Puisi: Bukit-Bukit Pasir (Karya Ragil Suwarna Pragolapati)

Puisi "Bukit-Bukit Pasir" karya Ragil Suwarna Pragolapati bercerita tentang perjalanan seorang Yogawan yang mengembara di gurun pasir. Dalam ...
Bukit-Bukit Pasir

Sang Yogawan pun mengembara, pagi-sore dan siang-malam
Di gurun pasir, dia asyik menyimak misteri kehidupan
“Tandus lagi kering. Panas dan lestari langka air
Di sini, Tuhan telah membangun Kerajaan Sunyi purbawi
Manusia harus bertahan, sekadar menjadi si minimalis
Akhirnya tahu, lapar-dahaga-lelah merutin sehari-hari
Tidak perlu minder dan malu, jadi miskin seperti darwis
Sukacita dan rasa-syukur kepada Allah menegas pada bumi
Kata dan kerja, laku dan gerak: Alhamdulillah! Kodrati
Setiap lekuk hidup: memuji Allah!” katanya amat takjub
Dia mencari ujung-pangkal hidup, pada seluruh penjuru
Kehidupan bukanlah monopoli oase yang menghijau subur
Dataran pasir pun hidup, bukan hamparan Kraton Maut
“Inilah bentangan Ilmu Tuhan, ayat yang nyata dahsyat
Diriku alangkah lemah. Aku ini kalah!” katanya sendat

“Uang dan harta-kekayaan, apakah artinya di tempat ini?
Gurun pasir ini pun kekayaan Tuhan, tiada ternilai duwit
Manusia betapa ringkih dan kerdil!” bisiknya dalam pedih
Dia berteriak sewaktu berdiri, mengguncang semesta sunyi
Menyapa angin. Menegur langit. Menyalami jagad misteri
“Di sini, kulihat jenis benda lain sama sekali. Pasir!
Selama ini, murid sekolah mengenal tiga benda fisika
Padat. Cair. Gas. Tapi pasir ini? Benda marginal, aneh
Bentuknya memang padat tulen, tapi sifatnya selabil air
Mudah bergerak. Gampang goyah. Destruktif oleh garamnya
Betapa benar Allah, melarang manusia membangun atas pasir
Bahaya oleh sifat labil,” katanya heran dalam kontemplasi
Sang Yogawan pun berjalan terus. Mengembarai semua penjuru
Dalam konsentrasi, ada penghayatan observasi dan syukur
Dalam kontemplasi, terbaca semesta ilmu-pengetahuan luhur
Dalam meditasi, ada mikro-kosmos dan makro-kosmos
melebur
Dalam extasi, ada keajaiban transendental kebahagiaan agung

Parangkusuma, 1980-1989

Sumber: Salam Penyair (2002)

Analisis Puisi:

Puisi "Bukit-Bukit Pasir" karya Ragil Suwarna Pragolapati merupakan puisi reflektif-religius yang memadukan perenungan spiritual dengan pengamatan alam. Melalui tokoh “Sang Yogawan” yang mengembara di gurun pasir, penyair menghadirkan kontemplasi tentang kehidupan, ketuhanan, ilmu pengetahuan, dan kerendahan hati manusia di hadapan semesta.

Puisi ini kaya akan simbol, terutama gurun pasir sebagai ruang tafakur sekaligus laboratorium spiritual.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian makna hidup melalui kontemplasi spiritual di tengah kesunyian alam. Selain itu, terdapat tema kesadaran akan kebesaran Tuhan, kerendahan eksistensi manusia, serta refleksi tentang ilmu pengetahuan dan kehidupan yang sederhana. Gurun pasir menjadi metafora ruang pembelajaran batin yang menghadirkan pengalaman transendental.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan seorang Yogawan yang mengembara di gurun pasir. Dalam pengembaraannya, ia tidak sekadar berjalan secara fisik, melainkan juga melakukan perjalanan batin. Ia menyimak “misteri kehidupan”, merenungi kemiskinan, kesederhanaan, dan ketergantungan manusia kepada Tuhan.

