Puisi: tt. M (Karya P. Sengodjo)

Puisi “tt. M” karya P. Sengodjo mengajak pembaca merenungi arti diri, kesadaran, dan makna hidup di balik gemerlap dunia yang tampak meriah.
tt. M

Bunyi jam besar mengejutkan mimpi dari sadar
Apalagi tentang beduk dan tabuh di pagi senja
Kita umpamakan perang ini selesai sudah
Dan kami menyanyi dengan surat perjanjian di tangan kiri

Di sini lampu, di situpun lampu
Di langit bintang, dan tak usah kausebut nama
Merdu suaramu di telingaku
Akhirnya pasti kecewa, karena telah mencoba kuasa

Tuang sekali lagi, Mas, dan kita habiskan sekali teguk
Dan ceripuku hilang dalam keramaian itu
Tinggal botol untuk memukul kepala
Karena saku inipun kosong sahaja

Artinya, tidak ada sahajanya
Dengan tidak insyaf telah kauberikan daku satu nama.

Sumber: Zenith (Mei, 1952)

Analisis Puisi:

Puisi “tt. M” karya P. Sengodjo menghadirkan suasana yang kompleks: antara kesadaran dan mimpi, perang dan damai, keramaian dan kehampaan batin. Dengan bahasa simbolik dan fragmen pengalaman yang tampak terputus, penyair menyusun gambaran tentang manusia yang berada dalam situasi eksistensial—mencari makna, tetapi justru menemukan kekosongan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kekosongan eksistensial dan ilusi kehidupan manusia setelah konflik atau pergulatan batin. Ada kesan bahwa penyair hidup dalam dunia yang penuh simbol perayaan dan cahaya, tetapi secara batin tetap hampa.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang terbangun dari mimpi oleh bunyi jam besar, lalu membayangkan perang telah usai dan perdamaian dirayakan. Ia berada di ruang keramaian (kemungkinan kedai atau pesta), minum bersama orang lain, mendengar suara merdu seseorang, tetapi pada akhirnya merasa kecewa. Dalam keramaian itu, ia tetap miskin dan kosong—ditandai saku kosong dan botol yang tersisa hanya untuk kekerasan. Pada akhir puisi, penyair merasa bahkan identitas yang diberikan kepadanya pun tanpa makna.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa setelah konflik (baik perang nyata maupun konflik batin), manusia sering menghadapi kehampaan makna. Perayaan damai, cahaya lampu, minuman, dan suara merdu hanyalah ilusi kebahagiaan. Pada akhirnya, individu tetap berhadapan dengan identitas yang rapuh dan kehidupan yang “tidak ada sahajanya”. Nama—simbol identitas—tidak memberi makna jika kesadaran diri hilang.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi bergerak dari terkejut dan reflektif di awal, menjadi semarak tetapi semu di bagian tengah (lampu, nyanyian, minum), lalu berakhir suram, kecewa, dan hampa. Perubahan suasana ini memperkuat kesan bahwa kegembiraan yang digambarkan hanyalah lapisan luar dari kekosongan batin.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyiratkan pesan bahwa kehidupan yang dijalani tanpa kesadaran diri akan berujung pada kehampaan. Perayaan, identitas sosial, dan kenikmatan sesaat tidak cukup memberi makna hidup. Kesadaran batin dan pemaknaan diri menjadi hal penting agar manusia tidak merasa “tidak ada sahajanya”.

Puisi “tt. M” karya P. Sengodjo menampilkan potret manusia yang terjebak antara ilusi kebahagiaan dan kenyataan kehampaan. Melalui simbol perang, cahaya, keramaian, dan minuman, penyair menggambarkan perjalanan batin menuju kesadaran pahit bahwa identitas dan kehidupan dapat terasa kosong jika dijalani tanpa makna. Puisi ini mengajak pembaca merenungi arti diri, kesadaran, dan makna hidup di balik gemerlap dunia yang tampak meriah.

Puisi: tt. M
Puisi: tt. M
Karya: P. Sengodjo

Biodata P. Sengodjo:
  • P. Sengodjo (nama sebenarnya adalah Suripman) lahir di Desa Gatak, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, pada tanggal 25 November 1926.
  • Dalam dunia sastra, Suripman suka menggunakan nama samaran. Kalau menulis puisi atau sajak, ia menggunakan nama kakeknya, yaitu Prawiro Sengodjo (kemudian disingkat menjadi P. Sengodjo). Kalau menulis esai atau prosa, ia menggunakan nama aslinya, yaitu Suripman. Kalau menulis cerpen, ia juga sering menggunakan nama aslinya Suripman, tapi kadang-kadang menggunakan nama samaran Sengkuni (nama tokoh pewayangan).
© Sepenuhnya. All rights reserved.