Api
api yang bernama rahmat
tak mungkin dimatikan, tak akan kumatikan
maka kubiarkan menjilat mata batinku
membakar gelap tergelap perabot kamar impian
bisiknya:
: - korek saja rasa nyeri dari rongga benakmu
cukil saja lalu bakar abukan kosongkan bola mata
dari angan hitam kelabu
: - dunia kita dunia yang telanjur
: - mau apa lagi? mau apa lagi?
sebelum pergi rahmat mengecup kerut dahiku
dan jiwa pun penuh!
(dan pipiku kiri kanan masih merah bekas ciuman)
(dan wajahku masih merah dadu)
: - jalan, nak, anak lanang
suatu waktu siapa pun pasti tertegun
seperti kamu.
Angke, 9 Maret 1983
Sumber: Aku Ingin Jadi Peluru (2000)
Analisis Puisi:
Puisi "Api" karya Wiji Thukul adalah karya yang penuh dengan simbolisme dan emosi yang kuat. Puisi ini menyiratkan banyak makna.
Simbolisme Api: Api dalam puisi ini dapat diartikan sebagai metafora untuk semangat, hasrat, atau tekad yang tak terbatas. Api adalah kekuatan yang tidak bisa dimatikan dan selalu berkobar. Ini bisa mencerminkan semangat perjuangan, keinginan untuk berubah, atau tekad untuk membebaskan diri dari belenggu.
Konflik Internal: Puisi ini menciptakan gambaran tentang konflik internal dalam diri penyair. Ada perasaan nyeri, ketidakpuasan, dan keinginan untuk mengubah situasi yang ada. Metafora "cukil saja lalu bakar" menggambarkan keinginan untuk menghilangkan ketidakpuasan yang mendalam.
Penolakan Terhadap Keadaan: Penyair menolak keadaan atau realitas yang ada dalam hidupnya. Dia mungkin merasa terbelenggu oleh kondisi sosial atau politik yang ada di sekitarnya dan merindukan perubahan.
Pertanyaan Eksistensial: Bagian puisi yang berisi "dunia kita dunia yang telanjur" mengajukan pertanyaan eksistensial tentang arti hidup dan perannya dalam dunia ini. Ini adalah pertanyaan yang mendalam tentang eksistensi dan tujuan hidup.
Perubahan dan Transformasi: Ada elemen transformasi dalam puisi ini, terutama ketika penyair mengatakan "sebelum pergi rahmat mengecup kerut dahiku dan jiwa pun penuh." Ini bisa menunjukkan perubahan batin atau pemahaman yang mendalam setelah menghadapi konflik internal dan ketidakpuasan.
Puisi "Api" adalah puisi yang penuh dengan emosi dan makna. Puisi ini menggambarkan pertarungan batin penyair, konflik dengan kondisi hidup, dan hasrat untuk perubahan. Melalui simbolisme api yang berkobar, puisi ini mendorong pembaca untuk merenungkan perjuangan manusia dalam menghadapi tantangan dan ketidakpuasan dalam hidup.
Karya: Wiji Thukul
Biodata Wiji Thukul:
- Wiji Thukul lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 26 Agustus 1963.
- Nama asli Wiji Thukul adalah Wiji Widodo.
- Wiji Thukul menghilang sejak tahun 1998 dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya (dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer).
