Puisi: Anak Bajoe (Karya Bambang Widiatmoko)

Puisi “Anak Bajoe” karya Bambang Widiatmoko bercerita tentang kehidupan anak-anak Bajoe yang tinggal di rumah panggung di atas laut. Titian papan ...
Anak Bajoe

Di atas titian papan yang bergetar
Kumasuki rumah tak berpintu tak berpagar
Anak-anak Bajoe berlompatan di sela-sela tiang
Menganggap laut bagian tulang rusuknya

Menyelam di kedalaman laut
Dengan mata dan hidung terbuka
Tubuh laksana ikan layang-layang
Timbul tenggelam di sisi perahu nelayan

Anak-anak Bajoe bertubuh legam
Matanya menyiratkan kejujuran terpendam
Menjemur teripang dengan bertelanjang dada
Matahari telah bersatu dengan jiwanya

Sumber: Kota Tanpa Bunga (Bukupop, 2008)

Analisis Puisi:

Puisi “Anak Bajoe” karya Bambang Widiatmoko menghadirkan potret kehidupan anak-anak suku Bajau (Bajoe), masyarakat pesisir yang akrab dengan laut. Melalui larik-larik yang deskriptif dan hangat, penyair menggambarkan kedekatan fisik dan batin anak-anak Bajoe dengan alam bahari. Laut bukan sekadar ruang hidup, melainkan bagian dari identitas mereka.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan anak-anak pesisir yang menyatu dengan laut. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema:
  • Kesederhanaan hidup masyarakat bahari.
  • Hubungan manusia dan alam.
  • Kejujuran dan kemurnian masa kanak-kanak.
Puisi ini bercerita tentang kehidupan anak-anak Bajoe yang tinggal di rumah panggung di atas laut. Titian papan yang bergetar menjadi pintu masuk menuju dunia mereka—rumah tanpa pintu dan pagar, simbol keterbukaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Identitas yang menyatu dengan alam. Ungkapan bahwa laut adalah “bagian tulang rusuknya” menyiratkan bahwa laut adalah bagian tak terpisahkan dari diri mereka.
  • Kebebasan dan kejujuran hidup sederhana. Rumah tanpa pintu dan pagar melambangkan keterbukaan dan kebersahajaan.
  • Ketangguhan sejak dini. Anak-anak yang menyelam dan bekerja menjemur teripang menunjukkan kedewasaan yang tumbuh dari lingkungan keras namun alami.
  • Harmoni manusia dan matahari. “Matahari telah bersatu dengan jiwanya” menyiratkan ketahanan dan penerimaan terhadap alam.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi terasa:
  • Hangat.
  • Natural dan bersahaja.
  • Penuh kekaguman.
  • Cerah dan hidup.
Meski menggambarkan kehidupan sederhana, suasananya bukan muram, melainkan penuh vitalitas.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Manusia dapat hidup selaras dengan alam tanpa kehilangan martabatnya.
  • Kesederhanaan bukan kelemahan, melainkan kekuatan.
  • Anak-anak yang tumbuh dekat dengan alam memiliki ketangguhan dan kejujuran batin.
  • Kehidupan modern patut belajar dari kearifan masyarakat pesisir.
Puisi “Anak Bajoe” karya Bambang Widiatmoko adalah potret puitis tentang kehidupan anak-anak pesisir yang menyatu dengan laut. Melalui imaji yang kuat dan metafora yang indah, penyair menghadirkan dunia yang sederhana namun penuh vitalitas.

Puisi ini bukan hanya deskripsi kehidupan bahari, tetapi juga penghormatan terhadap kejujuran, ketangguhan, dan harmoni manusia dengan alam.

Bambang Widiatmoko
Puisi: Anak Bajoe
Karya: Bambang Widiatmoko
© Sepenuhnya. All rights reserved.