Analisis Puisi:
Puisi “Belajar Kembali Alifbata” karya Sitor Situmorang merupakan refleksi intelektual sekaligus pernyataan sikap tentang bahasa, sastra, dan posisi penyair Indonesia dalam percaturan dunia. Puisi ini memadukan kesadaran lokal (“bahasa Indonesia”, “penghuni Nusantara”) dengan referensi global seperti The Gulag Archipelago karya Aleksandr Solzhenitsyn dan penyair Rusia Boris Pasternak. Bahkan disebut pula nama Arthur Rimbaud dan Chairil Anwar sebagai simbol tradisi puitik dunia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian identitas bahasa dan tanggung jawab penyair dalam dunia sastra. Ada ketegangan antara sastra dunia dan bahasa ibu, antara universalitas dan kepribumian.
Tema lainnya adalah pembelajaran kembali—kerendahan hati untuk “belajar alifbata” sastra, meski sudah menjadi penyair. Ini menunjukkan kesadaran bahwa bahasa dan sastra adalah proses yang tak pernah selesai.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merenungkan posisinya sebagai penyair Indonesia dalam lanskap sastra dunia. Ia menegaskan bahwa bahasanya adalah bahasa Indonesia, tetapi ia juga tidak menutup diri terhadap karya-karya besar dunia seperti Arkipelag Gulag dan sajak-sajak Pasternak.
Ia menyadari bahwa puisi bukan sekadar bentuk (“bukan sekadar gatra”), bukan hiburan ringan (“tidak pula pasar malam”), melainkan sesuatu yang menuntut kedalaman, keberanian, dan tanggung jawab.
Penyair bahkan menyatakan kesediaannya untuk belajar kembali dari awal—“alifbata sastra”—termasuk melafalkan kata-kata berat seperti “Arkipelag Gulag” yang sarat sejarah penderitaan manusia.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa sastra sejati berhubungan dengan kemanusiaan universal. Ketika penyair menyebut “Arkipelag Gulag,” ia tidak sekadar menyebut judul buku, tetapi merujuk pada sejarah represi, penjara, dan penderitaan manusia di bawah rezim totaliter.
Dengan mengulang “Arkipelag Gulag” dan menyebut “lorong-lorong penjara ibukota-ibukota benua,” puisi ini menyiratkan bahwa tragedi kemanusiaan tidak terbatas pada satu bangsa. Sastra menjadi jembatan empati lintas batas.
Namun di sisi lain, penyair menegaskan pentingnya bahasa Indonesia sebagai medium utama. Ada pesan bahwa keterbukaan pada dunia tidak berarti kehilangan akar.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung reflektif, serius, dan penuh kesadaran intelektual. Tidak ada ledakan emosi, melainkan perenungan yang dalam dan jernih. Nada puisi terasa seperti pernyataan sikap yang matang.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa penyair harus rendah hati dan terus belajar. Bahasa bukan sekadar alat estetika, melainkan sarana memahami dan menyuarakan kemanusiaan.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa sastra bukan milik segelintir “kaum estetika” saja. Ia adalah “bahasa manusia, paling sederhana.” Artinya, sastra harus kembali pada kemanusiaan, bukan sekadar permainan simbol yang elitis.
Selain itu, ada ajakan untuk tetap berakar pada bahasa sendiri, sembari terbuka pada pengalaman dunia.
Puisi “Belajar Kembali Alifbata” karya Sitor Situmorang adalah refleksi mendalam tentang bahasa, identitas, dan tanggung jawab moral sastra. Puisi ini menjadi pernyataan penting tentang hubungan antara kepribumian dan universalitas dalam sastra.
Karya: Sitor Situmorang
Biodata Sitor Situmorang:
- Sitor Situmorang lahir pada tanggal 2 Oktober 1923 di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatra Utara.
- Sitor Situmorang meninggal dunia pada tanggal 21 Desember 2014 di Apeldoorn, Belanda.
- Sitor Situmorang adalah salah satu Sastrawan Angkatan 45; yang juga menggeluti profesi sebagai wartawan.
