Puisi: Affandi Penghuni Rumah Pohon (Karya Sitor Situmorang)

Puisi "Affandi Penghuni Rumah Pohon" tidak hanya sebuah penghormatan terhadap Affandi sebagai seniman, tetapi juga sebuah refleksi mendalam tentang ..
Affandi Penghuni Rumah Pohon
(Untuk puteriku Ratna)

Andaikata
bisa berjabat tangan
menyalami para empu
perancang Candi Prambanan pencipta Lara Jonggrang
yang namanya tak tercatat
bisa bercakap-cakap seniman desa
pemahat patung kayu di Pulau Kei
andaikata -
bisa kenal seniman yang meniupkan nafas Ken Dedes
ke dalam batu gunung.

Affandi! Ini sekadar
Berandai-andai, menyatakan hormat
Kepada semua karya batin kekal
yang terus hadir seperti kenangan padamu
yang selalu dapat kujumpai
di suasana sehari-hari Yogya
tergurat pada wajahmu
di balik kepulan asap cangklongmu -

jawaban (atas tanya tak terucap):
Tebing-tebing sungai Gajah Wong
sebaik pilihan tempat kerja
dan bersamadi
sampai di akhir hayat,

berdiam di rumah pohon
perwujudan khayal masa kanak
berlindung di bawah atap “daun pisang”
dalam buaian balok-balok jati
penyangga langit, karya Tjokot
putera tradisi utama Bali.

Wajah di balik citra lukisan,
percikan nyala warna alam Nusantara
bara cinta delapan matahari
pada penghuni tebing-tebing
jagad raya petani Gajah Wong

tempatmu setiap kali kudatangi
tempatmu kusalami
di antara batu-batu
muntahan lahar Merapi.

1992

Sumber: Sitor Situmorang, kumpulan Sajak 1980-2005 (2006)

Analisis Puisi:

Puisi "Affandi Penghuni Rumah Pohon" karya Sitor Situmorang adalah sebuah penghormatan yang puitis terhadap seniman besar Indonesia, Affandi, serta refleksi atas kehidupan dan karya seninya yang menginspirasi.

Struktur dan Gaya Bahasa

Puisi ini terstruktur dalam beberapa bagian yang terhubung oleh tema kesenian, alam, dan penghargaan terhadap Affandi. Situmorang menggunakan bahasa yang kuat dan imajinatif untuk menggambarkan Affandi sebagai figur yang menghuni alam dan seni. Penggunaan "andaikata" di awal puisi memberikan nuansa khayalan dan penghargaan yang dalam terhadap kebesaran karya Affandi.

Tema dan Makna

Puisi ini menyoroti tema tentang kebesaran seni, hubungan manusia dengan alam, dan penghormatan terhadap warisan budaya. Dengan merujuk pada karya-karya Affandi seperti lukisan-lukisan yang mencerminkan kehidupan sehari-hari dan alam Nusantara, Situmorang mengungkapkan kekagumannya terhadap pencapaian seni dan kreativitas Affandi.

"Penghuni rumah pohon" menjadi metafora untuk Affandi yang hidup dalam kesederhanaan dan kebersamaan dengan alam, sejalan dengan nilai-nilai kehidupan tradisional Indonesia yang diwakili oleh rumah pohon dan atap daun pisang.

Interpretasi dan Kesimpulan

Puisi "Affandi Penghuni Rumah Pohon" tidak hanya sebuah penghormatan terhadap Affandi sebagai seniman, tetapi juga sebuah refleksi mendalam tentang kehidupan, seni, dan alam. Situmorang dengan kepekaannya dalam menangkap esensi seni dan kehidupan, berhasil menciptakan sebuah karya yang menggugah rasa kebanggaan akan warisan budaya Indonesia dan keindahan alam Nusantara.

Dengan demikian, puisi ini bukan hanya sebagai ungkapan penghargaan, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya kesederhanaan, keindahan alam, dan warisan budaya dalam kehidupan kita. Situmorang melalui karyanya mengajak pembaca untuk merenungkan dan menghargai nilai-nilai yang terkandung dalam seni dan alam yang begitu dekat dengan jiwa bangsa Indonesia.

Puisi: Affandi Penghuni Rumah Pohon
Puisi: Affandi Penghuni Rumah Pohon
Karya: Sitor Situmorang

Biodata Sitor Situmorang:
  • Sitor Situmorang lahir pada tanggal 2 Oktober 1923 di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatra Utara.
  • Sitor Situmorang meninggal dunia pada tanggal 21 Desember 2014 di Apeldoorn, Belanda.
  • Sitor Situmorang adalah salah satu Sastrawan Angkatan 45; yang juga menggeluti profesi sebagai wartawan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.