Puisi: Tiga Biola Juan Gris (Karya Nirwan Dewanto)

Puisi “Tiga Biola Juan Gris” karya Nirwan Dewanto mengajak pembaca untuk meresapi keindahan dan kompleksitas objek seni melalui deskripsi visual, ...
Biola Juan Gris (1)

Terbaring di atas talam, ia cembung masih
dengan dawai menegang oleh putih-mutih
lembar lagu yang ditindihnya. Dan sebatang pipa
harum tembakau dan mungkin setandan anggur layu
rajin mengapitnya ketika ia begitu ragu pada ungu
dan coklat yang mestilah miliknya. Di pucuk lehernya
hanya lengkung serupa arabeska hitam sehingga
ia tak akan lagi membusung seperti telur kasuari
tapi membubung seperti udara Magribi di ujung jari.

Biola Juan Gris (2)

Sebagian punggungnya perlahan memipih selagi
dawainya menghilang di antara lipatan linen putih
dan kuning yang memiara dua selongsong semu
sampai papan halma di depannya biru seperti pagi
seperti cerminnya yang baka. Ternyatalah ia berdua
kembar Siam yang gemar menyalin latar muka
dengan belakang sampai hijau tubuhnya hanya
seratus pecahan lingkaran dan segitiga pengabdi
coklat mahoni kertas dinding dan urat kayu meja
saat mata sekadar bermain matra dan permata
saat Partita Bach mesti menyela jingga dan jelaga.

Biola Juan Gris (3)

Tenang seperti kertas Jepang, seakan ia membentang
dari tepi ke tengah. Dawainya sekadar gegaris
pengganda celah antara langit menjelang subuh
dan sebotol tinta yang menunggu tangan pelukis
yang telanjur menyuramkan dua pita merah darah.
Sewarna udara, mestinya ia bisa melerai bebongkah
coklat meja dan kelabu pintu yang berebut putih
tapi terhalang sekeping pilar Korintia yang melayang
di antara biru dan hitam yang ingin bergegas pulang.
Sungguh ia terlalu sabar, sehingga semua celah itu
mengubur si pelukis yang telah menjadikannya
segantang, seperti asap dan kalibut. Tak sadar ia
menyerahkan diri kepada tinta Cina seluas laut
yang kini terkunci leher botol yang seperti lehernya.

2007

Sumber: Jantung Lebah Ratu (2008)

Analisis Puisi:

Puisi “Tiga Biola Juan Gris” karya Nirwan Dewanto menghadirkan eksplorasi mendalam tentang hubungan antara objek seni, pengamatan, dan penciptaan. Dengan mengambil inspirasi dari karya pelukis kubisme Juan Gris, puisi ini memadukan deskripsi visual yang kaya dengan simbolisme musikal dan artistik, menciptakan pengalaman membaca yang intens dan multi-dimensi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah hubungan antara seni, objek, dan persepsi. Puisi ini menyoroti keindahan, kesabaran, dan kekayaan imaji yang bisa dihadirkan oleh sebuah objek—dalam hal ini biola—dalam konteks ruang artistik dan penciptaan. Selain itu, tema eksplorasi visual dan musikal juga hadir, menekankan perpaduan antara seni rupa dan musik.

Puisi ini bercerita tentang biola sebagai objek seni yang diamati dan dihargai oleh penyair. Setiap bagian—dari bentuk, warna, hingga posisi dalam ruang—dideskripsikan dengan detail dan dikaitkan dengan unsur musik, pelukis, dan imaji artistik. Biola bukan sekadar alat musik, melainkan simbol ketenangan, kesabaran, dan keharmonisan antara objek, pencipta, dan ruang. Penyair memperlihatkan bagaimana biola “menyerahkan diri” kepada tinta dan cat, sekaligus membiarkan imaji pembaca mengalir dalam ruang estetika yang dibangun oleh deskripsi visual dan musikal.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah refleksi terhadap proses kreatif dan hubungan manusia dengan objek seni. Biola di sini bukan hanya benda mati; ia menjadi medium pengalaman estetis dan meditasi artistik. Kesabaran, ketelitian, dan keindahan dalam tiap detail biola menekankan bagaimana seni memiliki kehidupan batin tersendiri, yang dapat membimbing persepsi dan perasaan manusia.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa tenang, kontemplatif, dan reflektif. Ada perpaduan antara keheningan artistik dan dinamika musikal. Deskripsi rinci dan detil visual menciptakan rasa teduh, seperti berada di ruang studio pelukis, sambil menikmati objek yang penuh makna dan warna.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah pentingnya memperhatikan detail, menghargai keindahan objek seni, dan memahami hubungan antara pengamat, objek, dan proses kreatif. Puisi ini mengingatkan pembaca bahwa seni bukan hanya untuk dilihat atau didengar, tetapi juga untuk dirasakan melalui refleksi dan pengalaman mendalam.

Puisi “Tiga Biola Juan Gris” adalah puisi yang menekankan hubungan antara seni rupa, musik, dan persepsi estetis. Nirwan Dewanto menghadirkan puisi yang kaya imaji, reflektif, dan meditatif, mengajak pembaca untuk meresapi keindahan dan kompleksitas objek seni melalui deskripsi visual, simbolik, dan musikal yang mendalam. Puisi ini bukan sekadar apresiasi terhadap biola atau kubisme, tetapi juga meditasi tentang kesabaran, keindahan, dan interaksi manusia dengan dunia seni.

Nirwan Dewanto
Puisi: Tiga Biola Juan Gris
Karya: Nirwan Dewanto

Biodata Nirwan Dewanto:
  • Nirwan Dewanto lahir pada tanggal 28 September 1961 di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.