Buku Harian
Seolah-olah kau paham: mengapa waktu tidak bisa berlari mundur?
Supaya orang tidak tidur terlalu lama,
Supaya orang tidak segan mengunjungi bumi,
Supaya orang mati tak ada yang kembali,
Supaya bayi-bayi bisa merobohkan jeruji batas antara surga dan dunia
mempercepat waktu.
Sebercak tinta pena di sudut kanan bawah halaman buku,
Jendela kamar berderak, dan kata-kata itu mengandung wajahmu.
Kau ingin bercerita lagi pada halaman selanjutnya dengan menyekati tamu asing,
lembaran terlipat, dan kau menebas jarak.
Ceroboh membuatmu sepi.
Ledalero, 12/10/2020
Analisis Puisi:
Tema utama puisi "Buku Harian" adalah waktu, kenangan, dan eksistensi manusia. Puisi ini menyoroti keterbatasan waktu yang terus berjalan maju dan ketidakmampuan manusia untuk mengulang masa lalu. Selain itu, puisi ini juga menyentuh hubungan manusia dengan dunia dan kehidupan spiritual, di mana setiap momen memiliki makna dan keterkaitan yang dalam.
Makna Tersirat
Puisi ini menyiratkan kesadaran akan kefanaan manusia dan pentingnya meninggalkan jejak. Melki Deni mengajak pembaca untuk merenungkan:
- Waktu itu tidak bisa kembali, sehingga setiap tindakan dan pengalaman harus dihargai.
- Tulisan dan catatan dalam buku harian adalah simbol eksistensi dan identitas manusia.
- Kesepian dan jarak dalam kehidupan manusia adalah hal yang alami, tetapi dapat diatasi melalui refleksi dan ekspresi.
Puisi ini juga mengandung pesan filosofis tentang hubungan manusia dengan dunia dan alam semesta, di mana setiap momen memiliki signifikansi dan keterkaitan spiritual.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah pentingnya menghargai waktu dan meninggalkan jejak hidup. Melki Deni mengingatkan pembaca untuk menyadari keterbatasan waktu, kesepian, dan kenangan, sekaligus mendorong kita untuk mengekspresikan diri dan menjaga hubungan dengan dunia, manusia lain, serta diri sendiri.
Puisi "Buku Harian" adalah puisi yang reflektif, penuh simbol, dan emosional, menggambarkan hubungan manusia dengan waktu, kesepian, kenangan, dan eksistensi.
Puisi: Buku Harian
Karya: Melki Deni
Biodata Melki Deni:
- Melki Deni adalah mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores, NTT.
- Melki Deni menjuarai beberapa lomba penulisan karya sastra, musikalisasi puisi, dan sayembara karya ilmiah baik lokal maupun tingkat nasional.
- Buku Antologi Puisi pertamanya berjudul TikTok. Aku Tidak Klik Maka Aku Paceklik (Yogyakarta: Moya Zam Zam, 2022).