Di tengah kondisi tandus dan minim air, Sang Yogawan justru menemukan kekayaan spiritual. Ia menyadari bahwa kehidupan bukan hanya tentang “oase yang menghijau subur”, tetapi juga tentang ketabahan di tempat yang keras dan gersang.

Makna Tersirat

Puisi ini mengarah pada kesadaran bahwa keterbatasan material justru dapat membuka pintu kelimpahan spiritual. Gurun pasir melambangkan kondisi ekstrem kehidupan—kesulitan, kekeringan, dan kemiskinan—yang sering dihindari manusia. Namun di sanalah tersimpan “Kerajaan Sunyi purbawi”, tempat manusia belajar tentang hakikat diri.

Pasir juga menjadi simbol ketidakstabilan. Penyair menyinggung bahwa pasir memiliki bentuk padat tetapi sifatnya labil. Ini menyiratkan pesan bahwa kehidupan yang dibangun di atas fondasi rapuh—baik secara moral maupun spiritual—akan mudah runtuh.

Refleksi tentang mikro-kosmos dan makro-kosmos yang melebur menunjukkan kesadaran kesatuan antara manusia dan semesta dalam bingkai ketuhanan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung khusyuk, reflektif, dan penuh kekaguman spiritual. Ada rasa takjub terhadap kebesaran Tuhan, sekaligus kesadaran pedih akan kelemahan manusia. Nuansa kontemplatif sangat kuat, terutama pada bagian ketika Sang Yogawan menyadari bahwa dirinya “lemah” dan “kalah”. Kesunyian gurun justru menjadi ruang dialog batin yang intens.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya kerendahan hati di hadapan Tuhan dan alam semesta. Manusia tidak seharusnya menyombongkan harta dan kekayaan, sebab di ruang yang ekstrem seperti gurun, semua itu kehilangan arti.

Puisi ini juga mengajarkan bahwa kesederhanaan bukanlah kehinaan, melainkan jalan menuju kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Fondasi hidup yang kokoh harus dibangun bukan di atas “pasir” yang labil, tetapi di atas nilai dan keyakinan yang kuat.

Puisi "Bukit-Bukit Pasir" merupakan puisi religius-kontemplatif yang memadukan refleksi spiritual dan observasi ilmiah secara harmonis. Melalui figur Sang Yogawan, Ragil Suwarna Pragolapati menyampaikan bahwa di tengah kekeringan dan kesunyian, manusia justru dapat menemukan makna hidup yang terdalam.

Gurun bukanlah “Kraton Maut”, melainkan ruang belajar tentang ketundukan, syukur, dan kesadaran kosmis. Puisi ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa di balik kerasnya kehidupan, terdapat bentangan ilmu dan kasih Tuhan yang tak ternilai.

Ragil Suwarna Pragolapati
Puisi: Bukit-Bukit Pasir
Karya: Ragil Suwarna Pragolapati

Biodata Ragil Suwarna Pragolapati:
  • Ragil Suwarna Pragolapati lahir di Pati, pada tanggal 22 Januari 1948.
  • Ragil Suwarna Pragolapati dinyatakan menghilang di Parangtritis, Yogyakarta, pada tanggal 15 Oktober 1990.
  • Ragil Suwarna Pragolapati menghilang saat pergi bersemadi ke Gunung Semar. Dalam perjalanan pulang dari kaki Gunung Semar menuju Gua Langse (beliau berjalan di belakang murid-muridnya) tiba-tiba menghilang. Awalnya murid-muridnya menganggap hal tersebut sebagai kejadian biasa karena orang sakti lumrah bisa menghilang. Namun, setelah tiga hari tiga malam tidak kunjung pulang dan dicari ke mana-mana tidak diketemukan. Tidak jelas keberadaannya sampai sekarang, apakah beliau masih hidup atau sudah meninggal.
© Sepenuhnya. All rights reserved.