Puisi: Sajak Kemarau (Karya Abdul Hadi WM)

Puisi "Sajak Kemarau" karya Abdul Hadi WM bercerita tentang pengalaman seseorang yang berada di tengah suasana kota pada malam hari—lampu, kawat ...
Sajak Kemarau

Lampu-lampu. Serta kawat-kawat tilpon
Lalu sepi pun mengalir ke pohon-pohon
Aku dan Umbu. Masih menginginkan
Malam larut perlahan
Beberapa diam masih bersitegang dengan koran
Dan mobil-mobil ingar lari

Dalam galau sepi ini jugakah kita bertahan
Kau dan aku. Hamzah Fansuri dalam syair perahunya
Sedang gereja itupun ingin angin terpendam
Sedang mesjit itupun ingin dingin terpendam
Sedang sebahagian adegan di firdaus
Menyentak kita dari alkitab
Yang menceritarakan tentang Muhammad dan Yesus
Tentang beberapa hukuman bagi bangsa Yahudi

Gedung demi gedung. Serta beberapa restoran
Terbuka kira-kira seratus rahasia, dari acuan
Yang berjalan dalam arus lewat perlahan
Kemudian bulan membungkukkan badannya:
Sebelum pada akhirnya sepi bertahta
Dalam galau itu juga
Merangkaki masmur yang hilang. Membacakan
Qur'an tanpa kumandang.

1967

Sumber: Horison (Maret, 1968)

Analisis Puisi:

Puisi "Sajak Kemarau" merupakan salah satu karya Abdul Hadi WM yang memperlihatkan perenungan mendalam tentang kehidupan urban, spiritualitas, dan kegelisahan manusia modern. Puisi ini tidak hanya bergerak pada lanskap fisik kota, tetapi juga pada lanskap batin yang kering, sunyi, dan penuh pertanyaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kegersangan batin manusia modern yang hidup di tengah keramaian kota. Kemarau dalam puisi tidak semata-mata bermakna musim, melainkan kondisi spiritual dan eksistensial: kekeringan makna, iman, dan ketenteraman.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang berada di tengah suasana kota pada malam hari—lampu, kawat telepon, mobil, gedung, dan restoran—namun justru merasakan sepi yang mendalam. Penyair dan “Umbu” hadir sebagai sosok yang masih ingin bertahan dalam kegamangan, sambil merenungi teks-teks suci, tokoh-tokoh spiritual, dan simbol-simbol agama yang seolah kehilangan daya hidupnya.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan kritik halus terhadap kehidupan modern yang hiruk-pikuk tetapi miskin kedalaman rohani. Penyebutan gereja, masjid, Alkitab, dan Qur’an tanpa kumandang mengisyaratkan bahwa nilai-nilai spiritual masih ada, tetapi terpendam dan tidak lagi menjadi pusat kehidupan manusia. Kemarau di sini adalah metafora bagi keterasingan manusia dari sumber makna sejatinya.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana dalam puisi yang murung, galau, dan sunyi. Walaupun latarnya penuh aktivitas—mobil berlari, restoran terbuka, gedung berdiri—suasana batinnya justru hening dan tegang, seakan-akan sepi “bertahta” di tengah keramaian.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk merenungkan kembali kehidupan spiritual di tengah modernitas. Puisi ini menyiratkan pentingnya kesadaran batin dan pencarian makna, agar manusia tidak sepenuhnya tenggelam dalam rutinitas duniawi yang kering dan mekanis.

Puisi "Sajak Kemarau" memperlihatkan kepiawaian Abdul Hadi WM dalam meramu pengalaman kota, kegelisahan eksistensial, dan refleksi spiritual menjadi satu kesatuan puitik. Puisi ini tidak menawarkan jawaban pasti, tetapi membuka ruang kontemplasi tentang makna hidup di tengah kemarau batin manusia modern.

Puisi Abdul Hadi WM
Puisi: Sajak Kemarau
Karya: Abdul Hadi WM

Biodata Abdul Hadi WM:
  • Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
  • Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.