Puisi: Ajakan (Karya Supii Wishnukuntjahja)

Puisi “Ajakan” karya Supii Wishnukuntjahja merupakan seruan reflektif sekaligus persuasif yang ditujukan kepada seseorang—disebut sebagai “kawan”—...

Ajakan

Kepada mereka yang ketinggalan

Kawan
kenapa kepalamu lunglai terkulai
dan mukamu mendukung mendung
meneduhi kertas gersang berserakan?

Kemarin masih membuih sorak lagakmu
melebihi sorai serdadu yang sedang maju
dan cibiran bibirmu anyir
gelap ngendapi tepian hati
serasa terban angkasa di duli kaki

Segar benar kataku kemarin
salah kakimu memijak jejak
dan kini papan tempatmu berdiri
retak rusak, badanmu selembam gajah
jatuh luluh terkapah di lembah rendah
serta tahtamu yang indah megah
rebah punah dicemar ludah dan sampah

Meskipun kau lari terengah setengah mati
atau teriak segalak anjing menyalak
suaramu sumbang tak 'nyelarasi nyanyi kini
dan harini tetap harini
kemarinmu tetap mati

Tapi,
bisa juga harini kau jalan lagi
menderapi hari baru dan jalan baru
asal kakimu ganti berdiri
bersama kami di dataran jalan mentari
di taufan barisan makin lama makin perkasa
mencipta dunia di mana cinta merata
dan sumbercipta menggelora tanpa tiada

Bangkitlah kawan, tegakkan badan
sampingkan keisengan dan kehampaan
pacukan jalan susul barisan
yo hayo
yo hayo
maju
maju
di hari baru
di jalan baru
ke dunia baru
majuuu!!!

Sumber: Majalah Kebudayaan Indonesia VI (Oktober-November-Desember, 1955)

Analisis Puisi:

Puisi “Ajakan” merupakan seruan reflektif sekaligus persuasif yang ditujukan kepada seseorang—disebut sebagai “kawan”—yang mengalami kemunduran, keterpurukan, atau bahkan kehancuran harga diri. Melalui bahasa yang penuh energi, sindiran, dan metafora kuat, penyair menghadirkan perjalanan emosional dari kejatuhan menuju kebangkitan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kebangkitan dari keterpurukan dan ajakan untuk kembali berjuang bersama.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang seorang “kawan” yang dulu penuh semangat, lantang, bahkan mungkin arogan, tetapi kini terpuruk.

Pada bagian awal, penyair menggambarkan perubahan drastis:

“kenapa kepalamu lunglai terkulai
dan mukamu mendukung mendung”

Dulu ia “membuih sorak lagakmu” dan bersuara lantang “melebihi sorai serdadu yang sedang maju”. Namun kini, tempat berpijaknya retak, tahtanya runtuh, dan kehormatannya tercemar.

Bagian tengah puisi menunjukkan bahwa segala usaha lari atau teriak tidak lagi berarti. Masa lalu tidak bisa dihidupkan kembali:

“harini tetap harini
kemarinmu tetap mati”

Namun pada bagian akhir, puisi berubah menjadi ajakan kolektif. Penyair membuka kemungkinan baru: jika sang kawan mau berdiri bersama barisan, dunia baru bisa diciptakan.

Makna Tersirat

Di balik kisah personal antara “aku” dan “kawan”, terdapat makna yang lebih luas.
  • Kritik terhadap kesombongan dan kekuasaan semu. Gambaran “tahtamu yang indah megah / rebah punah dicemar ludah dan sampah” menyiratkan bahwa kekuasaan yang tidak berpijak pada nilai bersama akan runtuh.
  • Kesalahan langkah membawa kehancuran. “Salah kakimu memijak jejak” menjadi simbol bahwa satu keputusan keliru dapat mengubah nasib.
  • Masa lalu tidak bisa diulang. Baris “kemarinmu tetap mati” menunjukkan kesadaran waktu: penyesalan tidak cukup, yang dibutuhkan adalah tindakan baru.
  • Perjuangan harus kolektif. Ajakan untuk berdiri “bersama kami di dataran jalan mentari” menunjukkan bahwa kebangkitan tidak bersifat individualistis, tetapi harus dalam barisan.
Puisi ini bisa dimaknai sebagai sindiran sosial-politik, tetapi juga relevan secara personal dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi bergerak dinamis:
  • Muram dan sinis pada bagian awal. Tampak dari gambaran “mukamu mendukung mendung” dan “kertas gersang berserakan”.
  • Kritik tajam dan getir di bagian tengah. Nada sindiran terasa keras, bahkan sarkastik, ketika menggambarkan kehancuran tahta dan suara yang sumbang.
  • Optimistis dan membakar semangat di bagian akhir. Repetisi “maju”, “hari baru”, “jalan baru”, “dunia baru” menciptakan atmosfer penuh energi dan harapan.
Perubahan suasana ini menegaskan transformasi dari kejatuhan menuju kebangkitan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat utama puisi ini adalah:
  • Jangan terpuruk terlalu lama dalam kegagalan.
  • Tinggalkan kesombongan dan keisengan yang sia-sia.
  • Masa lalu tidak bisa dihidupkan kembali, tetapi masa depan bisa dibangun.
  • Bangkitlah dan berjuang bersama untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan penuh cinta.
Ajakan “Bangkitlah kawan, tegakkan badan” bukan hanya motivasi personal, melainkan seruan kolektif untuk bergerak maju.

Puisi “Ajakan” karya Supii Wishnukuntjahja adalah puisi yang kuat secara emosional dan retoris. Bukan sekadar teguran terhadap seseorang yang jatuh, melainkan panggilan untuk kembali berdiri bersama. Puisi ini tegas: masa lalu telah selesai, tetapi hari baru selalu tersedia bagi mereka yang mau bangkit dan melangkah maju.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Ajakan
Karya: Supii Wishnukuntjahja

Biodata Supii Wishnukuntjahja:
  • Supii Wishnukuntjahja (kadang ditulis S. Wishnukuntjahja / S.W. Kuntjahja) lahir pada tahun 1928 di Kesamben, Blitar.
  • Supii Wishnukuntjahja meninggal dunia pada tanggal 9 Juli 1999 pagi hari di Malang, Jawa Timur, karena sakit hati parah (lever akut) yang telah lama dideritanya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.