Puisi: Sajak Kota (Karya Wiji Thukul)

Puisi "Sajak Kota" merupakan ekspresi keprihatinan dan pertanyaan kritis terhadap arah dan tujuan pembangunan kota serta dampaknya terhadap rakyat.
Sajak Kota

kota macam apa yang kita bangun
mimpi siapa yang ditanam
di benak rakyat
siapa yang merencanakan

lampu
lampu
menyibak jalan raya
jalan raya dilicinkan
diaspal oleh uang rakyat
motor-motor mulus meluncur
merek-merek iklan
merek-merek iklan
di atap gedung
menyala
berjejer-jejer
toko roti
toko sepatu
berjejer-jejer
salon-salon kecantikan
siapa merencanakan
nasib rakyat?

Sumber: Aku Ingin Jadi Peluru (2000)

Analisis Puisi:

Puisi "Sajak Kota" karya Wiji Thukul mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis tentang pembangunan kota, kepentingan siapa yang diutamakan, dan bagaimana kebijakan pembangunan dapat mempengaruhi kehidupan rakyat. Puisi ini menyuarakan keprihatinan terhadap arah pembangunan yang mungkin diarahkan oleh pihak-pihak tertentu tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan aspirasi rakyat.

Refleksi atas Pembangunan: Puisi ini membuka dengan pertanyaan retoris tentang kota seperti apa yang sedang dibangun dan siapa yang bertanggung jawab atas impian atau rencana pembangunan tersebut. Ini menunjukkan kegelisahan penulis terhadap arah dan tujuan dari pembangunan tersebut, serta apakah pembangunan tersebut benar-benar melayani kepentingan rakyat.

Pertanyaan Tentang Kepentingan: Dengan pertanyaan "siapa yang merencanakan," puisi ini mengundang pertimbangan tentang siapa yang sebenarnya di belakang rencana pembangunan kota dan apakah rencana ini benar-benar mengutamakan kepentingan rakyat. Puisi ini mencoba menggugah rasa ingin tahu dan kekritisan terhadap kebijakan pembangunan yang mungkin diatur oleh kepentingan tertentu.

Kesan Visual dan Material Kota: Puisi ini menggunakan imaji visual untuk menggambarkan suasana kota yang dipenuhi dengan lampu dan tanda-tanda iklan dari berbagai merek. Gambaran ini merujuk pada citra kota modern yang kaya akan konsumsi dan materialisme. Namun, melalui penggambaran ini, penulis mungkin juga ingin mengkritik bagaimana fokus pada konsumsi dan komersialisasi dapat mengesampingkan kepentingan masyarakat.

Kekhawatiran terhadap Nasib Rakyat: Puisi ini berakhir dengan pertanyaan retoris tentang siapa yang merencanakan nasib rakyat. Ini menyiratkan kekhawatiran penulis tentang dampak pembangunan kota terhadap kehidupan dan kesejahteraan rakyat. Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih kritis terhadap kebijakan pembangunan dan bagaimana hal itu mempengaruhi kehidupan mereka.

Puisi "Sajak Kota" merupakan ekspresi keprihatinan dan pertanyaan kritis terhadap arah dan tujuan pembangunan kota serta dampaknya terhadap rakyat. Dengan mempertanyakan siapa yang sebenarnya merencanakan dan diuntungkan oleh pembangunan tersebut, puisi ini mendorong pembaca untuk melihat lebih dalam dan lebih kritis terhadap perubahan yang terjadi di sekitar mereka.

Puisi: Sajak Kota
Puisi: Sajak Kota
Karya: Wiji Thukul

Biodata Wiji Thukul:
  • Wiji Thukul lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 26 Agustus 1963.
  • Nama asli Wiji Thukul adalah Wiji Widodo.
  • Wiji Thukul menghilang sejak tahun 1998 dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya (dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer).
© Sepenuhnya. All rights reserved.