Puisi: Sajak Cinta Malam Paskah (Karya Frans Nadjira)

Puisi “Sajak Cinta Malam Paskah” karya Frans Nadjira bercerita tentang seseorang yang menyaksikan sengsara sosok yang dicintainya (ditandai dengan ...
Sajak Cinta Malam Paskah

        Sarungkanlah pedangmu kembali
        karena semua orang yang main pedang
        akan mati dengan pedang.

Ini saja cinta pengantin-Mu. Sentuh tanganku
bimbing aku ke sumsum matahari
biar jelas
beda warna langit dan warna tanah
darah perpisahan. Terjaga aku
menyaksikan ciuman dingin itu.
Melihat-Mu melintas di kamar berbau
damar dan amis kuningan. Setengah ciuman
        lidah pahit
        menelan ludah api
        menelan ranting berduri
Menyaksikan gelombang hawa panas
menyeret-Mu kemudian meninggalkan-Mu
dengan langit menganga di atas-Mu
dengan jubah bersulam angin dan bunga-bunga
cuka yang terluka punggungnya. Jemput sukmaku
kita ke sumsum matahari
biar jelas nyeri gurun pembuangan kita.

.................................................................................

Sumber: Jendela Jadikan Sajak (2003)

Analisis Puisi:

Puisi “Sajak Cinta Malam Paskah” karya Frans Nadjira merupakan sajak religius-kontemplatif yang memadukan simbol penderitaan, cinta ilahi, dan pengalaman spiritual. Judul yang merujuk pada Malam Paskah segera mengarahkan pembacaan pada peristiwa sengsara dan pengorbanan Kristus, sementara bahasa puisi menghadirkan pengalaman batin penyair sebagai saksi sekaligus pengikut cinta ilahi tersebut.

Tema

Tema puisi ini adalah cinta ilahi yang terwujud melalui penderitaan dan pengorbanan. Puisi menyoroti relasi antara manusia dengan sosok Ilahi (Engkau) yang mengalami luka, kematian, dan penebusan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyaksikan sengsara sosok yang dicintainya (ditandai dengan huruf kapital “Mu”), yang merujuk pada figur Kristus. Penyair memohon untuk disentuh dan dibimbing menuju “sumsum matahari” (pusat terang ilahi), agar memahami makna penderitaan dan perpisahan. Ia melihat tubuh yang diseret panas, langit menganga di atasnya, serta simbol luka dan cuka—semua mengarah pada adegan penyaliban.

Dengan demikian, puisi adalah kesaksian spiritual: manusia menyaksikan pengorbanan Ilahi dan merindukan persatuan dengannya.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini berkaitan dengan pemahaman bahwa cinta tertinggi lahir dari pengorbanan. Kutipan pembuka tentang pedang (“semua orang yang main pedang akan mati dengan pedang”) menegaskan penolakan kekerasan duniawi dan mengarahkan pada jalan kasih.

“Sumsum matahari” menyimbolkan inti terang kebenaran, sedangkan “nyeri gurun pembuangan kita” mengisyaratkan kondisi manusia yang terasing dari Tuhan. Puisi menyiratkan bahwa melalui penderitaan Kristus, manusia diajak memahami asal-usul luka spiritualnya dan kembali menuju terang.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa khusyuk, muram, dan sakral. Ada nuansa penderitaan dan kematian, tetapi sekaligus pengharapan spiritual. Penggunaan kata seperti “cium an dingin”, “darah perpisahan”, dan “gurun pembuangan” memperkuat kesan duka religius.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Pesan yang dapat ditangkap adalah bahwa cinta sejati menuntut pengorbanan dan kerendahan hati, bukan kekerasan. Manusia diajak menempuh jalan kasih, memahami penderitaan sebagai bagian dari penebusan, serta mendekat pada sumber terang Ilahi.

Puisi “Sajak Cinta Malam Paskah” menghadirkan pengalaman religius yang intens: penyair menyaksikan sengsara Kristus sebagai wujud cinta ilahi dan merindukan persatuan dengannya. Melalui simbol pedang, darah, duri, dan matahari, Frans Nadjira menegaskan bahwa jalan cinta adalah jalan pengorbanan. Puisi ini bukan sekadar renungan Paskah, melainkan refleksi mendalam tentang luka manusia dan harapan kembali pada terang Ilahi.

Frans Nadjira
Puisi: Sajak Cinta Malam Paskah
Karya: Frans Nadjira

Biodata Frans Nadjira:
  1. Frans Nadjira lahir pada tanggal 3 September 1942 di Makassar, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.