Puisi: Uh dan Hah (Karya F. Rahardi)

Puisi “Uh dan Hah” karya F. Rahardi adalah sajak yang menguji batas bahasa. Melalui permainan bunyi, simbol gelap, dan struktur yang tidak ...
Uh dan Hah

bolehkah aku berkata
berkata uh kepadamu hah?
lampu-lampu bernanah
suara-suara remuk
limauku
hah
liurku
uh
dapatkah aku mengupas
lampu-lampu itu
dengan limau
dengan cahaya nanah
bisakah
suaraku remuk dan
uhku berbunyi hah
hah?

1975

Sumber: Horison (September, 1976)

Analisis Puisi:

Puisi “Uh dan Hah” karya F. Rahardi merupakan sajak eksperimental yang bermain pada bunyi, absurditas, dan simbol-simbol yang ganjil. Dengan struktur yang tidak lazim dan pilihan kata yang kontras, puisi ini menghadirkan suasana gelap sekaligus reflektif tentang bahasa, ekspresi, dan kegagapan komunikasi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah problem komunikasi dan kegagapan ekspresi. Selain itu, terdapat tema absurditas bahasa serta kegelisahan batin yang sulit diungkapkan secara wajar.

Secara implisit, puisi ini bercerita tentang seseorang yang ingin “berkata”, tetapi yang keluar hanya bunyi-bunyi dasar seperti “uh” dan “hah”. Ia mempertanyakan apakah ia boleh berbicara, apakah suaranya dapat terdengar, atau justru hanya menjadi bunyi tanpa makna.

Di sekelilingnya, digambarkan “lampu-lampu bernanah” dan “suara-suara remuk”, menciptakan kesan dunia yang sakit dan rusak. Penyair bahkan bertanya apakah ia bisa “mengupas lampu-lampu itu dengan limau”, seolah ingin membersihkan kebusukan dengan sesuatu yang segar.

Namun pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan itu tetap menggantung.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini dapat ditafsirkan sebagai kritik terhadap kondisi sosial atau psikologis yang membuat seseorang sulit berbicara jujur. “Lampu-lampu bernanah” bisa dimaknai sebagai simbol cahaya (kebenaran) yang telah tercemar. “Suara-suara remuk” menyiratkan rusaknya komunikasi.

Bunyi “uh” dan “hah” melambangkan ekspresi paling dasar manusia—napas, desah, atau reaksi spontan—yang muncul ketika bahasa tak lagi memadai. Ini bisa diartikan sebagai simbol kebuntuan komunikasi atau kegagalan bahasa dalam menyampaikan kebenaran.

Puisi ini juga dapat dibaca sebagai eksperimen bunyi, di mana penyair menekankan bahwa bahasa bukan hanya makna, tetapi juga suara dan ritme.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa gelap, ganjil, dan sedikit absurd. Ada nuansa muram yang muncul dari gambaran nanah dan suara remuk, namun juga ada kesan reflektif dan eksperimental dalam permainan bunyi “uh” dan “hah”.

Suasana tersebut membuat pembaca merasa tidak nyaman, seolah berada di ruang yang penuh tekanan dan kegelisahan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini dapat ditafsirkan sebagai ajakan untuk menyadari pentingnya kejujuran dalam berbahasa dan berkomunikasi. Ketika bahasa rusak atau dimanipulasi, yang tersisa hanya bunyi-bunyi kosong.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa kadang-kadang, sebelum mampu berkata dengan jelas, manusia harus menghadapi kegagapan dan kebingungan dalam dirinya sendiri.

Puisi “Uh dan Hah” karya F. Rahardi adalah sajak yang menguji batas bahasa. Melalui permainan bunyi, simbol gelap, dan struktur yang tidak konvensional, penyair menghadirkan refleksi tentang kegagalan komunikasi dan keresahan batin.

Puisi ini menunjukkan bahwa ketika kata-kata kehilangan maknanya, yang tersisa hanyalah bunyi—“uh” dan “hah”—sebagai napas terakhir dari keinginan untuk tetap berbicara.

Floribertus Rahardi
Puisi: Uh dan Hah
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.