Batu-Batu Beterbangan
batu-batu beterbangan, lalu hinggap perlahan-lahan
dalam kenangan
dingin hari, dingin luka dan dingin bulan
menolak hujan membasah bumi
kupukul punuk sapiku
gong berbunyi
kudengar derap tanpa langkah
tapi jejak-jejak nasib membercak
menyuruh pohon bunga condong ke tengah telaga
darah madura yang merah
berangkat bersama jagung dan padi
tapi seperti tertulis di nisan-nisan tua
senyum adalah ukuran pertama
batu-batu beterbangan, lalu hinggap perlahan-lahan
dalam kenyataan
aku ingin bernyanyi
tak ingin berhenti
Sumber: Horison (Maret-April, 1982)
Analisis Puisi:
Puisi “Batu-Batu Beterbangan” karya D. Zawawi Imron merupakan sajak yang sarat simbol, identitas kultural, dan pergulatan batin. Dengan gaya khas yang memadukan lanskap alam, tradisi Madura, serta refleksi eksistensial, puisi ini bergerak dari kenangan menuju kenyataan, dari luka menuju nyanyian.
Diksi yang digunakan sederhana, tetapi imajinatif dan berlapis makna. Batu, darah, jagung, padi, hingga senyum menjadi simbol-simbol yang membangun dunia puitik yang kuat.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ingatan kolektif, identitas, dan keteguhan hidup. Puisi ini juga mengangkat tema tentang luka sejarah dan keberanian untuk tetap bernyanyi di tengah kenyataan yang keras.
Ada pula tema tentang nasib dan perjalanan hidup masyarakat Madura, yang tercermin dalam ungkapan “darah madura yang merah.”
Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang batu-batu yang beterbangan dan kemudian hinggap dalam kenangan serta kenyataan. Batu bisa dimaknai sebagai simbol peristiwa keras—konflik, pertentangan, atau ujian hidup.
Suasana “dingin hari, dingin luka dan dingin bulan” menggambarkan keadaan yang beku dan menyakitkan. Alam seperti menolak hujan membasahi bumi, seakan-akan harapan tertahan.
Pada bagian tengah, penyair memukul punuk sapi hingga gong berbunyi. Ini menghadirkan suasana ritual atau tradisi agraris. Derap tanpa langkah dan jejak-jejak nasib memperlihatkan perjalanan hidup yang tak selalu terlihat, tetapi nyata dampaknya.
Ungkapan “darah madura yang merah berangkat bersama jagung dan padi” menyiratkan kehidupan masyarakat agraris yang keras namun penuh semangat. Meski nisan tua menjadi pengingat kematian, “senyum adalah ukuran pertama”—sebuah nilai hidup yang diwariskan.
Puisi ditutup dengan keinginan untuk terus bernyanyi, menandakan keteguhan dan daya hidup yang tak padam.
Makna Tersirat
Puisi ini berkaitan dengan pengalaman sejarah dan budaya Madura. “Batu-batu beterbangan” dapat dimaknai sebagai simbol konflik atau ujian hidup. Namun ketika batu itu “hinggap perlahan-lahan dalam kenangan,” artinya luka-luka masa lalu menjadi bagian dari sejarah yang diendapkan.
“Dingin luka” dan “dingin bulan” menggambarkan suasana batin yang membeku, tetapi tidak selamanya. Keinginan untuk bernyanyi di akhir puisi menunjukkan sikap optimis dan keberanian menghadapi kenyataan.
“Senyum adalah ukuran pertama” menyiratkan bahwa harga diri dan kehormatan diukur dari keteguhan dan kelapangan hati, bukan dari kekerasan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa muram dan reflektif pada bagian awal, lalu berangsur menjadi tegar dan penuh daya hidup di bagian akhir. Ada perpaduan antara kesedihan dan keberanian.
Nuansa dingin dan luka diimbangi oleh tekad untuk tetap bernyanyi—menciptakan atmosfer yang kontemplatif sekaligus membangkitkan semangat.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa luka dan konflik adalah bagian dari perjalanan hidup, tetapi manusia tidak boleh berhenti bersuara atau berkarya.
Puisi ini juga menyiratkan pesan tentang pentingnya menjaga identitas dan martabat. Meski kenyataan keras, senyum dan nyanyian menjadi bentuk perlawanan yang halus namun kuat.
Puisi “Batu-Batu Beterbangan” karya D. Zawawi Imron menghadirkan perpaduan antara luka sejarah, identitas budaya, dan keteguhan batin. Batu yang beterbangan tidak hanya melambangkan kerasnya kehidupan, tetapi juga kenangan yang akhirnya mengendap menjadi pelajaran.
Melalui simbol-simbol alam dan tradisi, penyair menegaskan bahwa meski kenyataan kadang dingin dan melukai, manusia tetap memiliki suara—dan nyanyian itu tak boleh berhenti.

Puisi: Batu-Batu Beterbangan
Karya: D. Zawawi Imron
Biodata D. Zawawi Imron:
- D. Zawawi Imron lahir pada tanggal 1 Januari 1945 di desa Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.