Analisis Puisi:
Puisi “Yang Terusir” merupakan puisi sangat singkat namun padat makna. Dengan diksi sederhana dan struktur minimalis, penyair menghadirkan pernyataan eksistensial tentang keberadaan manusia yang tidak dapat sepenuhnya dihapus atau disingkirkan. Puisi ini berbicara tentang pengusiran secara fisik yang berhadapan dengan keberadaan yang lebih hakiki: waktu dan ingatan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keteguhan eksistensi diri di tengah penolakan atau pengusiran. Puisi menyoroti bahwa seseorang mungkin dapat disingkirkan secara lahiriah, tetapi keberadaannya tetap melekat dalam dimensi waktu, ingatan, atau sejarah.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang diusir dari ruang fisik—dari depan pintu atau dari tempat tinggal hingga harus pergi ke jalanan sepi. Namun, ia menegaskan bahwa meskipun tubuhnya dapat diusir, keberadaannya tidak bisa dihapus dari waktu.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa keberadaan manusia tidak hanya ditentukan oleh ruang fisik, melainkan juga oleh jejak waktu, pengalaman, dan ingatan. Seseorang bisa diasingkan dari tempat, tetapi tidak bisa dihapus dari sejarah hidup orang lain atau dari perjalanan waktu itu sendiri.
Puisi ini juga dapat dimaknai sebagai refleksi tentang identitas dan harga diri: pengusiran sosial tidak serta-merta menghapus martabat atau keberadaan seseorang.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi cenderung tegas, sunyi, dan reflektif. Ada nuansa kesepian pada frasa “jalanan sepi”, tetapi diimbangi oleh keteguhan dan keyakinan pada larik penutup. Keseluruhan suasana terasa tenang namun kuat, seperti pernyataan batin yang mantap.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat puisi ini adalah bahwa manusia tidak dapat sepenuhnya dihapus oleh penolakan atau pengusiran orang lain. Setiap individu memiliki jejak dalam waktu yang tidak bisa dihilangkan. Puisi ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh penerimaan atau penolakan eksternal.
Selain itu, terdapat pesan tentang ketahanan batin dan keberanian mempertahankan eksistensi di tengah keterasingan.
Puisi “Yang Terusir” karya Nenden Lilis Aisyah menunjukkan kekuatan puisi minimalis dalam menyampaikan gagasan eksistensial yang mendalam. Melalui gambaran pengusiran fisik yang sederhana, penyair menegaskan bahwa keberadaan manusia tidak dapat dihapus dari waktu. Puisi ini menjadi pernyataan tentang keteguhan diri, martabat, dan jejak manusia yang melampaui ruang fisik.
Puisi: Yang Terusir
Karya: Nenden Lilis Aisyah
Biodata Nenden Lilis Aisyah:
- Nenden Lilis Aisyah lahir di Malangbong, Garut, Jawa Barat, pada tanggal 26 September 1971.