Puisi: Berulangkali (Karya Saini KM)

Puisi "Berulangkali" karya Saini KM merupakan puisi reflektif-kritis yang menyoroti perilaku manusia—baik secara individu maupun kolektif—dalam ...
Berulangkali

Depan cermin dahsyat Sejarah, tak sehelai kain
dapat menutup ketelanjangan kita
Makanan bubuk
segala pakaian kebesaran dan topeng sandiwara!

Namun berulangkali kita rebut peran para dewa
Sambil menyumbat telinga dengan cumbu
dari mulut sendiri, kita ludahi nisan para leluhur
yang dari Kerajaan Maut berseru senantiasa.

Berulangkali menolak wajah sendiri
kita pukul kaca jernih Sejarah
berantakan. Lalu dengan buta-tuli dan luka-luka sempoyongan
tunggang-langgang ke arah Masadepan.

1963

Sumber: Horison (Juni, 1970)

Analisis Puisi:

Puisi "Berulangkali" karya Saini KM merupakan puisi reflektif-kritis yang menyoroti perilaku manusia—baik secara individu maupun kolektif—dalam menghadapi sejarah dan masa depan. Dengan diksi yang keras dan metafora yang tajam, penyair menyampaikan kritik terhadap kesombongan, pengingkaran diri, serta kecenderungan mengulang kesalahan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pengulangan kesalahan manusia dalam sejarah akibat kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran. Selain itu, terdapat tema tentang kemunafikan, penolakan identitas diri, serta kegagalan belajar dari masa lalu. Judul "Berulangkali" sendiri menegaskan siklus kesalahan yang terus terjadi tanpa refleksi.

Puisi ini bercerita tentang manusia yang berdiri di depan “cermin dahsyat Sejarah”, tetapi tidak mampu menutupi ketelanjangannya. Sejarah digambarkan sebagai cermin jernih yang memantulkan kebenaran tanpa bisa disamarkan oleh “pakaian kebesaran dan topeng sandiwara”.

Namun, alih-alih belajar, manusia justru “merebut peran para dewa”—bersikap sombong dan merasa maha kuasa. Mereka bahkan “meludahi nisan para leluhur”, simbol pengingkaran terhadap pelajaran masa lalu.

Pada akhirnya, karena menolak wajah sendiri dan memecahkan kaca sejarah, manusia berjalan sempoyongan menuju masa depan dalam keadaan buta dan terluka.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik terhadap arogansi manusia yang merasa lebih hebat daripada generasi sebelumnya. Ketika manusia menolak melihat kenyataan diri dan sejarahnya, ia justru menciptakan kehancuran baru.

“Cermin Sejarah” menyimbolkan kebenaran objektif yang tak dapat dimanipulasi. Ketelanjangan melambangkan dosa, kesalahan, atau kegagalan moral yang terbuka di hadapan waktu.

Sementara itu, tindakan “menyumbat telinga dengan cumbu dari mulut sendiri” menyiratkan sikap narsistik—manusia lebih suka mendengar pujian diri daripada kritik dan nasihat.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa keras, tegang, dan penuh sindiran. Nada puisi bersifat menghakimi sekaligus menggugah kesadaran. Ada kesan kemarahan intelektual terhadap perilaku manusia yang berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama. Atmosfernya serius dan reflektif, tanpa ruang untuk romantisasi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya belajar dari sejarah dan berani menghadapi kebenaran diri. Kesombongan dan penolakan terhadap masa lalu hanya akan membuat manusia mengulangi kesalahan yang sama.

Puisi ini mengingatkan bahwa masa depan tidak dapat dicapai dengan mata tertutup dan telinga tersumbat. Refleksi dan kerendahan hati adalah syarat untuk melangkah maju secara bermakna.

Puisi "Berulangkali" adalah puisi kritik yang tajam terhadap arogansi manusia dalam menghadapi sejarah. Saini KM menampilkan gambaran simbolik tentang manusia yang memecahkan cermin sejarah dan berjalan sempoyongan menuju masa depan.

Dengan bahasa metaforis yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk berhenti mengulang kesalahan, membuka mata terhadap kebenaran, dan menghargai pelajaran dari para leluhur.

Puisi Saini KM
Puisi: Berulangkali
Karya: Saini KM

Biodata Saini KM:
  • Nama lengkap Saini KM adalah Saini Karnamisastra.
  • Saini KM lahir pada tanggal 16 Juni 1938 di Kampung Gending, Desa Kota Kulon, Sumedang, Jawa Barat.
  • Saini KM dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1970-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.