Dari Besakih
gunung dari semua gunung
bersidekap agung
ketika di langit hanya biru
hanya sunyi yang satu
jauh di bawah lambaian kelapa
dan jauh laut tertawa
dan dekat hanya hati kita
mendegup-degupkan duka
ketika harum rumput mengalun
ketika bumi mengigau
dengan beribu hijau
ketika burung-burung gugur dari kepaknya
dan masih mengepak langit
ketika bunga-bunga luruh dari wanginya
dan masih semerbak ke langit
ketika semua yang cerai-berai di bumi
disatukan oleh langit
oleh biru yang satu
oleh rindu
1970
Analisis Puisi:
Puisi “Dari Besakih” karya Sanento Juliman menghadirkan lanskap alam yang agung sekaligus refleksi batin yang mendalam. Dengan latar spiritual dan geografis Besakih—yang identik dengan kawasan suci di kaki Gunung Agung—puisi ini memadukan keheningan kosmis, duka personal, dan kerinduan yang menyatukan.
Sanento Juliman dikenal sebagai penyair yang memiliki sensitivitas visual dan reflektif, dan puisi ini memperlihatkan bagaimana alam bukan sekadar latar, melainkan medium penyatuan antara bumi dan langit, antara manusia dan makna terdalamnya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesatuan dalam kerinduan dan spiritualitas alam. Gunung, langit, laut, dan bumi menjadi simbol hubungan antara yang fana dan yang abadi.
Selain itu, terdapat tema tentang duka dan kerinduan yang menemukan penyatuannya dalam dimensi yang lebih tinggi. Langit dan “biru yang satu” menjadi simbol keutuhan yang melampaui perpisahan di bumi.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin yang terjadi di tengah lanskap alam Besakih. Gunung digambarkan sebagai “gunung dari semua gunung”, bersidekap agung di bawah langit biru yang sunyi. Di bawahnya, laut tertawa dan kelapa melambai, sementara hati manusia justru “mendegup-degupkan duka.”
Ada kontras antara ketenangan alam dan kegelisahan batin. Namun pada bagian akhir, segala yang “cerai-berai di bumi” disatukan oleh langit. Rindu menjadi kekuatan pemersatu yang melampaui keterpisahan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa di balik perpecahan dan duka manusia, ada kesatuan yang lebih tinggi. Langit menjadi simbol transcendensi—sesuatu yang memayungi, menyatukan, dan menenangkan.
Baris:
“ketika semua yang cerai-berai di bumi / disatukan oleh langit”
menyiratkan bahwa keretakan hidup manusia bukanlah akhir. Ada dimensi spiritual yang mampu merangkul dan menyatukan kembali yang tercerai.
Rindu dalam puisi ini bukan hanya kerinduan personal, melainkan kerinduan eksistensial—keinginan untuk kembali pada keutuhan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini tenang, sakral, dan kontemplatif. Keheningan langit biru dan kebesaran gunung menciptakan nuansa agung dan spiritual. Meski ada duka, suasana tidak gelap; justru terasa damai dan mendalam.
Ada semacam ketenangan yang lahir dari penerimaan dan penyatuan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini dapat dimaknai sebagai ajakan untuk melihat kehidupan dalam perspektif yang lebih luas. Duka dan perpisahan adalah bagian dari pengalaman manusia, tetapi ada kekuatan yang menyatukan—baik itu cinta, rindu, atau kesadaran spiritual.
Puisi ini juga mengajarkan bahwa alam dapat menjadi cermin dan penuntun bagi batin manusia. Dalam kebesaran gunung dan keluasaan langit, manusia dapat menemukan makna dan ketenangan.
Puisi “Dari Besakih” karya Sanento Juliman merupakan perenungan spiritual tentang kesatuan di tengah keterpisahan. Puisi ini menghadirkan pengalaman batin yang hening sekaligus agung.
Karya: Sanento Juliman
Biodata Sanento Juliman:
- Ejaan yang Disempurnakan: Sanento Yuliman.
- Sanento Juliman lahir di Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah pada tanggal 14 Juli 1941.
- Sanento Juliman meninggal dunia di Bandung pada tanggal 14 Juli 1992.
