Puisi: Berkata Seorang Pengunjung Balai Kota (Karya Leon Agusta)

Puisi “Berkata Seorang Pengunjung Balai Kota” karya Leon Agusta bercerita tentang seorang pengunjung yang datang ke balai kota dan berbicara kepada ..
Berkata Seorang Pengunjung Balai Kota

Telah tuan silakan aku duduk, Walikota
Terimakasih
Tempatku bukan di sini dan aku pun tergesa
Dan tuan pun sibuk sekali
Biarlah aku berdiri saja, bicara sepatah dua

Pintu kota ini sungguh ramah terbuka
Tamu-tamu datang dari segala penjuru dunia
Sandiwara lagikah yang tuan pertunjukkan
Mereka punya mata dan pena. Dan juga kamera
Mereka heran, karena kita rela saja sengsara

Di atas kepala melengkung langit sediakala
kabut silih melayang senantiasa
Dan kota pun bertanya, aku ini buat siapa?
Penganggur dan pengemis gelandangan di trotoir
Memandang ke kantor kota dengan mata sayu berlinang
Dan katak-katak pun bercanda jantan betina

Tuan telah saksikan, dan aku pun kan segera keluar
Perkenankanlah kami membacakan sajak-sajak
Bagi bumi dimana kelam tidak beranjak
Saksikanlah pula kami berkemah. Dan
Menyalakan unggun buat berdiang anak beranak
Sebab di luar ruang ini dingin membeku
Selimutkan gelisah bagi setiap pejalan kaki

Terimakasih tuan Walikota
Tempatku bukan di sini dan aku bergegas
Dan tuan pun sibuk sekali

1967

Sumber: Horison (Desember, 1968)

Analisis Puisi:

Puisi “Berkata Seorang Pengunjung Balai Kota” karya Leon Agusta menghadirkan suara lirih namun tajam dari seorang warga yang berbicara langsung kepada penguasa kota. Melalui gaya tutur yang sopan, bahkan cenderung merendah, puisi ini justru menyimpan kritik sosial yang kuat terhadap situasi kota dan kepemimpinan yang abai pada penderitaan rakyatnya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik sosial terhadap kekuasaan dan ketimpangan sosial di perkotaan. Penyair menyoroti jarak antara pejabat (Walikota) dan rakyat kecil yang hidup dalam kesulitan. Kota digambarkan sebagai ruang yang tampak terbuka dan ramah di permukaan, tetapi menyimpan kenyataan pahit berupa pengangguran, gelandangan, dan kemiskinan.

Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang ironi demokrasi dan pencitraan, terutama ketika kota menerima tamu dari luar negeri sementara warganya sendiri masih hidup dalam kesengsaraan.

Puisi ini bercerita tentang seorang pengunjung yang datang ke balai kota dan berbicara kepada Walikota. Ia menolak duduk, merasa tempatnya bukan di ruang kekuasaan itu. Ia menyampaikan kegelisahan tentang kondisi kota—tentang rakyat yang sengsara, penganggur dan pengemis di trotoar, serta suasana dingin yang menyelimuti kehidupan masyarakat kecil.

Dalam percakapannya yang singkat, pengunjung itu seolah menjadi representasi suara rakyat. Ia menyinggung tentang “sandiwara” yang mungkin dipertunjukkan di hadapan tamu-tamu dunia. Ia mengingatkan bahwa dunia melihat, mencatat, dan memotret kenyataan kota tersebut.

Puisi ini bergerak dari ruang resmi balai kota menuju gambaran jalanan yang dingin, lalu kembali lagi ke penutup yang sopan namun penuh makna: “Tempatku bukan di sini.”

Makna Tersirat

Beberapa makna yang dapat ditangkap antara lain:
  • Sindiran terhadap pencitraan kekuasaan. Kalimat “Sandiwara lagikah yang tuan pertunjukkan” menyiratkan bahwa kepemimpinan kota mungkin lebih sibuk dengan penampilan dan pertunjukan politik daripada menyelesaikan persoalan nyata.
  • Kontras antara ruang kekuasaan dan realitas rakyat. Balai kota adalah simbol kemegahan, sementara trotoar adalah simbol keterasingan dan kemiskinan. Pengunjung merasa “tempatku bukan di sini”, menunjukkan jarak kelas sosial dan jarak emosional.
  • Pengawasan publik dan dunia internasional. “Mereka punya mata dan pena. Dan juga kamera” menyiratkan bahwa realitas tidak bisa ditutup-tutupi. Ada saksi yang mencatat dan menyebarkan keadaan yang sebenarnya.
  • Kota yang kehilangan tujuan. “Dan kota pun bertanya, aku ini buat siapa?” adalah pertanyaan eksistensial tentang arah pembangunan. Untuk siapa kota dibangun? Untuk pejabat? Untuk tamu asing? Atau untuk rakyatnya sendiri?

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi terasa:
  • Tegang namun terkendali.
  • Ironis dan menyindir.
  • Dingin dan muram.
  • Sarat kegelisahan sosial.
Nuansa dingin muncul secara fisik dan metaforis: “di luar ruang ini dingin membeku / Selimutkan gelisah bagi setiap pejalan kaki.” Dingin di sini bukan hanya suhu, melainkan ketidakpedulian dan kekosongan empati.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini antara lain:
  • Kekuasaan seharusnya berpihak pada rakyat kecil, bukan sibuk pada pencitraan.
  • Pembangunan kota harus menjawab kebutuhan warganya, terutama mereka yang terpinggirkan.
  • Suara rakyat, meski lirih dan sopan, tetap memiliki kekuatan moral.
  • Realitas sosial tidak dapat disembunyikan dari dunia.
Puisi ini mengajak pembaca—terutama para pemegang kekuasaan—untuk bercermin dan mendengar suara yang selama ini berdiri di luar ruang keputusan.

Puisi “Berkata Seorang Pengunjung Balai Kota” adalah puisi kritik sosial yang disampaikan dengan bahasa sopan, bahkan terkesan rendah hati, tetapi justru karena itu daya pukulnya terasa kuat. Penyair tidak berteriak, melainkan berbicara tenang—dan dalam ketenangan itu tersimpan gugatan moral.

Melalui dialog singkat di ruang kekuasaan, puisi ini menghadirkan potret kota yang retak: gemerlap di permukaan, namun dingin dan gelisah di luar ruang resmi. Ia mengingatkan bahwa kota bukan sekadar bangunan dan tamu-tamu internasional, melainkan manusia-manusia kecil yang memandang balai kota dengan mata sayu.

Puisi ini tetap relevan di berbagai zaman, karena pertanyaan “kota ini buat siapa?” selalu layak diajukan kembali.

Leon Agusta
Puisi: Berkata Seorang Pengunjung Balai Kota
Karya: Leon Agusta

Biodata Leon Agusta:
  • Leon Agusta (Ridwan Ilyas Sutan Badaro) lahir pada tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2015 (pada umur 77) di Padang, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta adalah salah satu Sastrawan Angkatan 70-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.