Puisi: Tlahab, Tanah Kelahiran (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Tlahab, Tanah Kelahiran” karya Gunoto Saparie menghadirkan kenangan awal kehidupan—masa kanak-kanak, keluarga, agama, dan mimpi—yang tumbuh ...
Tlahab, Tanah Kelahiran

di tanah ini aku menangis pertama kali
di rumah sederhana belum jadi
menggema bersama azan subuh
di tanah ini aku bangkit dan jatuh

di antara kumandang ayat-ayat suci
dari masjid tua di seberang kali
kutemukan aksara dan namamu
kusimak suara alam mendayu

bersama ayah dan ibu
aku belajar mencari mainan hilang
di tengah malam remang-remang
mengeja huruf-huruf bisu

di tanah ini aku mulai tertatih
mencoba berjalan tegak sendirian
di kampung ini aku mulai tahu tuhan
namun di horison jauh itu impian tak teraih

2021

Analisis Puisi:

Puisi “Tlahab, Tanah Kelahiran” karya Gunoto Saparie merupakan puisi liris yang memotret hubungan emosional antara penyair dan kampung halamannya. Melalui bahasa yang sederhana dan jujur, puisi ini menghadirkan kenangan awal kehidupan—masa kanak-kanak, keluarga, agama, dan mimpi—yang tumbuh dari sebuah ruang geografis bernama Tlahab. Tanah kelahiran dalam puisi ini tidak hanya menjadi latar tempat, tetapi juga ruang pembentukan jati diri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah tanah kelahiran sebagai sumber identitas dan ingatan hidup. Kampung halaman digambarkan sebagai tempat pertama manusia mengenal kehidupan, keluarga, iman, dan keterbatasan, sekaligus sebagai ruang awal tumbuhnya harapan dan impian.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan awal kehidupan seseorang yang lahir, tumbuh, dan belajar di tanah bernama Tlahab. Sejak tangisan pertama yang menyatu dengan azan subuh, hingga proses belajar berjalan, membaca, dan mengenal Tuhan, semuanya berlangsung di kampung tersebut.

Namun puisi ini tidak berhenti pada nostalgia. Di bagian akhir, muncul kesadaran tentang keterbatasan: impian yang terbentang di horison jauh, tetapi terasa sulit diraih dari kampung kelahiran yang sederhana.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah ambivalensi perasaan terhadap tanah kelahiran. Di satu sisi, kampung halaman adalah sumber kasih, nilai, dan pembentukan karakter. Di sisi lain, ia juga menjadi ruang yang membatasi capaian mimpi. Gunoto Saparie tidak menampilkan tanah kelahiran sebagai tempat yang ideal sepenuhnya, melainkan sebagai ruang nyata dengan segala kehangatan dan keterbatasannya.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa lirih, hangat, dan reflektif. Nuansa kenangan masa kecil yang sederhana berpadu dengan kesadaran getir tentang masa depan yang tidak sepenuhnya dapat digapai. Perpaduan ini menciptakan suasana yang tenang namun mengandung kerinduan dan kegamangan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menghargai tanah kelahiran sebagai fondasi hidup, meskipun ia tidak selalu mampu memenuhi semua impian. Kampung halaman mengajarkan nilai-nilai dasar—iman, keluarga, dan keteguhan—yang tetap penting, ke mana pun seseorang melangkah.

Puisi “Tlahab, Tanah Kelahiran” adalah potret jujur tentang hubungan manusia dengan kampung halamannya. Gunoto Saparie menghadirkan tanah kelahiran sebagai ruang yang membentuk, mengasuh, sekaligus membatasi. Puisi ini mengingatkan bahwa sejauh apa pun seseorang melangkah, jejak awal kehidupan akan selalu tertanam di tanah tempat ia pertama kali menangis dan belajar mengenal dunia.

Gunoto Saparie
Puisi: Tlahab, Tanah Kelahiran
Karya: Gunoto Saparie

BIODATA GUNOTO SAPARIE

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Selain di bidang pers, ia pernah bekerja di bidang pendidikan, yaitu guru di SMP Yasbumi Cepiring, SMP PGRI Patebon, SMP Muhammadiyah Kendal, dan SMA Al-Farabi Pegandon. Ia pernah pula bekerja di CV Sido Luhur Kendal dan PT Aryacipta Adibrata Semarang.

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.

Gunoto Saparie juga sering diundang sebagai pembicara dalam kongres, simposium, dan seminar kesastraan. Ia pun sering membaca puisi di berbagai tempat dan juri lomba literasi yang diadakan lembaga pemerintah maupun swasta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.