Puisi: Wajah (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Wajah” karya Gunoto Saparie menyoroti bagaimana manusia sering kali menyembunyikan jati diri asli di balik topeng, peran, dan ekspresi yang ...
Wajah

ada wajah bersembunyi di balik topeng
mungkin wajahmu, wajahku, wajah kita
karena dunia hanya panggung drama
di cermin retak terpantul bayang-bayang

ada paras pias di bingkai jendela
mungkin parasmu, parasku, paras kita
menampilkan duka di masa silam
masa kanak pun raib ditelan kelam

namun wajah tak pernah jelas berkisah
menerjemahkan dongeng-dongeng lama
namun paras tak pernah jelas berkata
topeng pun mengaburkan wajah-wajah

milik siapakah sebenarnya wajah kita?
kadang ramah, kadang ceria, kadang bengis
paras yang menyimpan kenangan dan asa
tentang mimpi atau cita-cita terkandas 

2022

Analisis Puisi:

Puisi “Wajah” karya Gunoto Saparie merupakan puisi reflektif yang menyoroti identitas manusia, kepura-puraan sosial, serta ingatan dan luka yang tersembunyi di balik penampilan luar. Dengan simbol topeng, cermin, dan panggung drama, penyair mengajak pembaca merenungkan pertanyaan mendasar: siapakah diri kita sebenarnya di tengah dunia yang menuntut peran?

Tema

Tema utama puisi ini adalah krisis identitas dan kepalsuan sosial. Puisi menyoroti bagaimana manusia sering kali menyembunyikan jati diri asli di balik topeng, peran, dan ekspresi yang disesuaikan dengan tuntutan dunia. Selain itu, tema ingatan masa lalu, luka batin, dan mimpi yang kandas juga menguatkan keseluruhan makna puisi.

Puisi ini bercerita tentang wajah manusia yang tidak pernah sepenuhnya jujur dan terbuka. Wajah digambarkan sebagai sesuatu yang:
  • Bersembunyi di balik topeng,
  • Terpantul samar di cermin retak,
  • Muncul sebagai paras pias di bingkai jendela,
  • Menyimpan duka masa silam dan kenangan masa kanak-kanak yang hilang.
Penyair juga menegaskan bahwa wajah tersebut bisa milik siapa saja—wajahmu, wajahku, wajah kita—menandakan pengalaman kolektif manusia dalam menjalani kehidupan yang penuh peran dan kepura-puraan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah ketidakjelasan jati diri manusia dalam kehidupan sosial. Topeng menjadi simbol kepura-puraan, sedangkan cermin retak menggambarkan identitas yang terpecah dan tidak utuh. Puisi ini menyiratkan bahwa manusia sering kehilangan keaslian diri karena tekanan sosial, trauma masa lalu, serta kegagalan mewujudkan mimpi dan cita-cita.

Pertanyaan “milik siapakah sebenarnya wajah kita?” menegaskan kegelisahan eksistensial: apakah wajah yang kita tampilkan benar-benar milik kita, atau hanya hasil konstruksi dunia?

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung muram, reflektif, dan penuh kegelisahan batin. Nuansa kelam muncul melalui gambaran duka masa silam, masa kanak-kanak yang raib, serta mimpi yang terkandas. Namun, suasana ini juga mengandung perenungan mendalam, seolah mengajak pembaca bercermin pada dirinya sendiri.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk mengenali dan menyadari jati diri sendiri. Penyair seakan mengingatkan bahwa terlalu lama memakai topeng dapat membuat manusia lupa siapa dirinya. Kejujuran pada diri sendiri, penerimaan masa lalu, dan keberanian menghadapi luka menjadi pesan penting yang tersirat dalam puisi ini.

Puisi “Wajah” karya Gunoto Saparie merupakan puisi kontemplatif yang menggugat keaslian diri manusia di tengah dunia yang penuh sandiwara. Dengan bahasa yang lugas namun simbolik, puisi ini berhasil menyampaikan kegelisahan eksistensial tentang identitas, ingatan, dan mimpi yang tidak selalu terwujud. Puisi ini mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, bercermin, dan bertanya dengan jujur: wajah manakah yang selama ini kita kenakan?

Gunoto Saparie
Puisi: Wajah
Karya: Gunoto Saparie

Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.