Puisi: Berangkat Kerja (Karya Supii Wishnukuntjahja)

Puisi “Berangkat Kerja” karya Supii Wishnukuntjahja adalah potret perjuangan kaum pekerja yang hidup dalam keterbatasan, namun tidak kehilangan ...

Berangkat Kerja

Mengoyak fajar samar
menyingkap selimut kabut
melangkah
goyah
rebah
meraba
melata
berdiri
gontai
lapar
gemetar

Rengek anak pecah berantakan
ditelan kekelaman awan
tenggelam
karam
dan parau isteri menyanyi
menusuk mengorek hati
sedih
pedih

Melompong kantong bolong
ompong
kosong
uang
barang
airmata
tawa
segala
terperas
tandas
hilang
musna

Tapi menggelora cita dan cinta
menggelombang taufan harapan
emoh diperas
emoh ditindas
emoh tumpas
emoh tandas
bekerja
berlaga
berjuang
menerjang
menang
kuasa
bahagia
bahagia 

Bergegap langkah menderap
tersingkap asap penggelap
menipis awan terkikis
lenyap
habis

Dan berseri dewi pagi
mentari
bunga
kekasih
segala
jernih
putih
gemilang
menang!!!

Sumber: Majalah Kebudayaan Indonesia VI (Oktober-November-Desember, 1955)

Analisis Puisi:

Puisi “Berangkat Kerja” karya Supii Wishnukuntjahja menghadirkan gambaran kerasnya realitas hidup kaum pekerja, sekaligus semangat pantang menyerah yang menyala di tengah keterbatasan. Struktur puisinya yang ritmis, penuh pengulangan, dan didominasi kata-kata pendek menciptakan tempo yang dinamis—seolah mengikuti langkah kaki seseorang yang berangkat kerja di pagi buta.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjuangan hidup seorang pekerja dalam menghadapi kemiskinan dan tekanan ekonomi. Di balik itu, terdapat pula tema tentang harapan, cinta keluarga, dan daya tahan manusia terhadap penindasan. Puisi ini memperlihatkan kontras antara penderitaan material dan kekayaan semangat batin.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berangkat kerja saat fajar masih samar. Ia melangkah dalam kondisi lemah—“goyah, rebah, meraba, melata”—menunjukkan betapa berat beban hidup yang dipikulnya.

Di rumah, terdengar “rengek anak” dan suara istri yang parau. Kantong kosong, uang dan barang habis, segala terasa terperas dan musna. Gambaran ini memperlihatkan kemiskinan yang nyata dan menyesakkan.

Namun di tengah kekurangan itu, tokoh dalam puisi tidak menyerah. Cita dan cinta justru “menggelora”. Harapan menjadi kekuatan untuk terus bekerja, berlaga, berjuang, hingga akhirnya menuju kemenangan dan kebahagiaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kemiskinan bukan akhir dari segalanya. Penderitaan material memang nyata, tetapi semangat dan cinta keluarga mampu menjadi energi untuk bertahan.

Kata “emoh diperas, emoh ditindas” menyiratkan perlawanan terhadap sistem atau keadaan yang menekan kaum kecil. Ada semangat resistensi sosial yang kuat, meski disampaikan dalam bahasa puitis.

Bagian akhir puisi—dengan hadirnya “dewi pagi”, “mentari”, dan “gemilang”—menunjukkan optimisme. Setelah malam dan asap penggelap tersingkap, terang akan datang. Ini bisa dimaknai sebagai harapan bahwa perjuangan akan membuahkan hasil.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini berubah-ubah secara dinamis:
  • Pada bagian awal, suasana terasa suram, lelah, dan getir.
  • Pada bagian tengah, suasana menjadi tegang dan penuh perlawanan.
  • Di bagian akhir, suasana berubah menjadi optimistis, penuh semangat, bahkan heroik.
Perubahan suasana ini selaras dengan perjalanan batin tokoh dari keterpurukan menuju harapan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini adalah pentingnya keteguhan hati dalam menghadapi kesulitan hidup. Pekerjaan bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan perjuangan demi keluarga dan martabat.

Puisi ini juga menyampaikan pesan agar manusia tidak mudah menyerah pada keadaan. Selama cita dan cinta masih menyala, harapan tetap ada. Perjuangan yang konsisten dapat mengubah kegelapan menjadi terang.

Puisi “Berangkat Kerja” karya Supii Wishnukuntjahja adalah potret perjuangan kaum pekerja yang hidup dalam keterbatasan, namun tidak kehilangan harapan. Melalui bahasa yang padat, ritmis, dan penuh energi, penyair menunjukkan bahwa cinta dan cita-cita mampu mengalahkan kemiskinan dan tekanan hidup.

Puisi ini bukan sekadar kisah tentang berangkat kerja, melainkan tentang keberanian menghadapi hidup—tentang langkah yang terus maju meski lapar dan gemetar, hingga akhirnya menyongsong pagi yang gemilang dan penuh kemenangan.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Berangkat Kerja
Karya: Supii Wishnukuntjahja

Biodata Supii Wishnukuntjahja:
  • Supii Wishnukuntjahja (kadang ditulis S. Wishnukuntjahja / S.W. Kuntjahja) lahir pada tahun 1928 di Kesamben, Blitar.
  • Supii Wishnukuntjahja meninggal dunia pada tanggal 9 Juli 1999 pagi hari di Malang, Jawa Timur, karena sakit hati parah (lever akut) yang telah lama dideritanya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.