Sajak Menjelang Kiamat, Kiamat dan Sesudahnya
megaku mega sepi
pulang ia
ke tenggara
kaliku kali kering
larut ia
bah ke laut
gunungku gunung hantu
nganga ia
gua batu
bila sepi itu menghantu
laut kering
batu leleh
tak puisi
tak penyair
adakah kata,
di orbitnya
Sumber: Penyair Muda di depan Forum (1976)
Analisis Puisi:
Puisi “Sajak Menjelang Kiamat, Kiamat dan Sesudahnya” karya Joss Sarhadi merupakan puisi yang sangat ringkas namun sarat muatan simbolik. Dengan larik-larik pendek dan repetitif, penyair menghadirkan gambaran kehancuran kosmis sekaligus kehancuran bahasa dan makna. Puisi ini bekerja melalui kesenyapan, pengulangan, dan ketiadaan, seolah ingin menunjukkan batas terakhir dari kata dan puisi itu sendiri.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehampaan menjelang dan sesudah kiamat, baik dalam pengertian alam semesta maupun dalam ranah bahasa dan penciptaan makna. Kiamat tidak hanya dipahami sebagai kehancuran fisik, tetapi juga sebagai runtuhnya sistem tanda, kata, dan kesadaran manusia.
Puisi ini bercerita tentang perubahan dan lenyapnya unsur-unsur alam: mega yang sepi, sungai yang kering, laut yang kehilangan air, gunung yang menjadi hantu, hingga batu yang meleleh. Semua bergerak menuju keadaan tanpa bentuk dan tanpa makna. Pada titik tertentu, puisi bahkan menyatakan ketiadaan puisi dan penyair itu sendiri.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah gagasan bahwa kiamat bukan sekadar peristiwa dahsyat di luar diri manusia, melainkan juga kehancuran kesadaran, bahasa, dan daya cipta. Ketika alam runtuh dan sepi “menghantu”, maka kata kehilangan orbitnya. Puisi ini menyiratkan bahwa bahasa hanya hidup selama semesta dan kesadaran masih berfungsi; ketika semuanya runtuh, kata pun kehilangan pijakan.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana sunyi, mencekam, dan hampa. Kesenyapan menjadi elemen dominan, diperkuat oleh pengulangan kata “sepi”, “kering”, dan gambaran alam yang mati. Suasana ini menegaskan kondisi pascakiamat yang tidak lagi menyisakan kehidupan maupun suara.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini mengingatkan manusia akan kefanaan segala hal, termasuk bahasa dan penciptaan sastra. Puisi ini seakan menegaskan bahwa manusia dan kata-katanya tidaklah abadi. Ketika kesadaran kosmis runtuh, maka kesombongan manusia terhadap peran kata dan penyair pun gugur dengan sendirinya.
Puisi "Sajak Menjelang Kiamat, Kiamat dan Sesudahnya" karya Joss Sarhadi adalah puisi kontemplatif yang menempatkan kiamat sebagai peristiwa fisik sekaligus linguistik. Dengan bahasa yang minimal dan simbolik, puisi ini mengajak pembaca merenungkan batas terakhir keberadaan manusia, alam, dan kata-kata—ketika segalanya hancur, bahkan puisi pun kehilangan orbitnya.
Puisi: Sajak Menjelang Kiamat, Kiamat dan Sesudahnya
Karya: Joss Sarhadi
Biodata Joss Sarhadi:
Nama lengkapnya adalah Joseph Suminto Sarhadi.