Sumber: Gergaji (2001)
Analisis Puisi:
Puisi “Tembok-Tembok Berlumut” menghadirkan potret ruang yang ditinggalkan zaman: sebuah tempat yang pernah jaya, kini perlahan rapuh, dilupakan, dan hanya menyisakan jejak-jejak kenangan. Slamet Sukirnanto memanfaatkan lanskap fisik—tembok, pendopo, taman, dan sudut-sudut kota—sebagai cermin perubahan sosial dan nasib manusia di dalamnya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kemunduran, perubahan zaman, dan keterasingan manusia dari akar sejarahnya. Puisi ini juga memuat tema sosial tentang ketimpangan nasib, pergeseran nilai, serta keberlanjutan hidup yang tidak selalu sejalan dengan kemajuan.
Puisi ini bercerita tentang sebuah tempat tua dengan tembok-tembok berlumut yang pernah menjadi pusat kehidupan dan kejayaan. Penghuninya telah silih berganti: dari generasi lama hingga mak dan cucu. Sebagian bertahan membersihkan halaman dan menembang kenangan, sementara yang lain pergi merantau ke kota-kota besar, termasuk Jakarta, menjadi pejabat, pengusaha, sarjana, atau justru menganggur namun tampak makmur. Di balik itu, ruang lama tersebut kian dipenuhi sampah, semak, dan kerusakan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap modernitas yang menghapus ingatan kolektif dan meninggalkan banyak orang dalam kondisi “mandek” secara sosial maupun moral. Kemajuan yang dijanjikan kota besar tidak selalu membawa keadilan; ada yang tumbuh seperti “cendawan”, ada pula yang hidup seperti “benalu”. Tembok berlumut menjadi simbol sejarah dan nilai lama yang terpinggirkan oleh keruwetan zaman.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana melankolis, sendu, dan reflektif. Ada kesedihan yang tenang, bercampur rasa kehilangan dan kegetiran melihat kejayaan yang runtuh perlahan, bukan oleh ledakan besar, tetapi oleh waktu dan kelalaian.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya menjaga ingatan, sejarah, dan nilai kemanusiaan di tengah arus perubahan. Puisi ini mengingatkan agar kemajuan tidak membuat manusia lupa asal-usulnya, serta mengajak pembaca untuk peka terhadap ketimpangan dan stagnasi yang tersembunyi di balik wajah kemakmuran.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Simile, pada manusia yang “tersebar bagai laba-laba”,
- Personifikasi, pada tiang listrik yang “runduk ke bumi”,
- Hiperbola, dalam kontras antara “nganggur / tapi makmur”.
Majas-majas ini memperkuat kritik sosial dan kesan reflektif puisi.
Puisi "Tembok-Tembok Berlumut" karya Slamet Sukirnanto adalah renungan panjang tentang ruang, waktu, dan manusia yang terseret arus perubahan. Dengan bahasa yang padat imaji dan simbol, puisi ini merekam kehancuran pelan-pelan sebuah dunia lama, sekaligus mempertanyakan arah kemajuan yang meninggalkan banyak hal dalam keadaan tergenang, mandek, dan tak terucapkan.
Karya: Slamet Sukirnanto
Biodata Slamet Sukirnanto:
- Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
- Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
- Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.