Datang
kalau aku membuka mata sekali ini, tahunku telah pergi
bumi jadi lain rupa
kami pejalan panjang yang menemukan hati di tiap jalan
tapi mengapa di balik kebanggaan, dunia masih tersusuk di kegelapan
jika masih jua kepayahan ditahan fajar ini
adakah harapan di musim begini asri
kalaupun tahan berhari akan pergi, pergilah
karena memang tahun-tahun punya cerita derita dan kebanggaan
kalau aku membuka mata sekali ini, tahunku akan kembali
bumi jadi seperti hati
merah mendarahi seluruh bumi
oi, tahun yang datang dan pergi, bagiku cuma satu dalam hati.
Sumber: Gugur Merah (Merakesumba, 2008)
Analisis Puisi:
Puisi “Datang” karya F.L. Risakotta merupakan sajak reflektif tentang waktu, perubahan, dan pergulatan batin manusia dalam menghadapi pergantian tahun. Dengan bahasa yang padat dan simbolik, puisi ini memperlihatkan bagaimana perjalanan waktu tidak sekadar peristiwa kronologis, melainkan pengalaman emosional yang menyimpan derita sekaligus kebanggaan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah waktu dan perubahan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema harapan, perjuangan, serta refleksi atas perjalanan hidup yang terus berulang dari tahun ke tahun. Waktu digambarkan sebagai sesuatu yang datang dan pergi, tetapi tetap menyatu dalam hati manusia.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merenungkan pergantian tahun. Ketika ia “membuka mata”, tahun telah pergi dan bumi tampak berubah rupa. Ia dan sesamanya digambarkan sebagai “pejalan panjang” yang menemukan makna di setiap jalan.
Namun, di balik kebanggaan perjalanan itu, dunia masih diselimuti kegelapan. Ada kepayahan yang belum sepenuhnya sirna, meskipun fajar telah tiba. Pergantian tahun tidak otomatis menghapus penderitaan.
Pada bagian akhir, penyair menyatakan bahwa tahun yang datang dan pergi sesungguhnya menyatu dalam hati—menjadi pengalaman batin yang tak terpisahkan.
Makna Tersirat
Puisi ini menunjukkan bahwa waktu tidak pernah benar-benar hilang atau kembali secara utuh. Pergantian tahun hanyalah simbol dari perubahan, sementara pengalaman hidup tetap melekat dalam diri.
Ungkapan “bumi jadi seperti hati / merah mendarahi seluruh bumi” menyiratkan bahwa dunia adalah cerminan kondisi batin manusia. Merah dapat dimaknai sebagai semangat, keberanian, atau bahkan luka.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa harapan selalu hadir, tetapi tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa hidup memuat derita dan kebanggaan sekaligus.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini kontemplatif dan reflektif. Ada nuansa getir ketika dunia disebut “tersusuk di kegelapan”, tetapi juga ada harapan dalam penyebutan fajar dan musim yang asri.
Perasaan yang muncul bukan keputusasaan mutlak, melainkan kesadaran realistis tentang siklus kehidupan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat puisi ini adalah agar manusia menerima perjalanan waktu dengan kesadaran penuh. Tahun-tahun memang datang dan pergi, membawa cerita derita maupun kebanggaan.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa harapan harus tetap dipelihara, meskipun dunia belum sepenuhnya bebas dari kegelapan. Waktu tidak hanya diukur dengan kalender, tetapi dengan kedalaman pengalaman di hati.
Puisi “Datang” karya F.L. Risakotta adalah renungan mendalam tentang waktu dan perjalanan hidup. Pergantian tahun tidak sekadar peristiwa rutin, tetapi momentum untuk memahami bahwa setiap masa menyimpan cerita.
Penyair menegaskan bahwa tahun yang datang dan pergi pada akhirnya menyatu dalam hati—menjadi pengalaman batin yang membentuk diri manusia.
Karya: F.L. Risakotta