Titik Bintik
Demi air yang menitik
bintik debu yang meramu
jadikanlah arungan samudera jauh bertasik
hamparan tanah indah bermadu
Demi perilaku penuh bumi
kata mesra dari cinta
jadilah riau kehijauan bumi
seperti silau kebiruan udara
Sumber: Kabar dari Langit (1986)
Analisis Puisi:
Puisi “Titik Bintik” karya Djamil Suherman adalah puisi yang sarat dengan citraan alam dan simbolisme yang kaya, menggambarkan hubungan manusia dengan bumi, air, dan alam semesta. Dengan bahasa yang puitis dan melodius, penyair menyampaikan rasa kagum terhadap alam sekaligus mengangkat nilai cinta dan keharmonisan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah alam dan keharmonisan kehidupan, yang dipadukan dengan cinta dan keindahan semesta. Puisi ini menekankan bagaimana alam dan manusia saling terkait, serta bagaimana perilaku penuh cinta dan kesadaran ekologis dapat membentuk keseimbangan dan keindahan bumi.
Puisi ini bercerita tentang proses alam yang harmonis dan bagaimana manusia, melalui kata dan perilakunya, dapat menyatu dengan alam. Beberapa hal yang tergambar antara lain:
- Air yang menitik dan debu yang berpadu, menggambarkan siklus alam dan kehidupan yang saling terkait.
- Samudera jauh dan hamparan tanah indah, yang menjadi simbol luasnya alam dan potensi keharmonisan.
- Perilaku manusia yang penuh cinta dan kata-kata mesra sebagai simbol keterlibatan manusia dalam menjaga dan menghargai alam.
Dengan kata lain, puisi ini menggambarkan hubungan antara unsur alam dan sikap manusia yang sadar akan keindahan dan keharmonisan bumi.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah pesan ekologis dan spiritual tentang pentingnya keharmonisan manusia dengan alam. Frasa “jadilah riau kehijauan bumi” menyiratkan bahwa manusia memiliki peran aktif dalam menjaga kelestarian bumi, sekaligus merawat keindahan dan keseimbangan alam.
Selain itu, puisi ini juga menyiratkan kekaguman dan penghormatan terhadap keindahan alam, di mana unsur air, debu, samudera, dan udara digambarkan sebagai elemen yang saling berpadu, menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari alam.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini tenang, harmonis, dan melankolis indah. Imaji alam yang luas, air yang menitik, debu, hamparan tanah, serta samudera yang bertasik menghadirkan nuansa damai dan penuh penghayatan terhadap alam. Nada puisi cenderung meditatif dan reflektif, mendorong pembaca untuk merasakan keselarasan antara manusia dan alam.
Majas
Puisi ini menggunakan beberapa majas, antara lain:
- Metafora, seperti “bintik debu yang meramu” dan “riau kehijauan bumi” yang menggambarkan keselarasan dan keindahan alam.
- Personifikasi, alam dan elemen-elemennya digambarkan seolah memiliki perilaku aktif dan penuh kesadaran, misalnya air, debu, dan samudera yang “bertasik” atau “meramu.”
- Hiperbola, dalam penggambaran “hamparan tanah indah bermadu” untuk menekankan luasnya potensi keindahan alam.
Puisi “Titik Bintik” karya Djamil Suherman adalah puisi yang memadukan alam, cinta, dan keharmonisan hidup, menghadirkan pengalaman puitis tentang hubungan manusia dengan bumi. Dengan bahasa yang indah, citraan alam yang kuat, dan nuansa tenang penuh refleksi, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan keterkaitan antara manusia, cinta, dan alam semesta, serta pentingnya menjaga keseimbangan dan keindahan bumi.
Puisi: Titik Bintik
Karya: Djamil Suherman
Biodata Djamil Suherman:
- Djamil Suherman lahir di Surabaya, pada tanggal 24 April 1924.
- Djamil Suherman meninggal dunia di Bandung, pada tanggal 30 November 1985 (pada usia 61 tahun).
- Djamil Suherman adalah salah satu sastrawan angkatan 1966-1970-an.
