Puisi: Too Haa (Karya Mochtar Pabottingi)

Puisi “Too Haa” karya Mochtar Pabottingi adalah sajak kontemplatif yang memadukan spiritualitas, sejarah, dan kegelisahan eksistensial.
Too Haa

Tak ada kata lain dari itu
untuk itu

Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa
Terasa jauh sekali Sidratul Muntaha
Terasa jauh sekali

Tapi terasa dekat sekali
Derita itu
Derita abadku yang menyusul berpacu
dalam gelisah dan papa
        Eli Eli Lama sabakh tani
        Eli Eli Lama sabakh tani
        Eli Eli
        La ma sa bakh ta ni

Sejarah pun berselubung duka
Tak ada suara. Selain gerimis
Dan angin yang mendesahkan nestapa
di antara daun-daun palma

Seperti dia
Aku pun tak kuasa
dalam dosa
Di sinilah protesku pada-Mu
Ya Robbani

Kau yang kuasa den cinta
pada kami
Tapi di situlah soalnya
Kau kuburkan kami
dalam Too Haa
Dan Sidratul Muntaha yang jauh itu
Aku tak akan sampai ke sana
Aku hanyalah sel dari sel
dalam Genesis yang tak pasti

Ingin aku bicara dengan Ghazali
tentang ini
Kukira ada samudra
dituang ke cangkir yang rapuh
Dan suara itu
Suaraku pada Yaa Siin yang terputus-putus
Tenggelam dalam rimba suara-Mu

1972

Sumber: Horison (Oktober, 1973)

Analisis Puisi:

Puisi “Too Haa” karya Mochtar Pabottingi adalah sajak kontemplatif yang memadukan spiritualitas, sejarah, dan kegelisahan eksistensial. Dikenal sebagai intelektual dan pemikir kebangsaan, Mochtar Pabottingi dalam puisi ini tidak sekadar merangkai kata religius, tetapi menyelami jarak antara manusia, sejarah, dan Tuhan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kegelisahan spiritual manusia modern di hadapan Tuhan dan sejarah. Puisi ini juga mengangkat tema penderitaan kolektif (“Derita abadku”) serta jarak metafisik antara manusia dengan Yang Ilahi.

Selain itu, terdapat tema dialog batin dan protes religius—sebuah keberanian untuk bertanya kepada Tuhan tanpa kehilangan iman.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang merasa jauh dari puncak spiritualitas, tetapi justru sangat dekat dengan penderitaan dunia.

Penyair menyebut “Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa / Terasa jauh sekali Sidratul Muntaha.”
Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa adalah dua tempat suci dalam Islam, yang juga terkait dengan peristiwa Isra Mi’raj. Sementara Sidratul Muntaha adalah simbol batas tertinggi perjalanan spiritual Nabi.

Namun alih-alih mencapai puncak spiritual, penyair justru merasakan kedekatan dengan “Derita abadku yang menyusul berpacu / dalam gelisah dan papa.” Ia hidup di abad yang penuh luka sejarah.

Seruan “Eli Eli Lama sabakh tani” (yang dikenal sebagai ungkapan penderitaan dalam tradisi religius) menegaskan dimensi universal kesedihan manusia.

Puisi ini juga memuat dialog batin yang sangat personal:

“Di sinilah protesku pada-Mu / Ya Robbani.”

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini menyentuh persoalan teodise—mengapa penderitaan ada di dunia jika Tuhan Mahakuasa dan Mahacinta?

“Too Haa” dapat dibaca sebagai simbol misteri wahyu (merujuk pada huruf muqatta’ah dalam Al-Qur’an). Ketika penyair berkata, “Kau kuburkan kami / dalam Too Haa,” ia seakan menyatakan bahwa manusia terbenam dalam rahasia ilahi yang tak sepenuhnya dapat dipahami.

Ungkapan “Aku hanyalah sel dari sel / dalam Genesis yang tak pasti” memberi kesan kecilnya manusia dalam skema kosmik penciptaan. Referensi Genesis (Kitab Kejadian) memperluas cakupan religius puisi ini, tidak hanya dalam tradisi Islam, tetapi juga dalam horizon kitab suci yang lebih luas.

Makna terdalamnya mungkin adalah pengakuan bahwa iman tidak selalu berarti kepastian; iman sering kali lahir dari pergulatan dan ketidakpastian.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung murung, reflektif, dan penuh kegelisahan spiritual. Larik-larik seperti:

“Sejarah pun berselubung duka
Tak ada suara. Selain gerimis”

membangun atmosfer sunyi dan sendu. Kesunyian ini memperkuat kesan jarak antara manusia dan Tuhan, sekaligus jarak antara idealitas wahyu dan realitas sejarah.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini dapat ditafsirkan sebagai ajakan untuk berani berdialog dengan Tuhan secara jujur. Protes dalam puisi bukanlah penolakan iman, melainkan bentuk kedekatan yang radikal.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa penderitaan sejarah tidak boleh diabaikan dalam wacana keagamaan. Spiritualitas yang otentik harus mampu menyentuh “derita abadku.”

Puisi “Too Haa” adalah puisi reflektif yang memperlihatkan kedalaman pemikiran Mochtar Pabottingi. Ia menempatkan manusia di antara dua jarak: jarak menuju puncak spiritual dan kedekatan dengan derita sejarah.

Puisi ini bukan sekadar doa, melainkan pergulatan. Ia menunjukkan bahwa iman dapat tumbuh dalam tanya, bahkan dalam protes. Dan di tengah misteri “Too Haa” yang tak terpecahkan, manusia tetap bersuara—meski suaranya “terputus-putus”—dalam rimba suara Ilahi yang tak berbatas.

Mochtar Pabottingi
Puisi: Too Haa
Karya: Mochtar Pabottingi

Biodata Mochtar Pabottingi:
  • Mochtar Pabottingi lahir pada tanggal 17 Juli 1945 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.