikah kita, ke ruang, berseri wajah
Ketika sengal dada. disentuh-sentuh udara mulai hangat
Di dingin yang sendat, di kaki langit yang mula terdesak
Matahari berayun pandang di muka jendela
Angsoka merekah, serta cerah cuaca
Di jambangan, sisa kembang mawar yang kemarin juga
Pelahan angin, beralun lagu dan puisi
Ketika risau hatimu tak kedengaran lagi
Kemudian kita pun bergegas, di luar meraba rahasia
Bersama sayup hari, bertanya diri sendiri
Dan diam. Dan Tuhan pun dalam pesona
Dalam puisi kita dan padat gema
Dalam bisikan di langit putih
Menghembus-hembus udara yang bersih
Sumber: Horison (Mei, 1969)
Analisis Puisi:
Puisi “Telah Sampai Kita dan Bergegas” karya Abdul Hadi WM menampilkan perenungan lirih tentang perjalanan batin manusia menuju kesadaran spiritual. Dengan bahasa yang lembut dan citraan alam yang tenang, puisi ini bergerak dari momen kehadiran—“telah sampai”—menuju dorongan untuk melangkah—“bergegas”. Perjalanan tersebut bukan semata fisik, melainkan perjalanan kesadaran yang menautkan diri, alam, dan Tuhan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan spiritual dan kesadaran diri manusia dalam kehadiran Ilahi. Puisi menyoroti momen ketika kegelisahan mereda, alam menjadi jernih, dan manusia bersiap melangkah lebih jauh dalam pencarian makna.
Puisi ini bercerita tentang “kita” yang seolah telah tiba di sebuah ruang batin yang berseri. Tubuh dan perasaan mulai lega, udara terasa hangat, dan alam menunjukkan tanda-tanda kehidupan: matahari, bunga angsoka, sisa mawar, angin, lagu, dan puisi. Setelah ketenangan itu hadir, “kita” kemudian bergegas keluar, meraba rahasia kehidupan, bertanya pada diri sendiri, hingga akhirnya menemukan kehadiran Tuhan yang terasa dalam diam, bisikan, dan udara yang bersih.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa pencarian spiritual tidak berhenti pada satu titik kedamaian. Ketika manusia merasa telah “sampai”, justru di sanalah muncul dorongan untuk terus bergerak dan mendalami makna. Tuhan tidak dihadirkan secara gemuruh, melainkan dalam kesunyian, keindahan alam, dan kejernihan batin. Puisi menyiratkan bahwa kesadaran Ilahi hadir ketika manusia mampu diam, peka, dan membuka diri.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa tenang, teduh, dan kontemplatif, dengan nuansa spiritual yang lembut. Kegelisahan perlahan menghilang, digantikan oleh ketenteraman dan rasa syukur yang hening.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk terus menyucikan diri dan kesadaran. Kedamaian batin bukan akhir perjalanan, melainkan awal untuk melangkah lebih jujur, lebih sadar, dan lebih dekat dengan Tuhan melalui kehidupan sehari-hari.
Puisi “Telah Sampai Kita dan Bergegas” karya Abdul Hadi WM adalah puisi perenungan yang menuntun pembaca pada kesadaran spiritual yang lembut dan mendalam. Melalui citraan alam dan bahasa yang tenang, puisi ini menegaskan bahwa Tuhan hadir dalam kejernihan batin, keheningan, dan perjalanan yang terus berlanjut—dalam puisi, dalam hidup, dan dalam napas yang bersih.
Puisi: Telah Sampai Kita dan Bergegas
Karya: Abdul Hadi WM
Biodata Abdul Hadi WM:
- Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
- Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
