tt. SM
Mari, Zus, kita lembur kerja hari ini
Waktupun hanya dalam pengiraan terasanya
Atau kau inginkan nyanyian asing yang kau tak tahu maknanya
Karena bulan, bulan pula pada pandangan siapapun juga –
Dan awas! Ini: aku, dan kau ketawa seperti lupa
Esok kita lagi bersama menengok keluar jendela
(Tentang ketawamu itu aku bosan mendengarkan
Aku malu kehilangan kesopanan)
Tapi kau harus membunyikan suitan panggilan
Sampai jam berbunyi tujuh kali, dan aku tujuh kali minta diri.
Sumber: Zenith (Mei, 1952)
Analisis Puisi:
Puisi “tt. SM” karya P. Sengodjo menampilkan percakapan intim yang terasa sekaligus akrab dan janggal. Tokoh “aku” dan “kau (Zus)” berada dalam relasi yang dekat, tetapi diselipi kegelisahan, kelelahan, dan rasa bosan yang samar. Melalui bahasa percakapan yang sederhana namun penuh jeda makna, penyair membangun situasi relasional yang kompleks—tentang kedekatan manusia yang tidak selalu harmonis.
Puisi ini menempatkan pembaca di ruang privat dua orang yang berinteraksi dalam keseharian: lembur, berbincang, tertawa, dan menunggu waktu. Namun, di balik keseharian tersebut tersimpan ketegangan emosional yang tidak sepenuhnya diucapkan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kedekatan relasional yang diwarnai kejenuhan dan kegelisahan batin. Kedekatan antara “aku” dan “kau” tampak nyata, tetapi hubungan itu tidak sepenuhnya nyaman. Ada rasa lelah, malu, dan bosan yang menyelinap dalam interaksi sehari-hari.
Puisi ini bercerita tentang dua orang (aku dan Zus) yang bekerja lembur bersama dan menghabiskan waktu dalam kedekatan yang berulang. Mereka berbagi momen keseharian—tertawa, mendengar nyanyian, memandang bulan, hingga melihat keluar jendela bersama esok hari.
Namun, di balik kebersamaan itu, tokoh “aku” menunjukkan rasa jenuh terhadap tawa “kau”:
“Tentang ketawamu itu aku bosan mendengarkan / Aku malu kehilangan kesopanan”
Hubungan mereka tampak dekat tetapi tidak sepenuhnya selaras. Ada ketidaknyamanan yang dipendam, sementara rutinitas kebersamaan terus berlangsung sampai waktu (jam berbunyi tujuh kali) memisahkan mereka.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini berkaitan dengan ironi kedekatan manusia: seseorang bisa sangat dekat dengan orang lain, tetapi tetap merasa jenuh, canggung, bahkan lelah secara emosional.
Beberapa lapisan makna yang dapat ditafsirkan:
- Kedekatan tidak selalu berarti kebahagiaan. Relasi akrab dapat menyimpan kejenuhan tersembunyi.
- Rutinitas dapat mengikis kepekaan emosional. Kebersamaan yang berulang membuat sesuatu yang dulu menyenangkan menjadi membosankan.
- Kesopanan sosial menekan kejujuran batin. Tokoh “aku” merasa malu kehilangan kesopanan—artinya ia menahan perasaan sebenarnya demi norma relasi.
Puisi ini juga dapat dibaca sebagai refleksi hubungan kerja, persahabatan, atau bahkan relasi romantik yang telah lama berjalan dan kehilangan gairah awal.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini cenderung hening, jenuh, dan sedikit canggung. Tidak ada konflik keras, tetapi ada ketegangan lembut yang terasa di balik percakapan santai.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditarik dari puisi ini adalah bahwa kedekatan manusia membutuhkan kejujuran emosional dan kesadaran diri. Relasi yang terus dijalani tanpa kejujuran dapat berubah menjadi rutinitas kosong.
Puisi ini seolah mengingatkan:
- Hubungan yang dekat pun bisa mengalami kejenuhan
- Menjaga kepekaan dalam relasi itu penting
- Kesopanan sosial tidak selalu sejalan dengan perasaan sejati
Puisi “tt. SM” karya P. Sengodjo menghadirkan potret relasi manusia yang sangat realistis: dekat tetapi tidak selalu nyaman, akrab tetapi tidak selalu selaras. Melalui bahasa sederhana dan situasi sehari-hari, penyair menunjukkan bahwa keintiman tidak selalu identik dengan kehangatan.
Di dalam percakapan ringan dan rutinitas lembur, tersembunyi rasa jenuh, malu, dan kelelahan emosional—sesuatu yang sering hadir dalam hubungan manusia nyata, tetapi jarang diucapkan. Puisi ini dengan halus mengajak pembaca merenungkan kembali makna kebersamaan: apakah kedekatan yang dijalani benar-benar hidup, atau sekadar rutinitas yang diulang tanpa kesadaran.
Karya: P. Sengodjo
Biodata P. Sengodjo:
- P. Sengodjo (nama sebenarnya adalah Suripman) lahir di Desa Gatak, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, pada tanggal 25 November 1926.
- Dalam dunia sastra, Suripman suka menggunakan nama samaran. Kalau menulis puisi atau sajak, ia menggunakan nama kakeknya, yaitu Prawiro Sengodjo (kemudian disingkat menjadi P. Sengodjo). Kalau menulis esai atau prosa, ia menggunakan nama aslinya, yaitu Suripman. Kalau menulis cerpen, ia juga sering menggunakan nama aslinya Suripman, tapi kadang-kadang menggunakan nama samaran Sengkuni (nama tokoh pewayangan).
