Puisi: Waspada (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi "Waspada" karya Slamet Sukirnanto bercerita tentang anjuran untuk menghitung dan memastikan keutuhan keluarga dari waktu ke waktu. Aktivitas ...
Waspada

Mulai saat ini
Hitung jumlah keluarga
Tiap detik, tiap jam
Lalu ulangi esoknya
Adakah mereka lengkap?
Sebab sekali waktu
Ketika lepas
Mengembara di rimba kotamu Lenyap!
Siapa tahu

1978

Sumber: Luka Bunga (1991)

Analisis Puisi:

Puisi “Waspada” karya Slamet Sukirnanto, yang ditulis pada tahun 1978, tampil singkat namun menyimpan daya gugah yang kuat. Puisi ini menghadirkan peringatan sunyi tentang kehidupan, keterasingan, dan kemungkinan hilangnya manusia dalam arus zaman yang tak selalu ramah.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kewaspadaan terhadap kehilangan manusia dan rapuhnya ikatan keluarga di tengah kehidupan modern. Puisi menekankan pentingnya kesadaran terus-menerus akan keberadaan orang-orang terdekat.

Puisi ini bercerita tentang anjuran untuk menghitung dan memastikan keutuhan keluarga dari waktu ke waktu. Aktivitas sederhana—menghitung jumlah keluarga setiap detik dan jam—menjadi simbol kecemasan akan kemungkinan seseorang “lenyap” saat mengembara di “rimba kotamu”. Kota digambarkan bukan sebagai ruang aman, melainkan rimba yang bisa menelan manusia tanpa jejak.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini mengarah pada kritik sosial terhadap kehidupan perkotaan yang keras, anonim, dan berpotensi memutus hubungan antarmanusia. Kata “lenyap” mengandung makna lebih luas daripada sekadar hilang secara fisik; ia dapat dimaknai sebagai hilangnya identitas, kepedulian, bahkan kemanusiaan di tengah hiruk-pikuk kota.

Suasana dalam puisi

Puisi ini membangun suasana waspada, cemas, dan muram. Nada peringatan terasa kuat, terutama melalui pengulangan waktu (“tiap detik, tiap jam”) dan penutup yang menggantung: “Siapa tahu”.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk tidak lengah terhadap keselamatan, keutuhan, dan keberadaan sesama—terutama keluarga. Puisi mengingatkan bahwa kehilangan bisa terjadi kapan saja, dan kepedulian adalah bentuk kewaspadaan paling dasar dalam menghadapi kerasnya kehidupan kota.

Puisi "Waspada" karya Slamet Sukirnanto adalah peringatan singkat namun tajam tentang kehidupan modern yang rawan kehilangan. Dengan bahasa ekonomis dan simbol yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk terus menjaga kesadaran, kepedulian, dan kewaspadaan agar manusia tidak sekadar hadir, lalu lenyap, di tengah rimba kota dan zaman.

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Waspada
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.