Puisi: Adalah Kita (Karya Lazuardi Anwar)

Puisi “Adalah Kita” karya Lazuardi Anwar menegaskan bahwa sejarah, perubahan, dan bahkan keterperdayaan adalah hasil dari tindakan bersama—“aku, ...
Adalah Kita

Adalah kita
adalah kita
aku
engkau dan semua.

Adalah kita membelai ketinggian matahari
adalah kita menjenguk keterbanan laut
adalah kita menembus dinding batu
dengan ujung mata berpeluru.

Adalah kita memutar balikkan
segala ini
sungai-sungai memutar ke hulu
bermuara tidak ke laut, tidak perlu pelabuhan.

Aku, engkau dan semua berdiri
di semua simpang perjalanan hari
matahari harus menekurkan wajah
bulan-bulan membelalakkan biji mata.

Adalah kita pemegang knop penjuru angin
ke timur, barat, utara, selatan
ke timur laut, barat laut, tenggara, barat daya
dan kita akhirnya pun terperdaya.

Adalah kita
adalah kita
aku
engkau dan semua

1972

Sumber: Pelabuhan (1980)

Analisis Puisi:

Puisi “Adalah Kita” karya Lazuardi Anwar merupakan sajak yang penuh energi kolektif dan semangat kebersamaan. Dengan repetisi frasa “Adalah kita”, penyair menegaskan posisi manusia—bukan sebagai individu yang terpisah, melainkan sebagai kekuatan bersama: “aku, engkau dan semua.” Puisi ini terasa seperti deklarasi, bahkan manifesto, tentang peran manusia dalam membentuk arah kehidupan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kebersamaan dan kekuatan kolektif manusia. Penyair menekankan bahwa perubahan, kekuasaan, dan bahkan kesalahan adalah hasil dari tindakan “kita”—bukan hanya satu orang.

Selain itu, terdapat tema tentang ambisi dan keterperdayaan. Manusia digambarkan memiliki kuasa besar, tetapi pada akhirnya tetap bisa terperdaya oleh kuasa yang diciptakannya sendiri.

Puisi ini bercerita tentang “kita”—yakni aku, engkau, dan semua orang—yang memiliki kekuatan untuk menjangkau matahari, laut, dan bahkan memutar balikkan alur sungai. Kita berdiri di semua simpang perjalanan hari, seolah-olah menjadi penentu arah waktu dan peristiwa.

Manusia digambarkan mampu memegang “knop penjuru angin”, mengatur arah timur, barat, utara, selatan, hingga segala penjuru. Namun di akhir puisi, ada pengakuan bahwa “kita akhirnya pun terperdaya.” Artinya, di balik kekuasaan besar itu, manusia tetap memiliki kelemahan.

Puisi ini seperti perjalanan dari rasa percaya diri kolektif menuju kesadaran akan keterbatasan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini sangat kaya:
  • Manusia sebagai pusat perubahan. “Adalah kita membelai ketinggian matahari” menyiratkan bahwa manusia memiliki daya cipta dan daya ubah yang luar biasa.
  • Kebersamaan sebagai kekuatan. Dengan menyebut “aku, engkau dan semua”, penyair menolak individualisme. Segala pencapaian maupun kesalahan adalah hasil kebersamaan.
  • Ambisi yang melampaui batas alam. Sungai memutar ke hulu dan tidak perlu pelabuhan adalah simbol keinginan manusia untuk menentang kodrat dan sistem alam.
  • Keterperdayaan sebagai refleksi diri. Walau memegang “knop penjuru angin”, manusia tetap bisa terperdaya—oleh ambisi, kekuasaan, atau ilusi keagungan.
Puisi ini dapat dibaca sebagai refleksi sosial dan eksistensial: manusia adalah pelaku sejarah, tetapi juga korban dari pilihannya sendiri.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini dinamis dan penuh semangat pada bagian awal. Repetisi “Adalah kita” menciptakan nada deklaratif dan percaya diri.

Namun menjelang akhir, suasana berubah menjadi reflektif dan sedikit getir, terutama ketika muncul larik “dan kita akhirnya pun terperdaya.” Ada kesadaran akan batas dan kesalahan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Secara implisit, amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa manusia harus menyadari kekuatan kolektifnya sekaligus menyadari keterbatasannya.

Kebersamaan memberi daya untuk mengubah dunia, tetapi tanpa kebijaksanaan, kekuasaan itu bisa menjerumuskan. Puisi ini mengajak pembaca untuk tidak hanya bangga sebagai “kita”, tetapi juga mawas diri terhadap akibat dari tindakan bersama.

Melalui puisi “Adalah Kita”, Lazuardi Anwar menghadirkan sajak yang menggugah kesadaran kolektif. Puisi ini menegaskan bahwa sejarah, perubahan, dan bahkan keterperdayaan adalah hasil dari tindakan bersama—“aku, engkau dan semua.”

Sajak ini bukan hanya tentang kekuatan manusia, tetapi juga tentang tanggung jawabnya. Sebab jika “adalah kita” yang memegang penjuru angin, maka “adalah kita” pula yang harus menanggung akibat dari arah yang dipilih.

Lazuardi Anwar
Puisi: Adalah Kita
Karya: Lazuardi Anwar

Biodata Lazuardi Anwar:
  • Lazuardi Anwar lahir pada tanggal 12 april 1941 di Pariaman, Sumatera Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.