Puisi: Antara Diri dan Waktu (Karya Fridolin Ukur)

Puisi "Antara Diri dan Waktu" karya Fridolin Ukur merupakan refleksi eksistensial tentang hubungan manusia dengan waktu, usia, tanggung jawab, dan ...
Antara Diri dan Waktu

Antara diri dan waktu
Selesai membenahi ruangan
— kawan-kawan segera akan datang —
naskah musyawarah baru saja selesai dirumuskan;
mata terpandang nanar
pada kalender tergantung di ruang belajar
diri pun terkejut sadar:
besok akan kulewati usia empat enam!

        Apakah waktu mengkhianati aku
        ketika aku disibuki dengan ceramah
        ketika aku berkhotbah tentang
        cakar hitam dan pagi biru,
        ketika gairah kuhabiskan di konferensi
        dan rapat-rapat,
        ketika istri kucium sebentar, lalu pergi
        ketika anakku lelaki hanya menatap
        ayahnya pamit berangkat

Hari ini aku berangkat menua
melampaui usia empat lima,
mengakhiri usia empat enam;
masih ada waktu melempar bayang
menanya diri dan kesilaman:
tentang khianat dan bakti
tentang dosa dan pengampunan suci
tentang kawan berdoa pengisi sunyi

        Ini tidak berarti
        permainan akan selesai

dan aku boleh pergi meninggalkan gelanggang;
barangkali peranan akan bertukar!

Tapi kita masih bisa jaga dan menatap
semalam suntuk
lalu bersama masuki hari penuh cahaya
memberikan sisa usia
pada waktu yang kian memadat,
pada cinta keramat yang tetap hangat

Cipinang Jaya, 5 April 1976

Sumber: Wajah Cinta (2000)

Analisis Puisi:

Puisi "Antara Diri dan Waktu" karya Fridolin Ukur merupakan refleksi eksistensial tentang hubungan manusia dengan waktu, usia, tanggung jawab, dan makna hidup. Melalui perenungan personal yang jujur, penyair menghadirkan kesadaran akan pertambahan usia sekaligus evaluasi terhadap perjalanan hidup yang telah dilalui.

Puisi ini bergerak dari kesibukan lahiriah menuju keheningan batin, dari aktivitas sosial menuju pertanyaan spiritual.

Tema

Tema utama puisi ini adalah refleksi diri dalam menghadapi pertambahan usia dan waktu yang terus berjalan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tanggung jawab, pengorbanan, relasi keluarga, serta pencarian makna hidup.

Waktu tidak sekadar menjadi latar, tetapi menjadi pusat kontemplasi yang menguji kesetiaan, pengabdian, dan cinta.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang selesai menyiapkan berbagai tanggung jawab—musyawarah, ceramah, konferensi, dan rapat—lalu tiba-tiba tersadar oleh kalender bahwa usianya akan memasuki angka empat puluh enam.

Kesadaran tersebut memunculkan pertanyaan batin: apakah waktu telah “mengkhianati” dirinya? Ataukah justru ia yang terlalu sibuk hingga melewatkan momen bersama keluarga—istri yang hanya sempat dicium sebentar, anak yang hanya menatap saat ayahnya pamit?

Di tengah kesadaran akan proses menua, penyair merenungkan kembali makna bakti, dosa, pengampunan, serta relasi spiritual. Namun puisi ini tidak berakhir dalam keputusasaan. Ada optimisme: permainan belum selesai, peran mungkin akan bertukar, dan masih ada kesempatan untuk memberikan sisa usia kepada waktu dan cinta.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa waktu tidak pernah benar-benar mengkhianati manusia; manusialah yang sering lalai memaknai waktu. Kesibukan sosial, jabatan, dan aktivitas publik dapat membuat seseorang kehilangan kedekatan personal dan spiritual.

Pertanyaan tentang “khianat dan bakti”, “dosa dan pengampunan suci” menunjukkan pergulatan batin antara pencapaian duniawi dan pertanggungjawaban moral.

Kalender dalam puisi ini menjadi simbol kesadaran eksistensial—pengingat bahwa usia terus bergerak maju tanpa kompromi.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini bersifat reflektif, kontemplatif, dan sedikit melankolis. Namun pada bagian akhir, suasana berubah menjadi penuh harapan dan tekad.

Nada puisi tidak dramatik, melainkan tenang dan jernih, seperti seseorang yang berbicara kepada dirinya sendiri dalam keheningan malam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya kesadaran akan waktu dan keseimbangan hidup. Kesibukan dan pengabdian sosial harus tetap disertai perhatian terhadap keluarga, diri sendiri, dan kehidupan spiritual.

Puisi ini juga menegaskan bahwa pertambahan usia bukan akhir dari perjuangan. Selama masih ada waktu, manusia dapat memperbaiki peran, menjaga cinta, dan mengisi sisa usia dengan makna.

Puisi "Antara Diri dan Waktu" adalah puisi refleksi yang mendalam tentang usia, tanggung jawab, dan harapan. Fridolin Ukur menampilkan pergulatan batin seorang individu yang menyadari perjalanan waktunya, sekaligus menegaskan bahwa hidup belum selesai.

Melalui suasana kontemplatif dan bahasa simbolik, puisi ini mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, menatap kalender kehidupan, dan memaknai waktu sebagai anugerah yang harus dijaga dengan cinta dan kesadaran.

Fridolin Ukur
Puisi: Antara Diri dan Waktu
Karya: Fridolin Ukur

Biodata Fridolin Ukur:
  • Fridolin Ukur lahir di Tamiang Layang, Kalimantan Tengah, pada tanggal 5 April 1930.
  • Fridolin Ukur meninggal di Jakarta, pada tanggal 26 Juni 2003 (pada umur 73 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.