Puisi: Terkenang Kembali (Karya Rusli Marzuki Saria)

Puisi “Terkenang Kembali” karya Rusli Marzuki Saria bercerita tentang masa kecil penyair yang penuh luka batin. Ia mengingat dirinya yang berpindah ..
Terkenang Kembali

Seperti Hamlet. Kuda-kuda telutuk mainan masa kanakku
Terlantar dari rumah ibutiri yang satu ke rumah ibutiri yang lain
Beban nasib malang alangkah garangnya
Tapi bapak seorang yang keras tak bisa ditakik bagai batu

Bapak punya kuda si belang dan sebuah sado Bugis
Bila senja hitam ibu terisak dan menangis
Kutekurkan kepala dan ingin berbagi duka
Ibu menciumku dalam berbisik: engkau anak laki-laki perasa

1966

Sumber: Parewa (1998)

Analisis Puisi:

Puisi “Terkenang Kembali” merupakan karya penyair Indonesia Rusli Marzuki Saria yang mengangkat ingatan masa kecil dengan nuansa getir dan reflektif. Penyair menghadirkan pengalaman personal yang sarat konflik keluarga, rasa kehilangan, serta kerinduan terhadap figur ibu di tengah dominasi sosok ayah yang keras. Dengan bahasa sederhana namun simbolik, puisi ini menghadirkan kenangan traumatis yang membentuk kepekaan batin seorang anak.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kenangan masa kecil yang pahit dalam lingkungan keluarga yang retak. Penyair menyoroti pengalaman hidup sebagai anak yang terombang-ambing di antara ibu tiri dan figur ayah yang keras, serta kedekatan emosional dengan ibu kandung yang menderita.

Puisi ini bercerita tentang masa kecil penyair yang penuh luka batin. Ia mengingat dirinya yang berpindah dari satu rumah ibu tiri ke ibu tiri lain, merasakan beban nasib yang berat, serta menyaksikan kesedihan ibunya yang sering menangis. Di tengah situasi tersebut, terdapat momen intim ketika sang ibu mencium dan mengakui kepekaan anaknya sebagai “anak laki-laki perasa”. Kenangan ini menjadi titik emosional yang kuat dalam puisi.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini berkaitan dengan dampak konflik keluarga terhadap perkembangan psikologis anak. Penyair menyiratkan bahwa kekerasan sikap ayah dan ketidakstabilan keluarga menimbulkan luka batin mendalam, namun juga membentuk empati dan kepekaan perasaan.

Rujukan pada Hamlet di awal puisi memperkuat makna ini: seperti tokoh Shakespeare tersebut, penyair hidup dalam situasi keluarga yang retak, dibayangi ibu tiri dan ayah yang dominan, serta perasaan batin yang kompleks. Dengan demikian, puisi ini menyiratkan bahwa penderitaan masa kecil dapat melahirkan sensitivitas emosional yang kuat.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa muram dan haru, terutama pada gambaran ibu yang “terisak dan menangis” serta anak yang ingin berbagi duka. Ada nuansa nostalgia pahit—kenangan yang tidak indah tetapi tetap melekat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyiratkan pesan bahwa pengalaman pahit dalam keluarga tidak selalu mematikan perasaan; justru dapat menumbuhkan empati dan kepekaan. Selain itu, terdapat kritik halus terhadap kerasnya otoritas orang tua yang mengabaikan kebutuhan emosional anak.

Puisi “Terkenang Kembali” menghadirkan fragmen masa kecil yang pahit namun penuh makna. Melalui kenangan tentang keluarga yang retak dan sosok ibu yang penuh kasih, penyair menunjukkan bahwa luka batin dapat menjadi sumber kepekaan manusiawi. Kenangan tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan proses memahami diri—bagaimana seorang anak yang terluka tumbuh menjadi pribadi yang perasa dan empatik.

Rusli Marzuki Saria
Puisi: Terkenang Kembali
Karya: Rusli Marzuki Saria

Biodata Rusli Marzuki Saria:
  • Rusli Marzuki Saria lahir pada tanggal 26 Februari 1936 di Kamang, Bukittinggi.
© Sepenuhnya. All rights reserved.