Analisis Puisi:
Puisi “Coro Lu! Maki Chef Itu pada Sang Coro” adalah karya satir yang tajam, jenaka, sekaligus getir. Darmanto Jatman menghadirkan tokoh “coro” (kecoak) yang masuk ke dunia manusia—khususnya dunia kaum intelektual Indonesia yang sedang makan pizza di restoran bergaya Barat.
Melalui perspektif seekor coro, penyair membongkar kemunafikan, ilusi demokrasi, dan absurditas perilaku manusia modern.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kritik sosial terhadap kemunafikan demokrasi dan perilaku kaum intelektual. Selain itu, puisi ini memuat tema:
- Satire terhadap elit terpelajar.
- Identitas dan martabat makhluk kecil.
- Ilusi kesetaraan.
- Konflik antara idealisme dan kenyataan.
Secara umum, puisi ini bercerita tentang seekor coro yang berada di restoran “Mama Mia” bersama para intelektual Indonesia—tokoh-tokoh yang disebut dengan identitas sosial dan akademis mereka.
Coro itu merasa dibawa keluar dari “dunia tahi, kencing, kotoran dan macet” menuju dunia gemerlap, berwarna, dan penuh wacana. Ia memuja Darmanto sebagai “messiah” yang memimpinnya dari “negeri coro ke pizza”.
Namun seiring waktu, ia menyaksikan:
- Intelektual yang saling memuji diri.
- Plakat “pacifist” yang justru bernada sinis tentang perang atom.
- Nyanyian dan ucapan vulgar yang mencerminkan ironi moral.
Coro itu sempat percaya bahwa demokrasi mungkin terjadi—“coro sama derajat dengan manusia.” Ia naik ke meja makan sebagai simbol kesetaraan.
Tetapi klimaks terjadi ketika tangan besar Umar Kayam (dalam teks puisi) hendak menghancurkannya. Ia memilih menjadi “martir”, ingin membuktikan kemungkinan demokrasi, meskipun akhirnya harus mati.
Puisi ditutup dengan nada tragikomik: coro yang siap mampus, mengucap selamat tinggal dalam berbagai bahasa.
Makna Tersirat
Puisi ini sangat tajam dan kompleks:
- Coro melambangkan rakyat kecil, kaum marjinal, atau individu yang dianggap hina.
- Restoran pizza melambangkan modernitas, globalisasi, dan elitisme intelektual.
- Demokrasi yang didengungkan ternyata semu—hanya berlaku sesama elit, tidak untuk “coro”.
- Puisi ini menyindir bahwa kaum intelektual yang mengaku demokrat belum tentu benar-benar menerima kesetaraan.
Coro yang ingin menjadi martir adalah simbol idealisme yang dihancurkan oleh realitas kekuasaan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini berlapis:
- Satiris dan jenaka.
- Ironis.
- Absurd.
- Getir menjelang akhir.
Ada humor, bahasa campur-campur (Indonesia, Inggris, Jerman), dan gaya teatrikal. Namun di balik kelucuan itu tersembunyi kepedihan dan kekecewaan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditarik dari puisi ini antara lain:
- Demokrasi sejati menuntut kesetaraan yang nyata, bukan sekadar wacana.
- Kaum intelektual harus bercermin pada tindakan, bukan hanya kata-kata.
- Jangan meremehkan makhluk atau manusia kecil.
- Idealisme tanpa konsistensi adalah kemunafikan.
Puisi ini mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak diukur dari status akademik, tetapi dari sikap terhadap yang lemah.
Puisi “Coro Lu! Maki Chef Itu pada Sang Coro” karya Darmanto Jatman adalah satire sosial yang cerdas, lucu, dan menyengat. Melalui sudut pandang seekor coro, penyair membongkar kemunafikan demokrasi dan kepalsuan kesetaraan di kalangan elit intelektual.
Puisi ini memperlihatkan bahwa dalam dunia yang mengaku modern dan demokratis, makhluk kecil tetap saja bisa dihancurkan. Dan mungkin, justru dari suara coro itulah kritik paling jujur tentang kemanusiaan terdengar.
Karya: Darmanto Jatman
Biodata Darmanto Jatman:
- Darmanto Jatman lahir pada tanggal 16 Agustus 1942 di Jakarta.
- Darmanto Jatman meninggal dunia pada tanggal 13 Januari 2018 (pada usia 75) di Semarang, Jawa Tengah.