Puisi: Di Bukit (Karya Adri Darmadji Woko)

Puisi “Di Bukit” karya Adri Darmadji Woko bercerita tentang seseorang yang ingin berlari di perbukitan, merayap di antara gerumbul, untuk menemukan ..
Di Bukit

Aku ingin berlari perbukitan itu, merayap antara gerum-
bul, menemukan dirimu mereguk air danau.
Lamat-lamat pepohonan itu bergerak dan asap putih ke
angkasa, rumah petani atau pemburu?
Boleh jadi itu dirimu yang berusaha menangkap udara se-
belum tergelincir ke dasar jurang.

1975

Sumber: Horison (April, 1977)

Analisis Puisi:

Puisi “Di Bukit” karya Adri Darmadji Woko adalah sajak pendek yang memadukan lanskap alam dengan pencarian batin. Dalam larik-larik yang ringkas, penyair menghadirkan perbukitan, danau, pepohonan, asap putih, hingga jurang sebagai latar pencarian seseorang terhadap “dirimu”. Puisi ini terasa kontemplatif, seolah perjalanan fisik di alam sekaligus perjalanan batin yang penuh kemungkinan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian dan kerinduan dalam lanskap alam. Tema pendukungnya meliputi:
  • Hubungan manusia dengan alam.
  • Harapan dan kecemasan.
  • Kemungkinan kehilangan.
  • Upaya menyelamatkan atau menemukan sesuatu yang berharga.
Puisi ini memusatkan perhatian pada gerak “aku” yang ingin berlari dan menemukan “dirimu” di tengah perbukitan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang ingin berlari di perbukitan, merayap di antara gerumbul, untuk menemukan seseorang yang sedang mereguk air danau. Ada jarak dan ketidakpastian: ia hanya membayangkan atau menduga keberadaan sosok tersebut.

Di tengah lanskap itu, pepohonan bergerak perlahan, dan asap putih membumbung ke angkasa—menimbulkan pertanyaan: apakah itu rumah petani atau pemburu?

Di akhir puisi, muncul gambaran dramatis:

“Boleh jadi itu dirimu yang berusaha menangkap udara sebelum tergelincir ke dasar jurang.”

Baris ini menghadirkan ketegangan—seolah “dirimu” berada dalam situasi genting, hampir jatuh, hampir kehilangan napas. Pencarian berubah menjadi kekhawatiran.

Makna Tersirat

Makna Tersirat dalam puisi ini dapat dibaca dalam beberapa lapisan:
  • Perbukitan sebagai perjalanan hidup. Bukit melambangkan perjalanan yang tidak datar—ada tanjakan, turunan, dan risiko.
  • Danau sebagai ketenangan. Sosok “dirimu” yang mereguk air danau bisa melambangkan kebutuhan akan ketenangan atau pemulihan.
  • Asap putih. Bisa menjadi simbol kehidupan (rumah, dapur, aktivitas manusia) atau tanda keberadaan yang samar.
  • Jurang. Jurang melambangkan bahaya, kehilangan, atau kejatuhan dalam hidup.
  • Menangkap udara. Simbol perjuangan untuk bertahan, mencari napas di tengah ancaman.
Puisi ini menyiratkan bahwa pencarian terhadap seseorang (atau terhadap diri sendiri) selalu disertai kemungkinan kehilangan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa:
  • Hening.
  • Kontemplatif.
  • Sedikit tegang.
  • Penuh kerinduan dan kecemasan.
Awalnya terasa tenang dengan gambaran alam, tetapi berubah menjadi cemas ketika muncul bayangan jurang dan usaha menangkap udara.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Beberapa amanat yang dapat ditangkap:
  • Perjalanan hidup membutuhkan keberanian untuk mencari dan menemukan.
  • Dalam setiap pencarian, ada risiko yang harus disadari.
  • Hubungan dengan sesama manusia sering kali diwarnai jarak dan kekhawatiran.
  • Alam dapat menjadi cermin dari kondisi batin manusia.
Puisi “Di Bukit” karya Adri Darmadji Woko adalah sajak kontemplatif tentang pencarian dan kemungkinan kehilangan. Lanskap alam yang dihadirkan bukan sekadar latar, melainkan simbol perjalanan batin.

Penyair memperlihatkan bahwa dalam setiap usaha menemukan seseorang—atau mungkin menemukan diri sendiri—selalu ada ketegangan antara harapan dan jurang yang menganga. Alam dan batin berpadu, menghadirkan puisi yang tenang di permukaan, namun menyimpan kegelisahan di dalamnya.

Puisi: Di Bukit
Puisi: Di Bukit
Karya: Adri Darmadji Woko

Biodata Adri Darmadji Woko:
  • Adri Darmadji Woko lahir pada tanggal 28 Juni 1951 di Yogyakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.