Puisi: Wahai, Wahai, Wahai (Karya Zakaria M. Passe)

Puisi “Wahai, Wahai, Wahai” karya Zakaria M. Passe mengajak pembaca untuk tidak sekadar hidup, tetapi menemukan kebenaran, menjaga kedirian, dan ...
Wahai, Wahai, Wahai.

Apakah yang lebih baik, adikku
apakah yang lebih mulya selain kasih dan sayang
jikalah itu bukan kebenaran, dunia ini jadi sengsara
kalau palsu bertahta atas segala pembelaan
Kini dengan bulan kita membicarakan tentang sebuah kebenaran
karsa kita pun bersama,
tidak saja untukmu
tapi yang menjadi idaman manusia, sarwanya
manakah yang lebih sengsara di perut tanah bunda
bukan lapar tiada makan, tapi yang hidup tanpa kedirian
yang ditindih oleh noda dalam peluk rengsanya,
meyakinkan falsafi tiada mengenal diri
dalam ketakutan pada hidup,
tapi seperti membagi harta warisan
untuk mencipta kebenaran dirimu
bahana pada yang lain.
Apakah ini wadah atau makrifat?
tapi lebih celaka, -
maksiat telah turun ke bumi.
Rabbi, Rabbi,
selamatkanlah maya ini karna dari menusuk jantung sucinya
karna karsa kami menembang keadilan.
Ya, Tuhan, ya Malaikat
dengarlah suara rawan yang merintih pilu
dari ummat yang berlindung di jubah nur-Mu?
Jangan lalukan Nyanyian ini
jangan biarkan doa ini yang terlahir dari keyakinan
yang tak runtuh oleh hujan,
petir, panasnya bara mentari kering
oleh zalimnya kekuatan.
Sarwa, ya sarwa
datanglah hai penyelamat bumi datanglah lazwardi
berperang maksiat,
di kubur mati.
Janji-Mu aku bertanya:
Bilakah sejarah Kau ulang kembali?

Medan, 1965

Sumber: Horison (Agustus, 1967)

Analisis Puisi:

Puisi “Wahai, Wahai, Wahai” karya Zakaria M. Passe tampil sebagai puisi yang bersifat reflektif sekaligus profetik. Melalui bahasa yang sarat dengan istilah religius, filsafat, dan seruan emosional, penyair menghadirkan kegelisahan manusia modern yang terjebak dalam kepalsuan, kehilangan kedirian, serta jauhnya nilai kebenaran dari kehidupan sosial dan spiritual. Puisi ini menyerupai doa, seruan, dan peringatan yang ditujukan kepada manusia sekaligus kepada Tuhan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian kebenaran dan keadilan dalam kehidupan manusia yang diliputi kemerosotan moral dan spiritual. Tema tersebut berpadu dengan kritik terhadap kepalsuan, kemunafikan, dan kekuasaan yang mengabaikan kasih, kebenaran, dan nilai kemanusiaan.

Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kerinduan akan pertolongan ilahi di tengah dunia yang dianggap telah dikuasai oleh maksiat dan ketidakadilan.

Puisi ini bercerita tentang dialog batin seseorang yang mempertanyakan apa yang paling mulia dalam hidup manusia. Ia menempatkan kasih, kebenaran, dan kedirian sebagai nilai utama yang kini terancam oleh kepalsuan dan ketakutan hidup.

Puisi kemudian berkembang menjadi seruan kolektif—bukan hanya untuk “adikku”, tetapi untuk seluruh umat manusia—yang hidup dalam dunia penuh ketidakadilan, kehilangan jati diri, dan terseret dalam maksiat. Pada bagian akhir, puisi berubah menjadi doa dan pertanyaan eksistensial kepada Tuhan tentang pengulangan sejarah dan datangnya penyelamatan.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik mendalam terhadap kehidupan manusia yang kehilangan orientasi nilai. Penyair menyiratkan bahwa penderitaan terbesar bukanlah kemiskinan material, melainkan hidup tanpa kedirian dan kebenaran.

Puisi ini juga menyiratkan kegelisahan terhadap praktik keagamaan dan moral yang dangkal—di mana kebenaran dibagi seperti “warisan”, digunakan untuk kepentingan diri sendiri, dan bahkan melukai sesama.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung gelisah, muram, dan penuh keprihatinan, terutama ketika menggambarkan dunia yang dipenuhi kepalsuan dan maksiat. Namun, suasana tersebut juga diwarnai kesyahduan spiritual dan harapan, khususnya pada bagian doa dan permohonan kepada Tuhan dan malaikat.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyampaikan amanat bahwa kebenaran, kasih, dan keadilan harus menjadi fondasi utama kehidupan manusia. Tanpa itu, dunia akan jatuh dalam kesengsaraan moral dan spiritual. Penyair juga mengingatkan agar manusia tidak menyalahgunakan kebenaran untuk kepentingan diri sendiri, serta senantiasa menjaga kedirian dan nurani.

Selain itu, puisi ini mengajak pembaca untuk berdoa, merenung, dan kembali pada nilai ilahiah, terutama ketika kezaliman dan kekuatan yang menindas semakin dominan.

Imaji

Puisi ini menghadirkan berbagai imaji abstrak dan religius, antara lain:
  • “bulan kita membicarakan tentang sebuah kebenaran” yang menciptakan imaji perenungan malam,
  • “perut tanah bunda” sebagai gambaran kematian dan asal manusia,
  • “hujan, petir, panasnya bara mentari kering” yang menghadirkan imaji alam sebagai ujian keyakinan,
  • serta “jubah nur-Mu” yang melambangkan perlindungan ilahi.
Imaji-imaji ini memperkuat nuansa spiritual dan kontemplatif dalam puisi.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini meliputi:
  • Repetisi, pada kata “Wahai” dan seruan “Rabbi, Rabbi” untuk menegaskan kegelisahan dan doa.
  • Metafora, seperti “hidup tanpa kedirian” dan “menusuk jantung sucinya” untuk menggambarkan luka moral dan spiritual.
  • Personifikasi, pada ungkapan “bulan kita membicarakan” dan “sejarah Kau ulang kembali”.
Puisi “Wahai, Wahai, Wahai” karya Zakaria M. Passe merupakan puisi seruan nurani yang kuat, menggabungkan kritik sosial, perenungan spiritual, dan doa dalam satu tarikan napas puitik. Puisi ini mengajak pembaca untuk tidak sekadar hidup, tetapi menemukan kebenaran, menjaga kedirian, dan menegakkan keadilan di tengah dunia yang rapuh secara moral.

Puisi Zakaria M. Passe
Puisi: Wahai, Wahai, Wahai
Karya: Zakaria M. Passe

Biodata Zakaria M. Passe:
  • Zakaria M. Passe lahir pada tanggal 1 Juni 1942 di Langsa, Aceh Timur.
  • Zakaria M. Passe meninggal dunia pada tanggal 8 November 1998 (pada usia 56 tahun) di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.