Puisi: Tembok-Tembok Berlumut (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi "Tembok-Tembok Berlumut" karya Slamet Sukirnanto bercerita tentang sebuah tempat tua dengan tembok-tembok berlumut yang pernah menjadi pusat ...
Tembok-Tembok Berlumut

Tembok-tembok berlumut
Langit warna-warni sore hari
Tegak berdiri. Bongkahan dan retak
Hati-hati-jangan didepak!
Penghuninya yang dulu
Lama pergi. Kini
Silih berganti
Mak dan cucu
Ada yang bertahan
Menyapu seluas halaman
Di sudut pendopo ia menembang
Tentang kejayaan dan keputusasaan
Sudut taman
Banyak sampah dan semak
Tak ada lagi yang dulu
Yang bersih dan surnilak
Benteng hidup
Yang lain jadi pengembara
Tersebar bagai laba-laba
Di kota-kota besar
Tak tertinggal ngendon di Jakarta
Menjadi pejabat, pengusaha dan sarjana
Kebanyakan nganggur
Tapi makmur! Cendawan atau benalu
Bekicot atau lintah! Langit terasa tinggi
Kau gapai
Anyaman mendung
Tiang listrik yang karatan. Kini
Dengan takzim runduk ke bumi
Miring dibalut sobekan layang-layang

Benang-benang semrawut bergantungan
Serombongan burung-burung kecil
Bertengger di puncak
Tembok-tembok berlumut ini
Dulu aku lewat di sini
Melongok kemegahan
Runtuh
Dihapus keruwetan zaman
Pelan-pelan
tapi tetap saja: Ada
yang diam tergenang
Mandek
Mampet
Selokan. Selokan
Keturunan
Menyusuri lorong-lorong kenangan
Angkasa membias merah padam
Yang redup terus redup
Yang lain jangan diucapkan!

Solo, 1995

Sumber: Gergaji (2001)

Analisis Puisi:

Puisi “Tembok-Tembok Berlumut” menghadirkan potret ruang yang ditinggalkan zaman: sebuah tempat yang pernah jaya, kini perlahan rapuh, dilupakan, dan hanya menyisakan jejak-jejak kenangan. Slamet Sukirnanto memanfaatkan lanskap fisik—tembok, pendopo, taman, dan sudut-sudut kota—sebagai cermin perubahan sosial dan nasib manusia di dalamnya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kemunduran, perubahan zaman, dan keterasingan manusia dari akar sejarahnya. Puisi ini juga memuat tema sosial tentang ketimpangan nasib, pergeseran nilai, serta keberlanjutan hidup yang tidak selalu sejalan dengan kemajuan.

Puisi ini bercerita tentang sebuah tempat tua dengan tembok-tembok berlumut yang pernah menjadi pusat kehidupan dan kejayaan. Penghuninya telah silih berganti: dari generasi lama hingga mak dan cucu. Sebagian bertahan membersihkan halaman dan menembang kenangan, sementara yang lain pergi merantau ke kota-kota besar, termasuk Jakarta, menjadi pejabat, pengusaha, sarjana, atau justru menganggur namun tampak makmur. Di balik itu, ruang lama tersebut kian dipenuhi sampah, semak, dan kerusakan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap modernitas yang menghapus ingatan kolektif dan meninggalkan banyak orang dalam kondisi “mandek” secara sosial maupun moral. Kemajuan yang dijanjikan kota besar tidak selalu membawa keadilan; ada yang tumbuh seperti “cendawan”, ada pula yang hidup seperti “benalu”. Tembok berlumut menjadi simbol sejarah dan nilai lama yang terpinggirkan oleh keruwetan zaman.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana melankolis, sendu, dan reflektif. Ada kesedihan yang tenang, bercampur rasa kehilangan dan kegetiran melihat kejayaan yang runtuh perlahan, bukan oleh ledakan besar, tetapi oleh waktu dan kelalaian.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya menjaga ingatan, sejarah, dan nilai kemanusiaan di tengah arus perubahan. Puisi ini mengingatkan agar kemajuan tidak membuat manusia lupa asal-usulnya, serta mengajak pembaca untuk peka terhadap ketimpangan dan stagnasi yang tersembunyi di balik wajah kemakmuran.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Simile, pada manusia yang “tersebar bagai laba-laba”,
  • Personifikasi, pada tiang listrik yang “runduk ke bumi”,
  • Hiperbola, dalam kontras antara “nganggur / tapi makmur”.
Majas-majas ini memperkuat kritik sosial dan kesan reflektif puisi.

Puisi "Tembok-Tembok Berlumut" karya Slamet Sukirnanto adalah renungan panjang tentang ruang, waktu, dan manusia yang terseret arus perubahan. Dengan bahasa yang padat imaji dan simbol, puisi ini merekam kehancuran pelan-pelan sebuah dunia lama, sekaligus mempertanyakan arah kemajuan yang meninggalkan banyak hal dalam keadaan tergenang, mandek, dan tak terucapkan.

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Tembok-Tembok Berlumut
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.