Puisi: Belajar Kembali Alifbata (Karya Sitor Situmorang)

Puisi “Belajar Kembali Alifbata” karya Sitor Situmorang bercerita tentang seseorang yang merenungkan posisinya sebagai penyair Indonesia dalam ...
Belajar Kembali Alifbata
suatu hari dalam hidup Solzhenitsyn

Sastra dunia? Bahasaku bahasa Indonesia,
semoga bicaraku mengandung diam,
diammu semakin jelas berkata.

Ternyata puisi memang
bukan sekadar gatra
tidak pula pasar malam
dan semudah menyeberang lapangan.

Yang mati pun belajar kembali
gagap melafal kata-kata: Arkipelag Gulag,
dan sajak-sajak Pasternak.

Sastra rahasia? Bahasa manusia,
paling sederhana. Sandi gelap
bagi kaum estetika.
(Yang bukan penyair tak ambil bagian
rahasia Rimbaud dan cintanya Chairil Anwar)

Tapi aku pun sedia belajar
alifbata sastra
bahasa sehari-hari
penghuni Nusantara,
bahasa lain aku tak bisa.

Aku harus bersedia
belajar alifbata, walau gagap:
Arkipelag Gulag, Arkipelag Gulag,
kepribumian Pasternak,
Sepanjang lorong-lorong penjara
ibukota-ibukota benua.
Sepanjang jalur-jalur angkasa
kejatuhan dan kebangkitan manusia

di hutan dan padang es
masa depan manusia.

1977

Sumber: Biksu Tak Berjubah (Komunitas Bambu, 2004)

Analisis Puisi:

Puisi “Belajar Kembali Alifbata” karya Sitor Situmorang merupakan refleksi intelektual sekaligus pernyataan sikap tentang bahasa, sastra, dan posisi penyair Indonesia dalam percaturan dunia. Puisi ini memadukan kesadaran lokal (“bahasa Indonesia”, “penghuni Nusantara”) dengan referensi global seperti The Gulag Archipelago karya Aleksandr Solzhenitsyn dan penyair Rusia Boris Pasternak. Bahkan disebut pula nama Arthur Rimbaud dan Chairil Anwar sebagai simbol tradisi puitik dunia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian identitas bahasa dan tanggung jawab penyair dalam dunia sastra. Ada ketegangan antara sastra dunia dan bahasa ibu, antara universalitas dan kepribumian.

Tema lainnya adalah pembelajaran kembali—kerendahan hati untuk “belajar alifbata” sastra, meski sudah menjadi penyair. Ini menunjukkan kesadaran bahwa bahasa dan sastra adalah proses yang tak pernah selesai.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merenungkan posisinya sebagai penyair Indonesia dalam lanskap sastra dunia. Ia menegaskan bahwa bahasanya adalah bahasa Indonesia, tetapi ia juga tidak menutup diri terhadap karya-karya besar dunia seperti Arkipelag Gulag dan sajak-sajak Pasternak.

Ia menyadari bahwa puisi bukan sekadar bentuk (“bukan sekadar gatra”), bukan hiburan ringan (“tidak pula pasar malam”), melainkan sesuatu yang menuntut kedalaman, keberanian, dan tanggung jawab.

Penyair bahkan menyatakan kesediaannya untuk belajar kembali dari awal—“alifbata sastra”—termasuk melafalkan kata-kata berat seperti “Arkipelag Gulag” yang sarat sejarah penderitaan manusia.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa sastra sejati berhubungan dengan kemanusiaan universal. Ketika penyair menyebut “Arkipelag Gulag,” ia tidak sekadar menyebut judul buku, tetapi merujuk pada sejarah represi, penjara, dan penderitaan manusia di bawah rezim totaliter.

Dengan mengulang “Arkipelag Gulag” dan menyebut “lorong-lorong penjara ibukota-ibukota benua,” puisi ini menyiratkan bahwa tragedi kemanusiaan tidak terbatas pada satu bangsa. Sastra menjadi jembatan empati lintas batas.

Namun di sisi lain, penyair menegaskan pentingnya bahasa Indonesia sebagai medium utama. Ada pesan bahwa keterbukaan pada dunia tidak berarti kehilangan akar.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung reflektif, serius, dan penuh kesadaran intelektual. Tidak ada ledakan emosi, melainkan perenungan yang dalam dan jernih. Nada puisi terasa seperti pernyataan sikap yang matang.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa penyair harus rendah hati dan terus belajar. Bahasa bukan sekadar alat estetika, melainkan sarana memahami dan menyuarakan kemanusiaan.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa sastra bukan milik segelintir “kaum estetika” saja. Ia adalah “bahasa manusia, paling sederhana.” Artinya, sastra harus kembali pada kemanusiaan, bukan sekadar permainan simbol yang elitis.

Selain itu, ada ajakan untuk tetap berakar pada bahasa sendiri, sembari terbuka pada pengalaman dunia.

Puisi “Belajar Kembali Alifbata” karya Sitor Situmorang adalah refleksi mendalam tentang bahasa, identitas, dan tanggung jawab moral sastra. Puisi ini menjadi pernyataan penting tentang hubungan antara kepribumian dan universalitas dalam sastra.

Puisi Sitor Situmorang
Puisi: Belajar Kembali Alifbata
Karya: Sitor Situmorang

Biodata Sitor Situmorang:
  • Sitor Situmorang lahir pada tanggal 2 Oktober 1923 di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatra Utara.
  • Sitor Situmorang meninggal dunia pada tanggal 21 Desember 2014 di Apeldoorn, Belanda.
  • Sitor Situmorang adalah salah satu Sastrawan Angkatan 45; yang juga menggeluti profesi sebagai wartawan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.